She Is My Sweet Wife 02 (The Series)

She Is My Sweet Wife 02 (The Series)
Acara pelelangan part 03



Situasi saat ini hening, tidak ada pergerakan apapun, karena sang pembawa acara tadi sudah memberikan informasi jika helikopter akan segera di kirim oleh tuan Xavier. Sehingga lelaki yang bisa di bilang sebagai perampok itu hanya duduk diam menunggu.


Alvin hanya diam tenang tidak melakukan apa-apa, matanya hanya mengamati pergerakan Mario. Baginya tidak ada yang lebih penting dari hal itu.


Lelaki yang memakai topeng dan sedang mengamati formula blue tersebut, sekilas melihat ke arah Alvin. Alvin yang begitu tenang seakan tak merasa takut sedikitpun, menggelitik rasa penasaran lelaki bertopeng itu.


Kemudian dia mendekati Alvin sambil memegang pistolnya, matanya menyipit untuk mempertajam penglihatannya, lelaki bertopeng itu sangat penasaran dengan Alvin. Situasi seperti ini kenapa dia bisa begitu tenang? Siapa dia sebenarnya? Begitulah kira-kira yang ada di kepala lelaki bertopeng itu.


"Buka topeng kamu!!" Ucap lelaki bertopeng itu sambil mengacungkan senjata ke arah Alvin.


Dengan santainya Alvin membuka topeng penutup mukanya, lelaki bertopeng yang ada di hadapannya terperanjat hingga mundur 2 langkah ke belakang.


"Kamu!! Kamu, ketua mafia dunia?" Teriak lelaki bertopeng itu.


Alvin hanya tersenyum miring seakan mengejek lelaki yang ada di depannya. Semua yang berkumpul di tempat Aula tersebut melihat ke arah Alvin, mereka semua juga sama terkejutnya dengan lelaki bertopeng yang menyuruh Alvin untuk membuka penutup wajahnya tadi.


Semua orang seakan-akan berbisik, dan saling pandang satu sama lain, Apa yang sedang dilakukan ketua mafia dunia di tempat pelelangan seperti ini? Begitulah yang mereka semua pikirkan saat ini.


"Kenapa? Terkejut? Atau takut?" Tanya Alvin dengan begitu tenang.


Rangga dan Tania terlihat sedikit terkejut dengan kejadian itu, mereka takut jika Alvin kenapa-kenapa akibat ulah lelaki bertopeng yang ada di hadapan Alvin.


'Bagaimana kalau dia benar-benar menembak Al.' Batin Rangga. Sedikit takut akan sesuatu yang menimpa Alvin nantinya.


"Ha-ha-ha, kebetulan sekali bisa bertemu dengan ketua mafia dunia di gedung pelelangan seperti ini." Ucap lelaki itu sambil mengacungkan senjata apinya ke arah dagu Alvin. "Seorang ketua mafia dunia ada di sini, apakah sedang mencari sesuatu di gedung pelelangan ini? Karena yang aku tahu organisasi Perlindungan tidak akan keluar dari sarangnya hanya untuk masalah yang sepele. Apalagi ini sang ketua langsung yang memimpin dan keluar dari sarangnya." Ucap laki-laki itu.


"Apa kamu mau tahu apa yang sedang aku cari?" Sarkas Alvin. "Yang aku cari adalah orang yang akan membawa keluar formula blue hidup-hidup dari gedung pelelangan ini." Ucap Alvin sedikit memajukan tubuhnya dan berkata tepat di depan lelaki itu.


"Karena tidak akan aku biarkan siapapun mencuri barang milikku, apalagi sampai menjualnya bebas di tempat lelang murahan seperti ini." Ucap Alvin kembali.


"Buuggg." Sebuah pukulan di tengkuk Alvin dari belakang membuat Alvin terhuyung ke depan beberapa langkah. namun dengan segera Alvin menyeimbangkan tubuhnya.


