
Di sebuah apartemen sedang berkumpul lima orang pemuda, mereka terlihat begitu asyik melempar candaan satu sama lain, mengingat jika sudah begitu lama mereka tidak bertemu, karena setelah lulus kuliah mereka sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing.
Mereka saling menceritakan pengalaman mereka selama mereka berpisah beberapa tahun terakhir ini. Apalagi semenjak kejadian di villa Martin waktu itu entah kenapa usaha keluarga Rangga, Bima, dan juga Farrel jadi bangkrut.
Davin dan Alvin memang tidak mengetahui soal itu, karena setelah kelulusan wisuda S2 nya Davin dan Alvin sibuk dengan urusan bisnis keluarganya, ditambah lagi mereka dinobatkan sebagai ketua mafia dunia.
Maka sudah dapat dipastikan jika Davin dan Alvin tidak punya waktu untuk sekedar temu kangen dengan para sahabatnya. Sehingga masalah berita kebangkrutan keluarga Rangga, Farrel dan juga Bima luput darinya.
Dan untuk menutup kebutuhan mereka sehari-hari, mereka mencari pekerjaan kesana kemari, dan untungnya beberapa hari yang lalu mereka bertemu dengan Alvin. Dan Alvin menawarkan pekerjaan untuk mereka bertiga.
Kesempatan untuk bergabung di D.A atau A.J group, tidak mereka sia-siakan, karena perusahaan itu terkenal dengan standar gajinya yang sangat tinggi.
"Kalian pasti sudah tahu kan tentang pekerjaan apa yang akan kalian lakukan?" Ucap Davin memulai pembicaraan. "Karena ini menyangkut nyawa kalian sebagai jaminannya, kalian pasti juga sudah tahu tentang organisasi Perlindungan kan?"
"Kamu tenang saja Dave, kami sudah mengetahui semuanya dari Al, dia sudah menceritakan semuanya kepada kami bertiga." Ucap Farrel.
"Baguslah kalau begitu, Dan mulai saat ini kalian adalah bagian dari keluarga organisasi Perlindungan, Dan aku harap kalian tidak menceritakan ini kepada keluarga kalian." Ucap Davin.
"Iya kami semua mengerti Dave." Jawab Rangga.
"Baiklah, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan tentang pekerjaan ini, selanjutnya aku serahkan semuanya kepada Al. Karena dia yang lebih tahu tentang semua tugas-tugas yang akan kalian kerjakan." Ucap Davin.
"Ok, ok, sekarang bisa jelaskan kepada kami bos? apa yang harus kamu lakukan?" Ucap Bima, seolah tidak percaya jika kini Alvin adalah bossnya.
Alvin terkekeh mendengar panggilan dari Bima yang memanggilnya bos, karena menurutnya mereka tetaplah sahabat dan Tidak sepantasnya Bima memanggilnya bos.
"Santai aja, tidak perlu seformal itu, panggil saja namaku tidak usah pakai embel-embel bos segala." Ucap Alvin.
Semuanya tertawa karena hal itu, karena akan terasa sangat canggung jika memanggil Alvin dengan sebutan bos, ya walaupun sebenarnya Alvin adalah bosnya, tapi tetap saja lidah mereka terasa berat memanggilnya seperti itu.
Akhirnya Alvin pun menjelaskan tugas-tugas yang akan diberikan kepada Rangga, Bima dan juga Farrel.
Rangga dan Bima yang memang pandai dalam hal bela diri mereka bertugas untuk memperkuat organisasi Perlindungan serta menjaga wilayah organisasi supaya tidak dimasuki oleh musuh ataupun diserang oleh musuh.
Sedangkan Farrel, yang sangat pandai dalam hal IT, dia bertugas untuk selalu menjaga keamanan sistem perusahaan, serta menjaga keamanan sistem organisasi dari pihak musuh yang menyerang melalui virus-virus komputer yang sering mereka tebarkan.
Walaupun Farrel tidak sehebat Reyhan, namun setidaknya Farrel mampu membantu menyelesaikan masalah-masalah kecil yang terjadi di perusahaan.
Setelah pembicaraan seputar pekerjaan selesai, Mereka pun mulai bercanda selayaknya dulu. Pembicaraan santai pun kini mengalir begitu saja Davin sudah mulai penasaran tentang kehidupan asmara Farrel, Bima dan juga Rangga.
Mengingat saat ini mereka masih terlihat sendirian, dan tidak tampak mempunyai pasangan. Dan itu sangat menggelitik rasa penasaran Davin maupun Alvin.
"Rel, jadi apa yang kamu lakukan setelah kita lulus kuliah dulu? Maksud aku tentang masalah percintaan kamu." Tanya Davin.
