
Davin dan Kinan yang sedang asyik melihat acara televisi di kamarnya, tiba-tiba teringat akan Jojo dan Ayumi, karena terakhir kali mereka berpamitan akan pergi ke kota S. Dan itu terjadi kemarin.
"Mas, Apa mungkin kak Jojo, akan segera menikahi Ayumi?" Tanya Kinan yang sedang menyandarkan kepalanya di dada bidang Davin.
"Aku rasa begitu, tidak ada alasan lagi untuk Jojo menunda pernikahannya dengan Ayumi." Ucap Davin sambil membelai rambut Kinan.
"Apa mas yakin? Karena yang aku lihat kak Jojo bersikap biasa saja kepada Ayumi, dan tanda-tanda untuk segera menikah sepertinya akan sangat jauh." Ucap Kinan sambil memainkan jarinya di dada bidang Davin.
"Jojo memang orang seperti itu, dia kurang pandai dalam hal mengekspresikan diri dan perasaannya." Ucap Davin.
"Pantas aja kak Jojo tidak pernah terlihat jalan dengan seorang wanita selain Ayumi." Ucap Kinan.
"Begitulah Jojo, tapi aku bisa melihat jika Jojo sangat mencintai Ayumi. Ya walaupun Jojo tidak mengatakannya. Tapi pandangan mata Jojo mengisyaratkan seperti itu." Ucap Davin.
"Semoga saja mereka segera menikah, biar kak Jojo tidak jadi bujang lapok." Ucap Kinan kemudian terkekeh geli sendiri jika mengingat Jojo belum menikah di usia yang sudah di atas kepala tiga.
Davin ikutan terkekeh ketika mendengar ucapan Kinan. Dan itu sudah terbukti jika Jojo memang belum menikah sampai saat ini. Ya maklum saja jika Jojo menunda kebahagiaannya sendiri, karena Jojo yang selalu mendapatkan tugas berat sehingga lupa akan kebahagiaannya.
"Oh ya sayang, bagaimana kalau besok kita menjenguk Bryan, mumpung besok weekend. Aku bisa menghabiskan waktu bersama kamu." Ucap Davin tiba-tiba.
"Wah, boleh-boleh, aku sangat senang jika mas bisa meluangkan waktu bersama denganku, apalagi bisa main ke rumah Al." Ucap Kinan. Terlihat berbinar bahagia dengan usulan dari Davin.
Karena memang besok weekend, dan kebetulan ada yang ingin Davin bahas bersama dengan Alvin mengenai masalah Mario. Karena menurut sipir penjara, saat ini Mario seperti sedang mengalami penyakit yang aneh.
Dan tanda-tanda yang di timbulkan seperti terkena formula blue, dan Davin sangat yakin jika Alvin mengetahui sesuatu tentang ini.
"Ya sudah sebaiknya kamu cepat tidur, agar besok tidak kecapekan." Ucap Davin sambil membelai rambut Kinan.
"Hem." Ucap Kinan yang kemudian memeluk Davin dengan erat.
Davin pun melakukan hal yang sama, memeluk Kinan dengan erat bahkan lebih erat dari sebelumnya. Membuat tubuh Kinan seakan menghangat dan nyaman.
Davin mengecup kening Kinan dengan penuh cinta, lalu setelah itu Davin meraih remote televisi dan mematikan televisi tersebut. Davin pun ikut larut dalam tidurnya sambil memeluk Kinan.
********************
Pagi itu Alvin yang menghabiskan waktunya dengan joging di sekitar area rumahnya, dengan cara mengitari halaman rumahnya yang begitu besar bersama dengan Bryan.
"Papa tunggu, jangan kencang-kencang larinya." Teriak Bryan yang tertinggal langkah kaki Alvin.
"Jagoan masa kalah sama Papa, ayo dong kejar Papa." Ucap Alvin memberi semangat kepada buah hatinya.
Terlihat Bryan dengan langkah kaki kecilnya berlari mengejar Alvin yang kini ada di depannya. Walaupun begitu Alvin memelankan langkah kakinya supaya Bryan mampu mengejar ketinggalannya.
Setelah merasa sejajar dengan Alvin, wajah Bryan terlihat berbinar bahagia. Bahkan Alvin sengaja membiarkan Bryan berlari mendahuluinya. Seolah Alvin mengaku kalah agar Bryan bersemangat untuk joging kembali esok hari.
"Wah-wah jagoan Mama akhirnya menang juga ngalahin Papa." Ucap Nabila yang melihat Bryan berlari mendekatinya dan berhambur memeluknya.
"Horee!! Akhirnya Papa kalah dari aku." Ucap Bryan terlihat senang.
"Ternyata jagoan Papa benar-benar sangat pintar, bahkan sangat cepat larinya." Ucap Bryan kemudian mengacak pucuk rambut Bryan.
