
Ciuman Alvin lembut dan penuh dengan cinta, sehingga Nabila pun membalas ciuman Alvin tersebut. Ciuman yang semakin dalam dan semakin membuat keduanya mabuk kepayang di pagi hari.
Seakan terbuai oleh situasi saat ini, keduanya larut dalam ciuman panas yang semakin menuntut untuk meminta lebih, dan entah kenapa Nabila justru mengikuti permainan Alvin yang semakin ganas saat ini.
"Mumpung anak-anak di luar sebaiknya kita bersenang-senang sebentar honey." Ucap Alvin dengan suara seraknya karena di kuasai oleh kabut gairah di pagi hari.
Nabila hanya mengangguk mengikuti permainan sang suami, tanpa menunggu lebih lama lagi, Alvin kembali melancarkan aksinya. Mulai dari mencium, menyesap, bahkan melumat setiap inchi dari tubuh Nabila di lakukannya.
Sehingga Nabila terhanyut dalam lautan gairah yang tak bertepi, bahkan suara lenguhan Nabila bagaikan musik yang mengiringi permainan panas mereka kali ini. Sungguh pagi ini adalah pagi yang sangat menggairahkan bagi Nabila dan Alvin.
Di luar kini Davin dan Kinan yang baru saja sampai di sambut oleh maid dan juga Baby sitter yang sedang menemani Erick dan juga Bryan.
"Mama, Papa, kemana Bryan?" Tanya Davin ketika tidak melihat Alvin dan Nabila.
"Tadi Papa habis joging mandi dulu, kalau Mama gak tahu deh kemana?" Ucap Bryan dengan polosnya.
"Ya sudah kamu lanjutkan lagi mainnya, Papa Dave mau ke ruang baca." Ucap Davin.
"Iya Pa," Jawab Bryan.
"Sayang kamu tunggu saja Nabila di sini, aku akan ke ruang baca dulu."
"Iya mas." Jawab Kinan.
Kemudian Kinan duduk di sofa sekalian melihat Bryan bermain. Sedangkan Davin berjalan menuju ke ruang baca. Karena memang Davin ingin membicarakan sesuatu dengan Alvin di ruang baca tersebut.
Tidak lama setelah kepergian Davin dari ruang tamu ini Alvin dan Nabila keluar dari kamar secara bersamaan.
"Kiki?? Sudah lama datangnya?" Tanya Nabila menghampiri Kinan.
"Belum, Baru beberapa menit sampai kok." Jawab Kinan dengan tersenyum ke arah pasangan yang baru keluar kamar.
"Ki, Dave mana?" Tanya Alvin
"Tadi dia bilang mau nunggu kamu di ruang baca." Ucap Kinan.
"Oh, ya sudah, kalian lanjutkan saja ngobrol-ngobrolnya, aku akan menemui Dave di ruang baca." Ucap Alvin.
"Hem." Jawab Kinan sambil menganggukkan kepalanya.
Nabila pun menghampiri Kinan yang kini duduk di sofa, senyum merekah di bibir Nabila saat mengelus perut Kinan yang sudah mulai membuncit.
"Ini udah masuk berapa bulan Ki?" Tanya Nabila.
"Masuk bulan ke-8," jawab Kinan.
"Wah, sebentar lagi akan lahiran dong, sudah menyiapkan nama-nama mereka belum?" Tanya Nabila antusias.
"Belum tahu, aku belum ada menyiapkan nama-nama untuk mereka." Jawab Kinan.
"Tenang Nanti aku bantu, Oh ya Ki, kamu sudah sarapan apa belum?" Tanya Nabila.
"Belum, kan aku sudah bilang ingin makan sarapan bersama kalian." Ucap Kinan dengan senyum malu-malu.
"Ha-ha-ha, keasyikan ngobrol, Aku sampai lupa menawarkan untuk sarapan, Ayuk lah Ki kita sarapan dulu." Ajak Nabila.
"Biar aku panggil mas Dave dulu." Ucap Kinan.
"Biar maid yang memanggilnya, kita sarapan dulu saja." Ucap Nabila antusias. "Kamu kan sedang hamil, kalau menunggu mas Al atau Dave pasti akan lama." Ucap Nabila.
"Hem, baiklah." Ucap Kinan.
Nabila juga memanggil Bryan untuk sarapan bersama mereka di meja makan, namun Bryan sempat merajuk karena tidak adanya Papanya dan juga Dave. Sehingga terpaksa salah satu maid memanggil kedua orang itu untuk ikut makan bersama.
Di ruang baca terlihat Davin dan Alvin terlibat pembicaraan yang serius. Apa yang dibahas oleh keduanya, yang jelas mereka sepertinya membahas persoalan Mario.
"Sekarang katakan dengan jujur Al, apa kamu menyuntikkan formula blue ke Mario? Karena melihat tanda-tanda yang ditimbulkan oleh penyakit Mario, itu merupakan tanda-tanda akibat formula blue." Ucap Davin terlihat serius. "Dan aku yakin kamu tahu soal itu."
"Huft, baiklah-baiklah, aku memang memberikan Formula blue kepada Mario saat dia masih di Bali." Ucap Alvin. "Aku tidak terima saat dia mengancamku dengan memakai nama Bryan, apalagi dia berniat untuk membunuh Bryan, bahkan dia dengan terang-terangan menculik dan menyekap Bryan." Ucap Alvin mengakui perbuatannya.