"Huft, memangnya apa lagi yang bisa aku lakukan Dave? Jangan kan waktu untuk bercinta, memikirkan isi kantong aja udah pusing setengah mati." Jawab Farrel.
"Hahaha, ngenes amat hidup kamu Rel." Celetuk Alvin.
"Bukan ngenes lagi Al, selalu sekarat kantongku, makanya waktu kemarin kamu menawarkan aku pekerjaan, aku sangat senang sekali, berasa kamu itu dewa penolongku, Al." Ucap Farrel.
"Asyik, dewa penolong kita yang dulu terkenal playboy kini sudah jadi pria yang sukses dan mapan." Ucap Bima.
"Hahaha, biasa aja kali Bim, sekarang kalau kamu Bim?" Tanya Alvin. Kepada Bima.
"Kisah percintaanku selalu kandas, karena wanita-wanita itu selalu mencari pria yang lebih kaya daripada aku, makanya aku lebih memilih sendiri ketimbang jadi mangsa cewek-cewek matre." Ucap Bima.
"Sadis banget, lalu sebelum kamu bertemu dengan Al, Apa yang kamu lakukan Bim?" Tanya Davin.
"Aku mengajar beberapa orang murid untuk seni beladiri, itupun pemasukannya tidak seberapa dan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari." Ucap Bima.
"Jadi karena itu kamu belum punya pasangan? atau memang kamu masih trauma dengan cewek cewek matre yang kamu sebutkan tadi?" Ucap Alvin.
"Bukan trauma, tapi lebih kepada tidak punya waktu untuk itu, aku lebih suka menghabiskan waktu untuk mengajarkan para muridku ilmu beladiri, dari pada menghabiskan uang yang aku dapatkan untuk memanjakan cewek-cewek matre itu, sayang banget uangnya." Ucap Bima.
"Nah sekarang giliran kamu Rangga, kenapa sampai sekarang kamu belum menikah juga? padahal usia kamu sudah lebih dari cukup." Tanya Alvin.
"Aku masih belum bisa move on dari seorang wanita yang sampai saat ini aku sendiri tidak tahu namanya. Padahal aku sudah mencoba untuk mencari tahu tentang dia." Ucap Rangga memulai ceritanya.
Mereka berempat saling pandang, karena ini adalah sesuatu yang langka, seorang Rangga bisa sampai segitunya mencintai cewek yang bahkan belum di kenalnya.
"Memangnya kamu bertemu di mana sama wanita itu?" Dari yang aku lihat sih sepertinya dia salah satu pegawai D.A group juga, tapi entahlah." Ucap Rangga.
Alvin dan Davin saling pandang, salah satu karyawan di perusahaannya bisa membuat Rangga jatuh cinta? Siapa wanita itu? Begitulah kira-kira yang ada di kepala si kembar itu.
"Kamu yakin dia bekerja di D.A group?" Tanya Alvin penasaran.
"Gak tahu juga sih, ah sudahlah, ngapain membahas perempuan itu sih." Ucap Rangga. "Karena prinsipku kalau dia jodohku pasti kita akan bertemu lagi."
"Kamu terlalu naif Rangga, jodoh itu perlu dicari dan dikejar bukan cuman seperti kamu terima nasib. Dan menyerah sebelum berjuang." Ucap Alvin.
"Setuju apa kata Al, seharusnya kamu berusaha dan berjuang mencari tahu siapa wanita itu, bekerja dimana? Alamat rumahnya dimana? Kalau perlu kamu ikuti dia." Ucap Bima antusias.
"Nanti saja, karena yang penting buat aku sekarang adalah pekerjaan ini bukan wanita itu." Ucap Rangga.
Mendengar ucapan Rangga, mereka semua seketika terdiam, tidak tahu lagi harus bagaimana, karena jika bicara jujur, saat ini mereka lebih membutuhkan pekerjaan dan uang dari pada seorang pendamping.
Apalagi dengan bekerja di perusahaan milik Alvin dan Davin, maka kehidupan mereka pasti akan lebih baik dan itu juga akan membantu ekonomi keluarga.
Sebenarnya keluarga Farrel, masih memiliki usaha sebuah mini market kecil, dan dari usaha itulah semua kebutuhan untuk keluarga tercukupi walaupun seadanya.
Dan untuk Rangga, orangtuanya membuka warung tenda di pinggir jalan untuk menutupi semua kebutuhan keluarga. Sungguh sangat miris sekali kehidupan keluarga para sahabatnya itu.
Padahal dahulu keluarga dari para sahabatnya itu adalah termasuk keluarga yang sangat kaya dan pengusaha sukses. Tapi entah kenapa semua jadi seperti ini, mungkin benar jika roda akan terus berputar, tidak selamanya orang kaya akan tetap kaya dan tidak selamanya juga orang miskin akan tetap miskin.
Bersambung