She Is My Sweet Wife 02 (The Series)

She Is My Sweet Wife 02 (The Series)
Menuju misi done



Perjalanan menuju ke Jakarta berjalan lancar, walau memakan waktu beberapa jam. Bryan juga terlihat sangat tenang dan damai dalam mimpi. Kedua pemuda itu bergantian mengemudikan mobil supaya tidak mengantuk di jalan.


"Dave, apa sudah ada kabar dari Al?" Tanya Jojo yang kini duduk di kursi penumpang di samping Davin.


"Belum, tapi Sean sudah mengabarkan jika Mario sudah ada di tangan kita." Ucap Davin tanpa menoleh ke samping, karena Davin sedang fokus mengemudikan mobil.


"Baguslah, benar-benar licin mertua kamu Dave." Ucap Jojo.


"Ck, mertua gak guna, bisanya buat masalah saja." Ucap Davin.


Mendengar Davin ngedumel, Jojo hanya terkekeh sambil melihat ke arah samping, jalanan yang gelap dan sepi seakan menambah suasana sedikit horor. Ya walaupun mobil mereka masih tetap di kawal oleh anak buah Davin.


"Tapi Dave, aku tidak yakin jika mertua kamu bekerja sendiri, bayangkan saja, dapat dari mana dia suntikan dana segitu besarnya." Ucap Jojo.


"Bukankah kamu memintaku hanya untuk menangkap Mario? Karena dia itu bandar narkoba. Kalau soal siapa di belakang Mario, itu bukan lagi jadi tanggung jawabku." Ucap Davin dengan santai dan fokus melihat jalanan di depannya.


"Ck, ternyata kamu terlalu perhitungan denganku Dave. Harusnya kamu juga membantuku untuk memberantas siapa yang membantu Mario." Ucap Jojo.


"Maaf bung, itu sudah di luar perjanjian kita." Ucap Davin.


"Dasar!!" Kesal Jojo.


Pembicaraan mereka pun terhenti sejenak, seakan mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Jojo seakan ingin tahu lebih lanjut siapa yang ada di belakang Mario? Sehingga Mario bisa jadi di atas angin seperti sekarang.


'Aku tidak akan menyerahkan Jirayu padamu Jo, sebelum aku bisa mengakuisisi naga emas.' Batin Davin.


Karena memang Jirayu lah yang ada di belakang gerakan Mario selama ini, bahkan penyerangan di Spanyol waktu itu juga ulah Jirayu tapi menggunakan tangan Mario.


Ledakan mobil yang di kendarai Davin dan Alvin saat di Spanyol juga salah satu ulah mereka, untuk menghabisi ketua mafia dunia, tapi sayang rencana mereka gagal..


Tapi ada satu yang mengganjal bagi Davin, karena walau Jirayu sudah tertangkap dan berada di dalam penjara bawah tanah miliknya, tetap saja Davin belum mengetahui siapa yang menjadi ketua organisasi Naga emas tingkat dunia. Karena ternyata Jirayu adalah ketua naga emas untuk wilayah Asia.


Seandainya saja Jirayu tidak menjadi gila, karena tidak berhasil membunuh Dafa, maka semua akan berjalan sesuai rencana. Dan dengan mudah Davin meng-akuisisi naga emas saat ini.


Perjalanan panjang yang melelahkan itu membuat Jojo akhirnya tertidur, ya bisa di maklumi karena Jojo pasti capek setelah menangani beberapa kasus yang hampir bersamaan. Dan membuat Jojo kurang istirahat.


Davin yang tidak tega untuk membangunkan Jojo, akhirnya Davin mengemudikan mobil sendirian. Dengan sesekali Davin melihat Bryan yang tertidur di belakang dari kaca spion di atasnya.


'Semoga kelak kamulah yang akan menggantikan posisi papa kamu Bryan dan juga menggantikan posisiku, jagoanku yang pemberani.' Batin Davin sambil tersenyum.


Davin kembali fokus akan jalanan di depannya, sebentar lagi mereka akan memasuki kota Jakarta, dan sebentar lagi juga Davin akan bertemu dengan istri tercintanya Kinan, Bryan kembali ke pelukan Nabila dan Alvin.


Membayangkan saja sudah membuat Davin tersenyum bahagia, keluarga besarnya akan sama-sama mendapatkan kebahagiaan, apalagi dirinya yang sebentar lagi akan mendapatkan anak. Membuat Davin semakin bersemangat untuk melanjutkan hari-harinya.


