She Is My Sweet Wife 02 (The Series)

She Is My Sweet Wife 02 (The Series)
Perkebunan teh part 02



Dengan tersenyum Jojo menganggukkan kepalanya, kemudian menepuk punggung tangan Ayumi yang masih melingkar di lengannya. Entahlah perasaan apa yang sedang di rasakan oleh Jojo, yang jelas Jojo saat ini merasa nyaman, dan bahagia.


"Bagaimana kalau kita ke sana, di sana ada pondok kecil untuk istirahat." Ucap Jojo. Sambil menunjuk ke sebuah tempat yang di maksudkan oleh Jojo.


"Boleh kak, aku juga udah capek, dari tadi mengelilingi perkebunan yang luar biasa luasnya ini." Ucap Ayumi.


Keduanya pun berjalan ke arah yang di maksud, dengan tangan Ayumi yang masih bergelayut di lengan Jojo, dan entah kenapa Jojo tidak merasa risih sedikitpun.


Perjalanan yang tidak begitu jauh pun akhirnya sampai di sebuah pondok yang biasa di pakai para petani untuk istirahat. Dan karena saat ini masih di jam kerja, maka pondok itu terlihat sepi seperti tidak pernah terpakai.


"Dari sini melihat ke bawah akan terlihat sangat indah, sekaligus bisa istirahat." Ucap Jojo yang kemudian memposisikan duduknya di pondok kecil di atas bukit.


Dan memang jika di lihat, pemandangan di bawah akan terlihat semua, bahkan keindahan keseluruhan kebun teh akan terlihat dengan jelas.


"Wah indahnya, seperti di negeri dongeng ya kak, keindahan yang sangat nyata." Ucap Ayumi melihat ke bawah, saat Ayumi berdiri di depan pondok kecil itu.


Wajahnya itu terlihat benar-benar bahagia, tawanya tidak luntur sedikitpun walaupun dia terlihat capek. Jojo yang berada di dalam pondok, tersenyum kecil melihat ke arah Ayumi, namun karena Ayumi masih asyik mengagumi keindahan pemandangan di sekitar perkebunan.


Jonathan justru merebahkan tubuhnya di pondok, dengan kedua kaki mengantung, melipat tangan kanannya sebagai bantalan, dan tangan kiri di letakkan di atas keningnya.


Ayumi yang terlihat sangat menikmati suasana perkebunan saat ini, tidak menyadari jika Jojo telah berbaring di pondok.


"Kak, apa kakak dulu juga sering main kemari?" Tanya Ayumi yang masih terlihat mengagumi keindahan perkebunan dari atas bukit. Sepersekian menit tidak ada sahutan dari Jojo.


"Kak Jojo?! Kok diem aja sih? Dengar aku ngomong gak sih kak?" Tanya Ayumi yang tidak mendapat jawaban dari Jojo.


Merasa aneh karena tidak ada jawaban dari Jojo, akhirnya Ayumi membalikkan badannya melihat ke arah pondok kecil itu. Ayumi mengerutkan keningnya, dan matanya menyipit untuk mempertajam penglihatannya ke arah Jojo.


"Kak Jojo!!" Panggil Ayumi. Karena Ayumi melihat jika Jojo merebahkan tubuhnya di pondok.


"Hem, apa Yumi," Jojo pun menyahut dengan suara serak, mungkin benar jika Jojo sempat berdamai dengan mimpinya.


Ayumi yang mendengar jika Jojo menyahut panggilannya, akhirnya mendekat, dia terlihat berdecak kesal.


"Kakak tidur?" Tanya Ayumi yang berdiri tepat di depan Jojo, di antara celah kedua kaki Jojo, kemudian menundukkan tubuhnya untuk memastikan Jojo beneran tidur atau tidak.


"Hem!!" Jawab Jojo.


"Kak Jojo beneran tidur?" Tanya Ayumi lagi. Bukannya menjawab Jojo malah menarik tangan Ayumi dengan sekali hentakan. Sehingga membuat Ayumi terjatuh tepat di atas tubuh Jojo.


"Aaaarrrhhh.!!" Ayumi berteriak karena terkejut dengan ulah Jonathan. Namun Jonathan malah memeluk tubuh Ayumi dengan salah satu tangannya.


"Kakak membuatku kaget," Ucap Ayumi memukul dada bidang Jojo. "Jadi kakak pura-pura tidur?"


"Bagaimana aku bisa tidur kalau kamu memanggil-manggil aku terus, Hem?" Ucap Jojo yang masih memejamkan kedua matanya.


"Kita kesini bukan mau tidur kak," Ucap Ayumi yang berusaha bangun dari atas tubuh Jojo. Namun Jojo malah kembali menariknya, sehingga keduanya terbaring di pondok itu.