Setelah itu mencium kening Nabila, yang masih duduk di kursi taman bersama dengan Erick.
"Jagoan Mama mandi sama suster ya, karena sebentar lagi Papa Dave dan mama Kinan akan datang." Ucap Nabila memberi tahu pada Bryan.
Mendengar itu Alvin menoleh ke arah Nabila, melihatnya seolah ingin memastikan apakah yang di katakan Nabila itu benar. Namun karena Nabila masih asyik membujuk Bryan, maka Alvin mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Iya sayang, makanya cepat mandi ya, nanti kita sarapan bareng-bareng sama mereka." Ucap Nabila.
"Ok Mama."
Dengan segera Bryan berlari masuk ke dalam rumah, mencari suster untuk meminta mandi. Sedangkan Alvin berjalan mendekati Nabila.
"Apa benar Dave dan Kiki mau kesini?" Tanya Alvin.
"Iya mas tadi Kiki menelponku, memberitahu kalau akan datang ke rumah kita." Jawab Nabila.
"Apa ada keperluan penting?" Tanya Alvin.
"Mas ini aneh, memangnya harus punya keperluan dulu baru boleh kemari?" Tanya Nabila.
"Ya bukan begitu, siapa tahu aja mereka datang karena ada hal penting yang perlu di bahas honey." Ucap Alvin sambil memainkan hidung Erick.
"Sudah jangan ganggu Erick, sebaiknya segera mandi dan bersiap, jadi nanti kalau Davin dan Kinan datang kita bisa sarapan bareng." Ucap Nabila.
"Hem, baiklah." Ucap Alvin kemudian melangkahkan kakinya menuju ke pintu utama. "Honey!! Kapan kita bisa mandi bareng lagi?" Teriak Alvin yang sudah berada di ambang pintu utama, sambil melemparkan senyum jenaka ke arah Nabila. Lalu kembali masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
Mendengar hal itu membuat wajah Nabila merah merona menahan malu, bahkan Nabila sempat melihat situasi sekelilingnya, takut jika ada yang mendengar ucapan sang suami yang terlalu vulgar tersebut.
"Dasar mesum pagi-pagi." Gumam Nabila.
Ternyata tukang kebun dan juga maid ada yang mendengar ucapan Alvin tadi, mereka terkekeh sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Melihat kebahagiaan sang majikan, membuat mereka ikut bahagia.
'Tuan Al sangat pandai menggoda nyonya, kapan aku punya suami seperti itu?' Batin salah satu maid. Sambil tersenyum sendiri membayangkannya.
Nabila kembali fokus dengan Erick di sampingnya, tidak lama seorang suster datang menghampiri Nabila dan juga Erick sambil membawakan makanan sarapan untuk Erick.
Nabila pun menyerahkan Erick pada suster tersebut supaya di suapi untuk makan sarapannya. Sedangkan Nabila berjalan masuk kedalam rumah ingin melihat sejauh mana sang suami dan anaknya selesai mandi.
Bryan sudah selesai dengan ritual mandinya, bahkan kini Bryan sudah rapi dan bermain bersama suster di ruang tengah sekalian menunggu kedatangan Davin dan juga Kinan.
Nabila menyiapkan baju ganti untuk Alvin yang masih berada di dalam kamar mandi. Setelah mengambilkan kaos dan celana pendek untuk santai di rumah. Nabila bersiap akan keluar kamar. Namun pergerakannya terhenti ketika tangan Alvin menarik pergelangan tangannya.
Nabila berbalik badan dan melihat sang suami yang telanjang dada di depannya, dengan rambut basahnya yang semakin terlihat sangat seksi bagi Nabila.
"Mau kemana honey?" Tanya Alvin sambil menaik turunkan alisnya. kemudian tangannya sudah mengunci pergerakan Nabila.
"Aku akan melihat Erick, sebaiknya mas segera memakai baju." Ucap Nabila yang kini mungkin sudah merah merona wajahnya karena malu.
"Jangan cari alasan, sebaiknya kamu temani aku dulu di sini." Ucap Alvin menarik tangan Nabila.
'Ini pasti akan lama urusannya kalau sudah begini.' Batin Nabila.
Alvin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Nabila, sehingga jarak mereka semakin terkikis, tanpa di komando bibir Alvin sudah mencium bibir Nabila.
Ciuman Alvin lembut dan penuh dengan cinta, sehingga Nabila pun membalas ciuman Alvin tersebut. Ciuman yang semakin dalam dan semakin membuat keduanya mabuk kepayang di pagi hari.
Seakan terbuai oleh situasi saat ini, keduanya larut dalam ciuman panas yang semakin menuntut untuk meminta lebih, dan entah kenapa Nabila justru mengikuti permainan Alvin yang semakin ganas saat ini.
Bersambung...