
Di tempat yang berbeda, Davin dan Jojo sudah berada di lokasi dimana Bryan sedang di sekap oleh Mario, sebuah rumah mewah yang berada di sebuah tempat terpencil dan jauh dari perkotaan membuat akses menuju ke tempat tersebut agak sedikit sulit. Di tambah lagi jalanan yang memang menanjak membuat perjalanan mereka terasa sangat panjang.
"Begitu banyak pengawal yang di tempatkan di rumah itu, apa kita harus langsung menerobos masuk saja Dave?" Tanya Jojo.
"Lebih cepat lebih baik, tapi aku akan masuk duluan dan memastikan jika Bryan dalam kondisi yang aman." Ucap Bryan.
"Jangan!! Biar aku saja," Ucap Jojo mencegah Davin untuk masuk terlebih dahulu. "Sepertinya mereka lebih mengenalmu, dan tidak mengenali siapa aku, jadi biar aku saja yang masuk."
"Huft, baiklah." Ucap Davin. "Setengah jam ga ada kabar, aku langsung menerobos pintu depan." Ucap Davin.
"Ok."
Jojo berlari ke arah dimana pengawal tidak begitu ramai, dengan begitu akan lebih mudah melumpuhkannya. Setelah menemukan sebuah tempat yang aman untuk Jojo mengendap masuk, kini Jojo pun bersiap untuk melompati pagar.
Akhirnya Jojo pun melompat ke sebuah pagar yang tidak terlihat oleh para anak buah Mario yang sedang bersiaga di sekitar rumahnya. Dengan jalan yang mengendap-endap, akhirnya Jojo berhasil masuk ke dalam rumah besar tersebut.
'Sial!! Di dalam begitu banyak anak buah Mario yang berjaga-jaga. Bagaimana caraku bisa masuk dan mencari Bryan?' Batin Jojo.
Dengan mengintip dari balik jendela kaca di luar, kini Jojo dapat melihat Bryan yang sedang berbaring di ranjang king size tersebut, karena memang hari ini sudah malam.
Jojo juga melihat begitu banyak mainan yang berserakan di dalam kamar tersebut. Mulai dari robot-robotan, mobil-mobilan, dan bahkan mainan yang lain pun begitu banyak dan terlihat masih baru.
"Syukurlah jika Bryan baik-baik saja, aku sudah sangat khawatir jika Bryan sampai di apa-apain sama Mario. Mengingat Mario adalah orang yang paling kejam, dan sangat tega." Gumam Jojo. "Aku harus cari cara supaya aku bisa masuk ke dalam kamar Bryan di sekap." Gumam Jojo.
Jojo menemukan sebuah cara yaitu melumpuhkan seorang penjaga dan memakai seragam yang di kenakannya untuk menipu penjaga yang lain. Kemudian Jojo dengan leluasa masuk ke dalam rumah besar itu dan membawa Bryan keluar.
Karena Bryan yang masih tertidur, maka Jojo bersiap akan membopongnya, dengan hati-hati tangan Jojo bersiap untuk mengangkat tubuh Bryan, Namun sialnya belum sempat Jojo keluar dari kamar Bryan di sekap, seorang anak buah Mario masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Hey!! Mau di bawa kemana bocah kecil itu?" Teriak orang yang barusan masuk ke dalam kamar.
Degg!!
'Sial!! Kenapa dia masuk di saat yang tidak tepat begini.' Batin Jojo yang masih menunduk untuk mengangkat tubuh Bryan. Tanpa berpikir panjang Jojo langsung mendekap tubuh kecil Bryan untuk berada di dalam pelukannya.
Mendengar ucapan dari orang barusan, Bryan pun terbangun dan melihat siapa orang yang ada di hadapannya saat ini.
"Paman?? Ini beneran paman yang datang? Paman aku ingin pulang paman, rindu dengan Papa dan Mama." Ucap Bryan girang bukan main karena melihat Jojo.
