
Di sebuah hotel berbintang di Spanyol, sepasang suami istri sedang asyik menghabiskan waktu bersama. Kebahagiaan seakan sedang menghampiri mereka.
Ya benar mereka adalah Davin dan Kinan, semenjak Kinan hamil, Davin memutuskan menunggu beberapa hari lagi untuk kembali ke Indonesia, anggap saja ini sekalian liburan.
Mereka baru saja pulang dari menjenguk Alvin di rumah sakit, karena kondisi Alvin belum pulih sepenuhnya, walaupun Davin juga mengalami luka-luka ringan, namun Davin lebih memilih menemani Kinan.
"Mas, aku masih penasaran, bagaimana bisa mas mengenali wanita itu? jika itu bukan aku." Tanya Kinan, dengan mengusap rambut Davin yang berbaring di pangkuan Kinan saat ini.
"Karena tidak ada yang bisa menandingi kecantikan istriku, apalagi dia, walaupun wajah kalian sama, tapi aroma tubuh kalian berbeda." Jawab Davin. Sambil menggenggam salah satu tangan Kinan.
"Kapan mas curiga kalau itu bukan Kiki?" Tanya Kinan lagi.
"Sejak awal ketemu di rumah Mama." Ucap Davin.
"Waktu itu ada yang menelpon aku mas, dia bilang katanya Mama sakit, tapi setelah Kiki ke rumah Mama, wanita itu udah di sana, habis itu aku udah gak tahu lagi, pas bangun udah ada di sini." Ucap Kinan mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
"Sudah sayang jangan di ingat lagi, buang kenangan buruk itu, sekarang kamu harus lebih menjaga kondisi kamu saat ini, kasihan junior di dalam jika kamu banyak pikiran." Ucap Davin. Dengan merubah posisi tidurnya, dengan kepala menghadap ke arah perut Kinan.
"Hem, makasih buat semuanya mas." Ucap Kinan.
Bukannya menjawab, Davin malah mencium perut Kinan yang masih rata, karena memang kehamilannya masih memasuki Minggu ke delapan. Jadi belum terlihat.
"Aku yang seharusnya berterima kasih pada kamu sayang, karena selalu ada buat aku, menemaniku hingga sampai saat ini, Love You my sweet wife." Ucap Davin, kemudian menarik tengkuk Kinan dan mencium bibirnya.
Entah kenapa setelah mendapat ciuman dari Davin perut Kinan mual dan serasa di aduk-aduk, sehingga dengan segera Kinan berlari menuju ke kamar mandi. Davin terlihat begitu panik dengan kondisi istrinya.
Dan ini bukan untuk pertama kalinya, bahkan dua hari yang lalu juga sama, Kinan tiba-tiba muntah tanpa sebab, bahkan karena muntah yang terus menerus membuat tubuh Kinan begitu lemah.
"Sayang, apa sebaiknya kita pergi ke Dokter saja?" Ucap Davin yang sedang menemani Kinan di kamar mandi sambil memijit tengkuk Kinan.
Karena masih muntah Kinan hanya menjawab pertanyaan Davin dengan menggelengkan kepalanya, karena sesungguhnya Kinan tahu jika hal ini sudah terbiasa bagi seseorang yang sedang hamil muda.
Setelah mencuci muka dan berkumur, Kinan berusaha berdiri tegak dan menghadap ke arah suaminya. Senyum tipis terlihat di wajah Kinan.
"Mas, bisa minta tolong ambilkan aku air hangat, supaya bisa mengurangi mualnya." Ucap Kinan lirih.
"Ok ok, tunggu, tunggu sebentar." Ucap Davin yang kemudian segera bergegas menuju ke pantry dan mengambilkan air hangat permintaan Kinan.
Kinan yang masih berada di kamar mandi, terus memegangi perutnya, karena rasa mual masih terasa, walaupun semua isi dari dalam perutnya sudah keluar semua.
"Ini sayang, minumlah." Ucap Davin. Yang kemudian memberikan segelas air putih hangat pada Kinan, Davin merangkul bahu Kinan sambil membantu Kinan untuk minum.
