
Setelah selesai berganti baju, Ayumi pun keluar menemui Davin yang duduk di sofa ruang tamu. Davin yang melihat itu dengan antusias menoleh ke arah Ayumi.
"Adik ipar, kak Jojo masih mandi, kamu di suruh tunggu sebentar katanya." Ucap Ayumi yang menuju ke dapur untuk membuatkan minum untuk Davin.
"Hem."
Davin kembali menyandarkan badannya di sandaran sofa ruang tamu, kemudian membuka email yang di maksudkan oleh Sean tadi, sepenting apa sampai-sampai Sean menelponnya hanya untuk memberi tahu jika dia mengirim email.
'Apa?? Jadi ada penyusup di laboratorium yang ada di USA? Ini tidak bisa di biarkan, aku harus ke sana membereskan semua ini.' Batin Davin. Dengan raut wajah yang mulai tersulut emosi.
"Adik ipar, minumlah dulu, sambil menunggu kak Jojo selesai mandi." Ucap Ayumi sambil menyuguhkan minuman di depan Davin. Kemudian Ayumi duduk di sofa depan Davin sambil memangku bantal kecil di pangkuannya.
"Hem." Ucap Davin tanpa melihat ke arah Ayumi, karena tatapan matanya masih tertuju di layar ponselnya. Setelah membalas email dari Sean, kini Davin memasukkan ponselnya di saku jasnya.
Davin kemudian meraih gelas minuman yang ada di depannya, kemudian meneguknya sedikit, mata Davin tajam melihat ke arah Ayumi yang duduk di depannya. Sehingga membuat Ayumi jadi salah tingkah.
Davin sampai menyipitkan matanya dan memajukan tubuhnya untuk melihat dengan jelas apa yang jadi rasa penasarannya, begitu banyak tanda merah keunguan di sekitar leher Ayumi.
'Brengsek si Jojo, dia membiarkan aku menunggu lama, sedangkan dia melakukan hal semacam itu dengan Ayumi. Benar-benar tidak tahu malu.' Batin Davin.
"Apa tadi terjadi sesuatu antara kamu dan Jojo?" Tanya Davin. Dengan tatapan menyelidik ke arah Ayumi. Dengan posisi badannya yang masih condong ke arah Ayumi.
Degg!!
Tiba-tiba raut wajah Ayumi terlihat pucat akibat pertanyaan Davin, bahkan detak jantungnya begitu kencang. Apa mungkin Davin mengetahui sesuatu? Begitulah yang ada di kepala Ayumi.
"Apa adik ipar juga tahu tentang hal itu?" Tanya Ayumi dengan ragu-ragu.
"Tentu saja aku tahu, di lihat sekilas juga nampak, Yumi," Ucap Davin dengan santainya, kemudian menyeruput kembali minumannya. Dan setelah itu menyandarkan kembali tubuhnya di sandaran sofa.
"Jadi adik ipar tahu jika kak Jojo itu kanibal?" Tanya Ayumi yang dengan tampang seriusnya. Sambil memajukan tubuhnya ke arah Davin.
Davin mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Ayumi yang sepertinya di luar jangkauannya. Kanibal? Kanibal bagaimana maksud Ayumi.
"Kanibal?" Davin seakan mengulang pertanyaan Ayumi.
"Iya, tadi kak Jojo akan memakanku katanya, bukankah itu kanibal namanya?" Ucap Ayumi.
Mendengar ucapan Ayumi, Davin justru tergelak tawanya begitu kencang, sehingga Jojo yang baru saja keluar dari kamar menajamkan pendengarannya, karena ingin tahu hal apa yang membuat Davin tertawa dengan begitu kencang.
Ayumi justru semakin bingung dengan kedua orang yang kini ada bersama dengannya, tadi Jojo menertawakannya saat Ayumi menanyakan soal itu, sekarang Davin juga melakukan hal yang sama, menertawakan dirinya di saat menanyakan hal itu ke Davin.
"Kalian membicarakan apa sih?" Tanya Jojo kemudian duduk di samping Davin.
Davin menatap dengan tatapan kekesalan terhadap Jojo yang kini duduk di sampingnya.
"Kalau mau main-main, sebaiknya jangan membiarkan orang menunggu lama, Jo." Ucap Davin dengan kesal.
"Uhuk uhuk uhuk!!"
Mendengar itu Jojo terbatuk-batuk, tidak menyangka jika Davin akan mengatakan hal itu. Dengan sigap Ayumi mengambilkan minum untuk Jojo.
Setelah meminum air mineral pemberian Ayumi, kini Jojo duduk kembali dengan menyamping menghadap ke arah Dave, sedangkan Ayumi berjalan menuju ke kamar untuk mengambil ponselnya, dan berniat menunjukkan barang bukti kepada Jojo dan Davin.
"Jangan mesum aja pikiran kamu Dave." Ucap Jojo.
"Bukan mesum, dengan sekali lihat saja orang akan tahu dengan kelakuan kamu." Ucap Davin dengan melempar bantal kecil ke arah Jojo.
"Makanya nikahi Yumi, biar pikiran mesum kamu bisa tersalurkan dengan benar." Ucap Davin. "Tapi kamu harus bersabar untuk mengajarinya dengan benar, biar tidak tersesat nanti." Ucap Davin dengan terkekeh jika mengingat pertanyaan Ayumi beberapa menit yang lalu.