"Kurang ajar!! Turunkan bocah itu, atau aku akan menghabisi kalian berdua di tempat ini." Ucap lelaki anak buah Mario sambil mengacungkan senjata api untuk mengancam Jojo.
Jojo menghela nafas panjangnya, lalu melihat ke arah Bryan yang terlihat gemetar ketakutan karena ancaman anak buah Mario. Lalu Jojo tersenyum ke arah Jojo.
"Bryan kan laki-laki, seorang laki-laki tidak boleh takut, apa lagi takut dengan preman begituan," Ucap Jojo berusaha menenangkan Bryan. Sambil menunjuk ke arah anak buah Mario. "Karena sekarang waktunya tidak tepat, dan Bryan masih kecil, jadi biarkan om Jojo yang melindungi kamu, nah anak baik sebaiknya sekarang bersembunyilah di bawah ranjang dan tutup mata dan telinga kamu ya, sebelum om Jojo atau papa Dave datang, kamu jangan keluar dulu." Ucap Jojo merayu Bryan supaya mau menuruti perintahnya.
"Iya Om, oom harus bisa kalahin mereka ya." Ucap Bryan
"Siap kapten." Ucap Jojo lalu mengangkat tubuh Bryan supaya turun dari ranjang dan bersembunyi di bawah kolong ranjang.
Setelah memastikan jika Bryan telah aman bersembunyi, Jojo pun melihat ke arah lelaki yang tadi mengacungkan senjata api.
"Bagiamana bisa kamu mengacungkan senjata pada orang sepertiku yang tidak membawa senjata apapun, kalau kamu memang laki-laki, maka lawanlah aku tanpa senjata." Ucap Jojo.
"Hahaha, ternyata kamu meremehkan kemampuanku sobat, baiklah akan aku kabulkan permintaanmu sebelum ajal menjemputmu." Ucap lelaki itu. Yang kemudian menyelipkan senjata api di balik jas yang dia kenakan.
Jojo menyeringai senyuman penuh arti, seolah ini adalah kesempatan yang akan bisa mengulur waktu sampai Davin masuk ke dalam rumah itu, setengah jam bukanlah waktu yang lama.
Lelaki itu sudah bersiap dengan kuda-kuda, begitu juga dengan Jojo, seolah meremehkan Jojo, lelaki itu memulai jurus pertamanya dengan melayangkan tinjuan kearah muka Jojo, namun Jojo masih bisa mengelak.
Lalu lelaki itu berusaha melakukan tendangan ke arah Jojo, mulai tendangan langsung sampai memutar, namun Jojo masih bisa mengelak dengan mudah, bahkan Jojo belum melakukan serangan balik kepada lelaki itu.
"Hanya segitu kah kemampuanmu?" Tanya Jojo dengan senyuman meremehkan lelaki itu.
"Brengsek!!" Teriak lelaki itu dengan penuh amarah karena merasa di remehkan oleh Jojo.
Kemudian lelaki itu kembali melakukan serangan mulai dengan tinjuan dan tendangan meluncur ke segala arah, karena Jojo dengan mudah mengelak. Merasa ada kesempatan dan tidak ingin lama-lama melakukan permainan tersebut. Maka Jojo melakukan tendangan ke arah perut lelaki itu. Dan tepat mengenai ulu hatinya, sehingga lelaki itu jatuh terpental mendekati pintu kamar.
Sehingga membuat lelaki itu tidak bisa bangun, bahkan semakin meringis menahan kesakitan di dada dan juga ulu hatinya. Tatapan lelaki itu seakan tidak terima atas perlakuan Jojo.
"Lumayan juga bela diri kamu, tapi sayang aku tidak punya waktu untuk meladeni permainanmu lagi." Ucap Jojo yang masih menginjakkan kakinya di dada lelaki itu.
"Cuih, kamu lihat saja, kamu tidak akan mudah keluar dari sini hidup-hidup, karena penjaga di luar akan membunuhmu dan juga bocah kecil itu." Ucap lelaki itu dengan nada ancaman.
