
Karena Sean tidak pernah peka jika saat ini Tania menyukainya, bahkan sudah sejak lama. Rangga yang melihat keduanya sudah dapat menyimpulkan hal itu. Sedikit terlihat kekecewaan di wajah Rangga saat ini, karena memang Rangga yang telah jatuh hati pada pandangan pertama dengan Tania.
'Sean tidak peka jika Tania menyukainya, kenapa kasihan sekali hidup Tania.' Batin Rangga.
Setelah ngobrol panjang lebar di lobby salah satu hotel di Bali itu, mereka memutuskan untuk kembali ke tugas utamanya masing-masing, Sean dan Tania bersiap untuk meeting dengan salah satu klien di Bali, karena memang D.A group mempunyai salah satu cabang hotel di sana.
Sedangkan Rangga mencari informasi tentang lelang yang akan di adakan besok malam di sebuah tempat yang memang dikhususkan untuk pelelangan barang yang akan sulit di dapatkan di tempat yang biasa. membutuhkan strategi supaya Rangga bisa mendapatkan informasi sekecil apapun tentang acara lelang yang akan di adakan besok.
Rangga pergi ke sebuah BAR untuk bertemu dengan salah satu orang yang memang di tugaskannya untuk memata-matai pergerakan dimana tempat lelang di adakan.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Rangga.
"Sepertinya semua sesuai rencana, tapi kamu harus berhati-hati, karena orang ini memiliki begitu banyak anak buah, dan bahkan dia sangat terkenal di dunia mafia saat ini." Ucap laki-laki itu setengah berbisik.
Sebelumnya Rangga tidak bilang jika dia adalah salah satu orang dari organisasi Perlindungan, makanya lelaki di hadapannya itu terlihat sedikit mengkhawatirkan Rangga. Takut jika terjadi sesuatu dengan Rangga, mengingat yang dia targetkan adalah formula blue yang jadi incaran para mafia dunia.
"Kamu tenang saja, yang aku inginkan hanya formula itu, dan berapa pun harganya pasti aku bayar, aku tidak peduli siapapun yang mendapatkan formula itu harus berhadapan denganku." Ucap Rangga.
"Ok ok, baiklah." ucap lelaki itu.
'Pemuda ini sepertinya bukan pemuda sembarangan, bahkan tidak terlihat takut, padahal yang akan dia hadapi nanti adalah Mario, yang terkenal dengan jual beli senjata atau pun barang haram di dunia.' Batin lelaki itu.
"Makasih informasinya," Ucap Rangga.
Lelaki di depan Rangga hanya menganggukkan kepalanya pertanda mengerti, setelah bertukar informasi selesai, Rangga membayar uang jasa yang telah di sepakati sebelumnya.
Kemudian Rangga membayar minuman yang di minumnya, dan keluar dari BAR, mobilnya melaju ke sebuah pantai yang terkenal akan keindahannya. Dan menurut informasi yang dia dapat di email barusan, jika orang yang berkhianat pada organisasi Perlindungan dan akan menjual formula itu ada di sana.
"Lelaki ini begitu bodoh, bisa-bisanya dia berpikir untuk bisa kabur dari Dave atau pun Al, apa dia tidak tahu siapa si kembar?" Gumam Rangga sambil melihat sebuah foto di ponselnya.
Kemudian Rangga memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, setelah itu Rangga mengedarkan pandangannya untuk mencari target yang sedang dia tuju. Mata Rangga tertuju ke arah seorang laki-laki yang sedang asyik bermain dengan seorang wanita.
"Gotcha!! (kena kamu)" Gumam Rangga.
Seorang laki-laki yang tidak sengaja melihat keberadaan Rangga, dia terlihat panik kemudian berlari sekuat tenaga, Rangga yang melihat itu langsung mengejarnya.
Lelaki itu terlihat sangat ketakutan dengan Rangga, karena memang target yang di cari oleh Rangga adalah dirinya. Lelaki itu terus saja berlari tanpa arah, tapi Rangga tidak menyerah begitu saja dia terus mengejar lelaki itu.
"Woyy, jangan kabur!!" Teriak Rangga kepada lelaki itu. Namun laki-laki itu tidak menghiraukan teriakan Rangga, dia terus saja berlari untuk menjauh sejauh-jauhnya dari kejaran Rangga.
"Oh shit!! Ternyata dia cukup kencang larinya." Gumam Rangga yang ketinggalan jejak, hingga Rangga berhenti sejenak sambil membungkukkan badan. Nafasnya tersengal-sengal, akibat kejar-kejaran barusan.