Lelaki itu kembali terperanjat, tidak menyangka Alvin dengan terang-terangan sedang mengancamnya. Bahkan di bawah todongan senjata api, tidak tergambar ketakutan sama sekali di wajah Alvin.


"Baj*ng*n, berani-beraninya mengancamku." Ucap lelaki itu, walaupun dia sangat ketakutan kali ini, namun sebisa mungkin dia menyembunyikan hal itu.


"Buuggg!!" Lelaki itu memukul perut Alvin dengan tinjuannya.


Rangga yang akan maju untuk menolong Alvin, mengurungkan niatnya, karena melihat kode dari Alvin untuk tidak melakukannya.


Semua yang ada di ruangan itu terkejut saat melihat situasi seperti ini, termasuk Mario yang tidak menyangka jika ketua mafia akan diam saja di perlakukan seperti itu, seorang lelaki bertopeng dengan sangat berani melakukan pemukulan terhadap sang ketua mafia dunia.


Namun Mario juga tidak menyangka keberanian Alvin (Mario berpikir jika itu adalah Davin) begitu besar walaupun nyawanya sudah diujung tanduk, tapi tidak terlihat sedikitpun raut wajah ketakutan di sana. Padahal dengan sekali tembak bisa saja Alvin tidak akan selamat.


"Hahaha, segini saja kemampuan ketua mafia dunia yang terkenal kekejamannya itu? Sungguh sangat tidak bisa di percaya." Ucap lelaki itu.


Alvin hanya tersenyum tidak terprovokasi sama sekali dengan ejekan lelaki itu, namun pandangan matanya sekilas melihat ke arah sekerumunan orang yang ada di tengah Aula.


Alvin ingin memastikan jika Mario masih ada di tempat itu, dan tidak kabur seperti kejadian tujuh tahun lalu.


"Aku hanya menginginkan, siapapun yang berusaha mencuri formula blue dariku maka dia harus mati di tanganku." Ucap Alvin


"Haha, benarkah itu? Bagaimana jika kamu yang mati duluan di tanganku saat ini? Apa mungkin kamu bisa mengancamku? Dan menghabisiku?" Ucap lelaki itu dengan tawanya meremehkan Alvin.


'Bagus, dengan begini aku tidak perlu susah payah menghabisi Dave dengan tanganku sendiri.' Batin Mario yang terlihat senang dengan situasi tersebut.


"Kamu bisa mencobanya, apakah aku atau kamu yang bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini?" Ucap Alvin dengan senyum misteriusnya.


Semua yang ada di dalam gedung itu bertanya-tanya, apa yang sedang di rencanakan ketua mafia dunia ini? Dan sedang apa dia di dalam acara lelang seperti ini? Tapi tidak mungkin kan seorang ketua mafia dunia kemari tanpa ada persiapan sebelumnya? Beberapa pertanyaan mengisi kepala mereka yang sedang menyaksikan pertunjukan gratis tersebut.


Senyum Alvin sebagai pertanda jika ini akan terjadi baku tembak di dalam gedung pelelangan tersebut, lelaki di depan Alvin terlihat panik, mendengar suara tembakan yang semakin sering dan begitu banyak.


Bahkan semakin mendekat dan nyaring di telinga siapa saja yang ada di dalam gedung, Mario pun terlihat mulai panik, dan dia sedang mencari cara untuk kabur. Namun Rangga yang melihat gelagat itu, langsung berpindah posisi di dekat Mario dan menjaganya supaya tidak kabur.


"Dor dor dor!!" Terdengar suara tembakan dari arah pintu masuk gedung tersebut. Sehingga para penjaga yang bertugas jatuh terkapar di lantai.


Semua yang di dalam gedung berhamburan tak tentu arah, mereka bersembunyi untuk menyelematkan nyawa mereka masing-masing, mereka tidak ingin mati konyol di tempat ini.


Lelaki yang mengacungkan senjata kepada Alvin terkejut bukan main, dalam hitungan detik, pasukan yang di pimpin oleh Sean telah memasuki ruangan tersebut. Bahkan jumlahnya tiga kali lipat dari jumlah anak buah yang di pimpin perampok tersebut. belum sempat anak buah lelaki itu melakukan perlawanan, mereka sudah lebih dulu terkepung.