Jojo merubah posisinya dengan memiringkan tubuhnya ke arah Ayumi yang ada di sampingnya, walaupun Ayumi berusaha untuk bangun, namun Jojo mengunci kedua kaki Ayumi sehingga Ayumi tidak bisa melakukan apapun selain pasrah.


"Aku masih ngantuk Yumi, biarkan aku tidur sebentar." Ucap Jojo dengan tangan yang memeluknya seperti memeluk sebuah guling.


Karena memang tadi mereka berangkat terlalu pagi, sehingga wajar jika Jojo masih mengantuk. Karena tidak ada gunanya melawan, akhirnya Ayumi pun pasrah berada di pelukan Jojo.


Jantung Ayumi berdetak begitu kencang, seperti ingin lompat dari tempatnya, bahkan dadanya seakan sesak karena perasaan aneh ini kepada Jojo.


Ayumi yang terdiam dalam dekapan Jojo kini malah ikutan memejamkan matanya, lalu keduanya kini tertidur sebentar, sambil menunggu jam istirahat siang untuk para pegawai tiba. Tidak butuh waktu lama keduanya kini sudah terlelap.


Drrtt drrt drrtt!!


Ponsel Jojo bergetar, dan suara nada dering nya membuat Jojo terbangun, sekilas Jojo melihat siapa yang meneleponnya.


"Mama??" Gumam Jojo.


Kemudian Jojo menoleh ke arah Ayumi yang masih tertidur, dengan perlahan Jojo menarik tangannya dan kakinya, untuk bangun. Kemudian Jojo menjauh dari Ayumi, supaya tidak menggangu tidur Ayumi.


"Hallo Ma, ada apa?"


"Kalian dimana? Kalau belum pulang ke rumah, sebaiknya kita makan siang bersama, kebetulan ada Rey juga di sini bersama Meisya." Ucap Luna di seberang telepon.


"Aku dan Ayumi masih ada di perkebunan kok Ma, nanti kami akan ke kantor Mama." Ucap Jojo.


"Ok, Mama tunggu ya."


"Ya Ma."


Kemudian Luna mematikan panggilan teleponnya, setelah itu Jojo memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya. Kemudian Jojo melihat pemandangan dari atas.


Perkebunan itu terlihat begitu indah sekali, seperti hamparan rumput menghijau jika di lihat dari atas, Jojo menghirup dalam-dalam udara yang ada di sekitar perkebunan itu. Udara yang masih asli tanpa tercemar oleh polusi.


'Semoga perkebunan ini akan selalu hijau sampai aku tua nanti.' Batin Jojo.


Sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, Jojo terus melihat pemandangan di sekitar perkebunan tersebut.


Kenangan waktu dia masih kecil pun tiba-tiba muncul, sosok Luna yang sangat menyayanginya selayaknya anaknya sendiri, dan juga Papanya yang selalu memanjakan dirinya. Sehingga Jojo bisa melupakan kesedihannya di saat di tinggal oleh Mama kandungnya, tergambar begitu jelas di ingatan Jojo. sehingga Jojo tersenyum bahagia jika mengingat hal itu.


Kasih sayang dari Luna dan Nando, seakan membuat Jojo melupakan status jika Luna hanyalah Mama tirinya. Karena bagi Jojo sosok seorang Mama bukan hanya yang melahirkannya saja, melainkan dia yang juga menyayangi walaupun tidak melahirkannya.


Dan sebutan itu sangat cocok untuk Luna, karena walaupun bukan Luna yang melahirkan Jojo, namun kasih sayang Luna sudah melebihi kasih sayang seorang ibu terhadapnya, dan itu membuat Jojo sangat menyayangi dan menghormati Luna.


"Kakak, kenapa melamun di situ?" Tanya Ayumi yang baru bangun dan melihat Jonathan yang berdiri di depan pondok sambil menatap luasnya perkebunan teh itu.


"Kamu sudah bangun?"


"Hem!" Ucap Ayumi singkat dengan menganggukkan kepalanya. Lalu Ayumi berjalan mendekati Jojo.


"Kakak kenapa melamun di sini?" Tanya Ayumi.


"bukan melamun hanya melihat keindahan perkebunan dari atas sini." Jawab Jojo. "Oh ya Yumi, tadi Mama menelpon dan menyuruh kita untuk datang ke kantornya,"


"Emangnya ada apa kak? Kok disuruh ke kantor?" Tanya Ayumi.


"Mama ingin mengajak kita makan siang bersama sekalian ada Rey dan juga Meisya." Ucap Jojo


Ayumi hanya manggut-manggut sambil bibirnya membentuk huruf O, seolah dia mengerti. Lalu Ayumi berdiri di samping Jojo untuk ikut menikmati suasana perkebunan dengan udaranya yang sejuk.


Bersambung..