Rangga mencari akal supaya bisa mengejar lelaki itu, kemudian sebuah ide muncul supaya bisa kembali mengejar laki-laki itu, Rangga berlari menyusuri gang sempit sebuah rumah susun kumuh.
Rangga yang terus berlari untuk memotong jalan lelaki tadi pun, akhirnya sampai juga tepat di jalan raya, dan sesuai apa yang dia perkirakan, lelaki yang di kejarnya itu berlari tepat di depannya.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Rangga menarik kerah baju lelaki itu dari belakang.
"Berhenti, atau aku tidak akan mengampunimu." Ucap Rangga yang kemudian menodongkan pistol ke pinggang lelaki itu.
"Buuggg!!" Rangga memukul tengkuk lelaki itu. hingga terjatuh ke tanah sambil berlutut. dengan tangan di angkat ke atas.
"Jangan banyak bicara sebaiknya kamu ikut aku, atau kamu mau mati disini?" Ucap Rangga.
Tidak banyak bicara, Rangga menyandera laki-laki itu dan di bawanya ke sebuah tempat, yang mana di situ banyak anggota organisasi perlindungan yang telah disiapkan oleh Alvin.
Lelaki itu akhirnya mengerti siapa Rangga, wajahnya saat ini terlihat takut setelah tahu dirinya tertangkap oleh organisasi perlindungan. Karena memang sebelumnya begitu banyak organisasi mafia yang mengincarnya, bahkan mengejarnya hanya untuk mendapatkan formula blue.
Lelaki itu adalah salah satu pegawai di laboratorium khusus, milik organisasi perlindungan, dan dia telah mencuri beberapa formula blue untuk dijual di tempat pelelangan pasar gelap di Bali.
Dan kini dia tertangkap oleh organisasi Perlindungan, apa mungkin jika nyawanya akan selamat kali ini? Jawabannya adalah 'tidak'. Karena bagi Davin dan Alvin, sebagai ketua organisasi Perlindungan dan juga ketua mafia dunia, tidak ada kata maaf untuk penghianat.
"Ikat dia, aku akan menghubungi bos." Ucap Rangga.
"Baik kak Rangga,"
Beberapa orang mengambil alih lelaki itu dari tangan Rangga kemudian mengikatnya, dan menutup mulutnya dengan sebuah ikatan kain dengan kuat.
"Al, aku sudah menemukan penghianat itu, dan sudah membawanya ke gudang." Ucap Rangga.
"Aku sudah di Bali, dan akan segera ke tempat kamu sekarang." Ucap Alvin, lalu menutup teleponnya.
'Bukankah dia bilang besok baru datang kemari? Kenapa sekarang udah ada di sini?' Batin Rangga.
Rangga yang memang begitu mengenal sifat Alvin, dia tidak mau ambil pusing, karena selama 5 bulan bergabung di organisasi Perlindungan secara resmi, dia semakin mengenal bagaimana karakter Alvin.
Rangga memutuskan untuk menunggu kedatangan Alvin di sebuah ruangan, sambil mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, akibat kejar-kejaran di jalanan tadi.
*************************
Sean dan Tania yang telah selesai meeting kembali menuju kamar hotel untuk istirahat, namun sebuah panggilan dari Davin membuat Sean mengurungkan niatnya.
"Tania sebaiknya kamu istirahat dulu di kamar, aku ada perlu sebentar," Ucap Sean.
"Baiklah." Ucap Tania.
Kemudian Sean mengacak pucuk rambut Tania, lalu bergegas menuju lift, terlihat sangat terburu-buru.
"Kenapa buru-buru sekali? siapa sih yang menelponnya barusan?" Gumam Tania. tidak mau terlalu banyak berpikir akhirnya Tania masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
Sedangkan Sean yang terlihat buru-buru itu menuju ke tempat parkir hotel, dan mengemudikan mobil yang telah di sediakan oleh pihak hotel.
'Orang itu telah tertangkap?, ternyata bagus juga kinerja Rangga. Pantas bos Al mempercayai dia untuk kasus ini.' Batin Sean dengan senyum tipis di sudut bibirnya.
Sean mengemudikan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, dia menuju alamat yang dikirimkan oleh salah satu bawahannya barusan, dan menurut informasi yang dia dapatkan saat ini Alvin telah sampai di Bali. Dan dalam perjalanan menuju lokasi yang sama dengannya.
Bersambung