"Maaf terlambat tuan." Ucap Sean.


Lelaki yang tadi sedang mengancam Alvin kini sudah di kepung oleh anak buah Alvin. Bahkan situasi saat ini sangatlah kacau, orang-orang yang tadi bersembunyi di tarik kembali oleh anak buah Alvin supaya berkumpul kembali.


"Berikan senjatamu padaku." Ucap Alvin meminta senjata dari tangan Sean.


Dengan segera Sean memberikan senjata api yang di minta oleh Alvin, kemudian mendekati lelaki yang dengan beraninya memukul bahkan mengancamnya.


Laki-laki itu terlihat sangat pucat pasi karena ketakutan yang luar biasa, aura membunuh keluar dari wajah Alvin yang dingin dan tanpa ekspresi itu.


"Kamu menginginkan formula blue, bukan?" Ucap Alvin. Namun lelaki itu tidak berani menjawabnya, bahkan kakinya gemetar ketika mendengar pertanyaan Alvin. Karena pertanyaan itu mengandung suatu ancaman baginya.


"Sean, siapkan satu dosis untuk lelaki ini." Ucap Alvin.


"Baik tuan."


Semua yang ada di ruangan itu yang rata-rata ketua organisasi mafia, saling pandang satu sama lain, ingin mengetahui apa yang akan di lakukan oleh Alvin pada lelaki itu. Apakah nasib lelaki itu akan baik-baik saja saat ini? setelah tadi dengan berani memukul dan mengancam ketua mafia dunia.


Dengan segera Sean mengambil sebuah kotak berwarna putih, dengan menggunakan kode angka di sana. Terlihat Sean sedang menyuntikkan sesuatu pada sebuah botol cairan kecil untuk mengambil dosis obat yang tadi di minta oleh Alvin.


"Ini Tuan." Ucap Sean setelah selesai melakukan pengambilan dosis.


"Pegang dia."


Dengan sigap bodyguard yang ada di belakang lelaki itu mencengkram bahunya dengan kuat sehingga lelaki itu tidak bisa berkutik.


"A-ampun tuan, ku mohon jangan lakukan ini." Ucapnya dengan nada yang bergetar.


"Cuih, apa kamu pikir aku sebaik itu?"


Tanpa basa basi lagi Alvin menyuntikkan formula blue ke lengan lelaki itu, sehingga erangan kesakitan terdengar menggema di sana.


"Lepaskan dia." Perintah Alvin.


Lelaki itupun tergeletak lemas ke lantai, hingga akhirnya dia pingsan.


Bodyguard itu pun melepaskan cengkraman di bahu orang itu, kemudian Alvin meninggalkan lelaki itu, kemudian Alvin mengedarkan pandangannya ke arah kumpulan orang yang dari tadi memperhatikan apa yang di lakukannya.


Alvin tidak banyak bicara lagi, dia memberikan kode pada Rangga dan Tania untuk melakukan tugasnya sekarang. Rangga yang paham akan hal itu, langsung meminta sesuatu yang ada di dalam tas kecil milik Tania dan kemudian menyuntikkannya pada Mario.


"Aku tidak ada masalah dengan kalian, jadi kalian boleh keluar sekarang." Ucap Alvin dengan kerasnya supaya mereka mendengar.


Semua berebut untuk keluar gedung, untuk menyelamatkan diri dari amukan Alvin saat ini, sebelumnya Alvin berubah pikiran nantinya.


Karena Mario telah pingsan akibat obat bius yang di suntikkan oleh Rangga, para anak buah Alvin yang telah bersiaga membawanya untuk masuk ke dalam sebuah mobil. Jangan di tanya kemana anak buah Mario, karena sebelum memasuki gedung, Sean dan para anak buahnya telah melumpuhkan mereka semua.


Bersambung.