Davin mengerutkan keningnya, menatap tajam ke arah Alvin, bagaimana bisa Alvin melakukan hal tersebut, sedangkan Alvin tahu jika Mario harus di serahkan ke pada pihak kepolisian.
"Kamu terlalu berani Al, bagaimana jika polisi mengetahui tentang formula Blue yang kita miliki, Aku tidak ingin pemerintah mengambil alih laboratorium milik kita Al." Ucap Davin.
"Kamu tenang saja Dave, formula blue kita tidak akan bisa di lacak. Dan yang mereka temukan nanti hanyalah pembuluh darah yang pecah, bukan kandungan yang ada di dalamnya." Ucap Alvin.
"Iya aku tahu soal itu, tapi bagaimanapun jangan menggunakan formula blue di saat kamu ingin menyerahkan mangsamu kepada pihak kepolisian." Ucap Davin. "Akan lebih baik kita sedia payung sebelum hujan Al, dari pada kehujanan tanpa persediaan payung."
Alvin seakan mengerti akan maksud dari perkataan Dave, dan memang ada benarnya juga yang di katakan oleh Davin, kalau tidak seharusnya Alvin memberikan formula blue pada Mario.
"Huft, baiklah aku mengerti, memang seharusnya aku tidak menyuntikkan formula blue pada lelaki tua itu, melainkan formula kematian yang cocok untuk dia." Ucap Alvin seakan masih menyimpan dendamnya kepada Mario.
Degg!!
Mendengar hal itu Davin terkejut bukan main, kemudian melihat ke arah Alvin dengan tatapan seakan tidak percaya atas apa yang didengarnya saat ini.
"Hahaha, lantas kenapa kamu memberikannya formula Blue, Al? kenapa tidak kamu berikan langsung formula kematian untuknya." Ucap Davin dengan gelak tawanya yang menggema di seisi ruang baca tersebut.
"Sepertinya kamu sangat bahagia jika aku benar-benar memberikan formula kematian pada Mario, mertua kamu itu." Ucap Alvin. yang masih terlihat kesal dengan Davin.
"Tentu saja aku bahagia, Mario sudah membuat hidup istriku menderita, hidup Mama Soraya menderita, bahkan saat ini dia sudah berani menculik Bryan. Apa kamu pikir aku akan diam saja?" Tanya Davin. seakan mengejek Alvin yang sedang kesal saat ini.
"Dasar menantu durhaka kamu Dave, ha-ha-ha." Ucap Alvin kemudian. "Tapi aku suka gaya kamu."
Kedua orang itu akhirnya sama-sama tergelak tawanya, bahkan mereka berdua se akan bahagia jika Mario mati oleh tangan mereka sendiri. Ya memang benar jika Mario di biarkan hidup terlalu lama, hanya akan membuat hidup orang-orang di sekitar organisasi perlindungan terancam.
Davin dan Alvin kemudian membahas persoalan lain tentang perusahaan, ataupun tentang organisasi perlindungan kedepannya harus bagaimana. Apalagi saat ini ini sahabat sahabat mereka telah ikut bergabung dalam organisasi perlindungan.
Sehingga akan memperkuat kedudukan organisasi perlindungan dan juga perusahaan di mata dunia. Walaupun saat ini perusahaan milik Davin dan Alvin ada di peringkat satu dunia namun itu tidak membuat mereka jadi sombong.
Bahkan mereka merangkul orang-orang yang berada di bawah untuk maju bersama di bawah naungan perusahaan milik Alvin dan Davin. Salah satu contohnya adalah X, Rangga Farel dan juga Bima.
Setelah dirasa cukup akan pembahasan kali ini Kevin pun meminta izin pulang ke rumahnya, dengan alasan supaya Kinan bisa beristirahat. Ya memang saat ini kandungan Kinan sudah memasuki bulan ke 8. Sehingga membuat Kinan lebih sering terlihat capek dari pada sebelumnya.
"Sayang, Apa kamu menginginkan sesuatu untuk kita beli?" Tanya Davin saat mereka sudah dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Aku rasa nggak ada sih mas, kita langsung pulang saja, aku juga sudah capek dan ingin istirahat di rumah." Ucap Kinan.
"Baiklah kalau begitu, kita langsung kembali ke rumah." Ucap Davin kemudian mengusap pipi Kinan yang kini bersandar di bahu Davin.
Dengan cepat Davin memutar kemudi mobilnya untuk menuju ke arah pulang ke rumahnya, Kinan hanya tersenyum melihat Davin yang selalu memanjakannya. Bahkan semua keinginannya dipenuhi oleh Davin tanpa sedikit pun Davin mengeluh.
Sesekali Davin melihat ke arah Kinan sambil melemparkan senyuman terbaiknya, dan itu mampu membuat Kinan semakin terpesona dan semakin mencintai Davin.
'Suamiku benar-benar lelaki idaman setiap wanita, dia selalu siap siaga dalam kondisi apapun.' Batin Kinan.
Kemudian Kinan melingkarkan tangannya di lengan Davin bergelayut manja di sana. Bukannya risih, Davin justru bahagia atas sikap Kinan yang begitu manja kepadanya. Davin benar-benar beruntung mempunyai istri seperti Kinan.
Perjalanan menuju ke rumah mereka kini telah sampai, setelah memarkirkan mobilnya Davin dan Kinan masuk ke dalam rumah dengan penuh kebahagiaan.
Weekend kali ini adalah weekend yang paling berkesan untuk Kinan, Karena jarang sekali Davin bisa meluangkan waktu seharian bersamanya seperti hari ini.
Bersambung...