"Ha-ha-ha, aku adalah guru yang paling pintar untuk mengajari Ayumi soal itu, jadi kamu jangan khawatir. Dave." Ucap Jojo.
"Kak Jojo, adik ipar, Coba dengar rekaman suara yang ada di ponselku, itu percakapanku dengan Niko tadi." Ucap Ayumi yang baru datang sambil menyodorkan ponselnya kepada Jojo
Jojo dan Davin saling pandang, lalu kemudian Jojo menerima ponsel dari uluran tangan Ayumi, kemudian Jojo membuka aplikasi rekaman suara lalu mendengarkannya.
Ketiga orang itu begitu terlihat serius mendengarkan rekaman dari ponsel Ayumi, raut wajah Davin sudah mulai terlihat emosi, apalagi disaat mendengar soal organisasi naga emas yang ternyata masih meninggalkan sisa-sisa anak buahnya, bahkan anak buah naga emas tersebut yang telah menculik Bryan.
"Damn it!! Aku tidak akan membiarkan hal ini terulang kembali, aku akan menjemput Bryan saat ini juga." Ucap Davin yang benar-benar emosi.
"Tunggu Dave!! Kita butuh rencana yang matang untuk menjemput anak kita Dave, kalau kita gegabah sedikit saja, nyawa Bryan taruhannya." Ucap Jojo menahan Davin dengan menarik pergelangan tangannya.
"Benar yang dikatakan oleh kak Jojo, kita tidak boleh gegabah menghadapi Mario maupun Niko." Ucap Ayumi.
Davin akhirnya luluh dan kembali duduk di sofa, kemudian melanjutkan untuk mendengarkan isi dari rekaman di ponsel Ayumi. Jojo dan Ayumi terlihat lega karena Davin mau mendengar ucapan mereka.
Di ujung-ujung isi dari rekaman, Niko sempat menyebutkan alamat rumah Mario yang dipakai untuk menyembunyikan Bryan, serta alamat apartemennya sendiri, karena Ayumi menanyakan alamatnya dengan alasan akan berkunjung ke sana.
"Sayang, Niko belum menaruh curiga terhadapmu, jadi aku rasa, jika kamu mendatangi apartemen Niko dengan barpura-pura jika kamu meminta perlindungan terhadap dia, aku Raza dia akan menerimamu dengan baik, dan di saat itu, kami akan mengikutimu dari belakang. Bagaimana?" Ucap Jojo.
"Sebaiknya Ayumi tidak usah terlibat lagi dalam masalah ini, Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Ayumi, dan itu akan menambah rasa bersalahku." Ucap Davin.
"Kamu ini bicara apa adik ipar, walau bagaimanapun Bryan sudah seperti anakku sendiri, jadi menyelamatkan dia, juga sudah menjadi tanggung jawabku." Ucap Ayumi.
Jojo hanya tersenyum bangga terhadap keberanian Ayumi, lalu mengangguk setuju jika Ayumi terlibat dalam misi ini.
Tidak ada yang bisa Davin lakukan selain menyetujui rencana konyol yang dibuat oleh Jojo, menjadikan Ayumi sebagai umpan. Mereka bertiga pun bersiap untuk menjalankan rencana penangkapan Niko. Untuk langkah awalnya.
Lalu setelah itu baru menjalankan rencana kedua menjemput Bryan, dan membawanya pulang ke rumah Nabila, karena David yakin saat ini Nabila sangat bersedih berpisah dengan putranya.
Drrtt drrt drrtt!!
Ponsel Davin bergetar dengan nada dering yang mengiringi, sebagai pertanda jika ada panggilan masuk. Davin kemudian melihat layar ponselnya untuk memastikan siapa yang meneleponnya saat ini.
"Al." Ucap Davin. "Ada apa Al?" Tanya Davin tanpa basa-basi. Ayumi dan Jojo hanya memandang dan mendengarkan pembicaraan Davin dan Alvin.
"Apa kamu sudah menemukan keberadaan Bryan saat ini?" Tanya Alvin. Yang tanpa basa-basi juga.
"Hem," Ucap Davin. Lalu Davin menceritakan isi dari rekaman di ponselnya Ayumi, bahkan dengan jelas Davin juga menyebutkan jika Niko juga ikut andil dalam rencana jahat Mario.
"Besok di saat kamu menyergap Mario di tempat pelelangan, aku akan masuk ke dalam mansion milik Mario dan membawa pulang Bryan, jadi jangan sampai rencana kita kali ini gagal." Ucap Davin.
"Baiklah aku mengerti, kalau begitu aku akan mempersiapkan beberapa orang anak buah kita untuk bersiap di sekitar pelelangan malam ini." Ucap Alvin.
"Good job, aku juga akan bersiap menangkap Niko dan setelah itu baru ke mansion milik Mario." Ucap Davin.
"Baiklah aku mengerti." Ucap Alvin.
Kemudian Davin mematikan panggilannya, dan kembali fokus dengan rencana yang akan mereka jalankan. Target pertama saat ini adalah Niko. Ayumi yang menjadi umpan untuk mendatangi apartemen Niko pun juga telah siap.
Setelah Davin meminta beberapa orang anak buahnya untuk ikut bersamanya menuju ke apartemen Niko, maka mereka bertiga bersiap untuk berangkat menjalankan rencana tersebut.
Bersambung...