Setelah segelas air putih hangat itu habis kandas di minum oleh Kinan, kini Davin memapah Kinan untuk menuju kembali masuk kedalam kamar.
Setelah membantu Kinan berbaring di ranjang, Davin menyelimuti tubuh Kinan. Kemudian Davin duduk di sisi ranjang di samping Kinan.
"Apa sudah merasa baikan sayang? Kalau masih mual biar aku panggil Dokter kemari." Ucap Davin.
"Setiap wanita hamil juga akan merasakan hal itu mas, jadi mas tidak perlu khawatir, ini hanya sementara." Ucap Kinan sambil mengusap punggung tangan suaminya.
Mendengar penuturan Kinan, membuat Davin tertegun, ternyata ini salah satu penyebab kenapa akhir-akhir ini Kinan sering memuntahkan makanannya.
"Maafkan aku sayang, maaf, ternyata sebegitu menderitanya kamu karena mengalami semua ini." Ucap Davin yang kemudian mengecup kening Kinan.
Kinan hanya tersenyum dengan cara suaminya mengekspresikan perasaannya, karena memang ini adalah kehamilan pertamanya, mungkin Davin belum begitu paham.
Setelah Kinan merasa baikan, dan mual itu tidak terasa lagi, maka Kinan pun tertidur. Wajah penuh kedamaian di wajah Kinan membuat Davin semakin jatuh cinta lagi dan lagi.
"Sungguh kasihan kamu sayang, setiap hari menghadapi mual dan muntah, apa yang bisa aku lakukan supaya bisa membantu mengurangi mual dan muntah yang kamu alami sayang?" Gumam Davin.
Kemudian Davin mengambil ponselnya, dia kemudian searching tentang kehamilan, bahkan Davin juga mencari informasi tentang hamil muda yang sering mengalami mual dan muntah.
Begitu juga Davin searching tentang penanganan untuk mengurangi mual dan muntah bagi ibu hamil muda, Davin terlihat serius melihat ponselnya.
"Ternyata sungguh berat sekali jika sampai mengalami itu semua, tapi kenapa waktu itu Al dan Billa tidak mengeluhkan tentang ini? Padahal mereka sudah mempunyai anak dua." Gumam Davin.
Sebenarnya Davin ingin sekali menanyakan soal itu pada Alvin, namun Davin mengurungkan niatnya, mengingat saat ini sudah larut malam. Dan mungkin saja Alvin sudah tertidur pulas saat ini.
Karena sudah mendapatkan apa yang sedang di carinya, kini Davin meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian Davin berbaring di samping sang istri, sambil memposisikan miring menghadap ke arah Kinan sambil memeluknya.
Tidak lama setelah itu, Davin sudah terbuai di alam tidur dan berdamai dengan mimpi indahnya.
***********************
Pagi hari itu Davin berusaha bangun dari tidurnya, ketika mendengar Kinan kembali mengalami mual dan muntah di kamar mandi. Kini Davin sudah paham jika saat ini Kinan sedang mengalami morning sicknes, dengan segera Davin yang baru sadar dari tidurnya itu melompat dari ranjang dan menuju ke kamar mandi.
"Sayang, apa, apa yang bisa aku lakukan untukmu?" Ucap Davin sambil memijat tengkuk Kinan supaya bisa mengurangi rasa mualnya.
"Gak pa-pa mas, mas selalu ada buat aku saja, itu udah lebih dari cukup." Ucap Kinan sambil memegang perutnya.
Davin kemudian mengusap pipi Kinan dengan lembut lalu mengecup keningnya cukup lama, Kinan yang mendapat perlakuan seperti itu langsung memeluk sang suami begitu erat.
"Makasih mas, aku jadi semakin cinta kalau mas begini terus." Ucap Kinan.
"Sudah seharusnya kamu semakin cinta denganku, karena tidak ada yang bisa lebih baik dariku, dalam hal mencintai kamu sayang." Ucap Davin membalas pelukan Kinan.
"Narsis." Ucap Kinan sambil mencubit perut Davin manja.
Bukannya marah, Davin justru mengeratkan pelukannya, sambil tertawa bahagia. Istrinya benar-benar membuat Davin seperti terhipnotis dan semakin hari semakin cinta.
Bersambung..