"Oh ya!! Kita lihat saja nanti." Ucap Jojo, Kemudian dengan cepat Jojo menyeret tubuh gempal lelaki itu menuju ke arah dekat ranjang dan menarik sebuah tirai jendela untuk mengikat lelaki itu.
Setelah merasa jika lelaki itu terikat dengan kuat dan menyumpal mulutnya dengan sebuah kain. Maka Jojo mengambil senjata api di balik jas lelaki itu.
"Bryan!! Keluarlah sayang, ayo kita ke tempat Papa." Panggil Jojo.
"Iya Om." Jawab Bryan, lalu Bryan keluar dari bawah kolong ranjang dan berlari ke arah Jojo.
Jojo merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan Bryan, dengan senyum bahagianya. Setelah itu Jojo menggendong tubuh Bryan untuk keluar dari kamar tersebut melalui jendela.
Jojo memberikan isyarat kepada Bryan untuk tidak bersuara, dan memberikan pengertian kepadanya agar tidak banyak bertanya yang dapat memicu datangnya musuh.
"Kita akan lewat dari sini sayang, supaya tidak ada lagi yang mengganggu kita, sebaiknya Bryan tetap diam dalam pelukan om Jojo, mengerti?"
"Iya om."
Kemudian Bryan membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Jojo. Baru beberapa langkah Jojo keluar dari jendelanya ternyata nasibnya begitu sial karena bertemu dengan anak buah Mario.
"Hey!! Berhenti!!" Ucap lelaki itu.
Seketika Jojo menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara, karena jika Jojo terus melanjutkan langkahnya, Jojo khawatir akan membahayakan nyawa Bryan ataupun nyawanya sendiri.
"Oh shit!!" Umpat Jojo lirih.
Anak buah Mario menghampiri Jojo yang masih menggendong Bryan. Sambil mengacungkan senjata api ke arah mereka. Bryan melihat ke wajah Jojo.
"Om." Panggil Bryan.
"Ingat, laki-laki tidak boleh takut, ok Bryan?" Ucap Jojo kemudian menurunkan Bryan dan menyuruhnya bersembunyi di belakang badan Jojo.
"Mau kamu bawa kemana bocah itu?"
"Apa kamu tidak lihat jika aku datang untuk menjemputnya." Ucap Jojo dengan tenang.
"Dor!!" Lelaki itu mengarahkan tembakan ke udara sebagai peringatan.
"Serahkan bocah itu padaku, atau aku akan menembaknya." Ucap lelaki itu.
Entah dari mana asalnya, para penjaga telah datang dan mengepung Jojo dan juga Bryan, sehingga membuat Bryan ketakutan.
Jojo menghela nafas panjangnya, kemudian Jojo menarik tangan kecil Bryan supaya maju ke depannya. Walaupun Bryan sangat ketakutan, Bryan tetap mengikuti isyarat pamannya.
"Hey bocah!! Cepat kemari." Ucap lelaki itu yang sambil mengacungkan senjata api ke arah Jojo.
Dengan pandangan mata penuh rasa takut, perlahan Bryan maju ke arah anak buah Mario, mata Bryan melihat ke Jojo seolah meminta pertolongan.
'Brengsek si Dave, kenapa lama sekali.' Batin Jojo kesal.
"Dor dor dor!!
Suara tembakan beruntun dari arah gerbang utama membuat sebagian penjaga menoleh ke arah gerbang tersebut. Jojo tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan cepat Jojo menyambar tubuh kecil Bryan dan membawanya lari untuk bersembunyi di tempat yang aman.
"Brengsek!! Cari bocah kecil itu dan juga lelaki tadi." Teriak salah satu penjaga yang Sepertinya sebagai pemimpin.
Dengan segera mereka menyebar dan mencari Bryan dan juga Jojo, dan sebagian berlari ke gerbang depan untuk melihat apa yang sedang terjadi di depan sana.
Bersambung...