******************


Di Bali, Alvin dan juga yang lain bersiap akan melakukan perjalanan ke Jakarta dengan menggunakan pesawat jet pribadinya, karena Alvin tidak mau mengambil resiko jika Mario kabur lagi.


"Sean apa sudah kamu persiapkan semuanya?" Tanya Alvin.


"Sudah Tuan sesuai perintah anda. Saya juga sudah menghubungi pihak bandara, untuk mempersiapkan penerbangan kita ke Jakarta." Jawab Sean.


"Baik tuan, saya mengerti." Ucap Sean.


Lalu Sean keluar dari kamar Alvin setelah Alvin memberi kode supaya Sean keluar dari kamarnya. Karena Alvin juga harus mengatur semua yang di butuhkan oleh Alvin.


Tidak lama setelah Sean keluar dari kamar Alvin, terlihat Rangga berjalan dari kejauhan sedang menuju ke arah kamar Alvin. Mereka berpapasan saling mengangguk sambil tersenyum.


"Al ada di kamar?" Tanya Rangga.


"Ada, silahkan." Ucap Sean mempersilahkan Rangga untuk memasuki kamar Alvin.


Rangga hanya tersenyum sebagai jawaban, lalu Rangga berlalu meninggalkan Sean dan berjalan menuju ke kamar Alvin.


Setelah mengetuk pintu dan Alvin mempersilahkan dia masuk, maka Rangga memasuki kamar Alvin tersebut. Terlihat Alvin sedang bersiap di depan cermin untuk merapikan rambutnya dengan sebuah sisir.


"Bagaimana dengan Mario? Apa dia sudah siuman?" Tanya Alvin kepada Rangga.


"Sepertinya lelaki tua itu tidak terima dengan penangkapan yang kita lakukan, dia terus marah-marah dan mengancam akan membunuh Bryan." Ucap Rangga.


Alvin menghentikan aktivitasnya yang sedang menyisir rambutnya, kemudian menoleh ke Rangga sambil mengerutkan keningnya.


"Dia mau membunuh Bryan? Kurang ajar!! Bed*b*h!! Tua bangka tidak tahu malu, dimana dia sekarang?" Ucap Alvin tersulut emosinya.


Tentu saja Alvin tidak terima ada yang terang-terangan mengancam dengan menggunakan nama anaknya. Apalagi mengancam akan membunuhnya, bagaimana bisa Alvin akan diam saja? Darahnya sudah mendidih mendengar jika Mario bicara seperti itu.


"Kamu tenang dulu Al, kendalikan emosi kamu. Toh dia ada di dalam tahanan kita." Ucap Rangga berusaha menenangkan Alvin yang tengah emosi.


"Bryan anakku!!, asal kamu tahu Rangga. Dia anakku!! Bagaimana bisa aku tenang di saat ada yang terang-terangan mengancam keselamatan anakku." Alvin semakin emosi.


"Jadi kamu akan melakukan apa, Al? Dia harus di serahkan ke kepolisian, tidak mungkin kan kita akan membunuhnya?" Ucap Rangga dengan sedikit ragu.


Alvin menatap Rangga dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, apalagi tatapan Alvin seakan menjadi sebuah ancaman yang entah apa yang akan di lakukan Alvin.


"Apa, Al?" Tanya Rangga yang merasa salah tingkah dengan tatapan mata Alvin yang terus melihatnya seolah ingin menguliti Rangga hidup-hidup.


"Mario tidak boleh mati sebelum di serahkan ke Jojo, tapi aku tidak akan melepaskannya dengan mudah." Ucap Alvin dengan seringai penuh makna.


Mendengar ucapan Alvin membuat Rangga merinding, seringai di wajah Alvin seakan menandakan jika Alvin sedang merencanakan sesuatu. Tapi rencana apa? Itu seperti misteri yang sulit terbaca oleh Rangga.


"Antarkan aku ke tempat Mario, sekarang!" Ucap Alvin.


Rangga mengerutkan keningnya, lalu dia mengangguk pasrah menuruti keinginan Alvin. Begitu banyak pertanyaan di kepala Rangga saat ini.


'Mau apa Al ingin menemui Mario? Bukankah sebentar lagi juga akan bertemu di dalam pesawat?' Batin Rangga. ' Apa mungkin Al sedang merencanakan sesuatu saat ini?'


Rangga dan Alvin berjalan menuju ke tempat dimana Mario di kurung dan di jaga dengan ketat oleh anak buahnya. Smirk wajah Alvin sungguh tidak bisa terbaca oleh Rangga. Namun sepertinya ini akan jadi sesuatu yang lebih mengerikan dan tidak akan bisa di bayangkan oleh siapapun.


Bersambung...