
Di kamar hotel tempat Alvin menginap di Bali, kini sudah berkumpul X, Sean dan juga Danang. Mereka sedang meeting, banyak yang perlu mereka lakukan saat ini, salah satunya adalah segera menemukan Bryan.
Akhir-akhir ini organisasi perlindungan sering mendapat serangan yang tak terduga, mulai dari penculikan Kinan, sampai ada yang berkhianat dengan mencuri formula Blue dari laboratorium organisasi perlindungan, dan saat ini kenapa mereka mengincar Bryan? Apa tujuannya mereka menculik Bryan? Sungguh semua ini seakan teka-teki yang harus Davin dan Alvin selesaikan.
"Al, aku punya sesuatu yang mungkin akan membantumu mencari tahu siapa sebenarnya musuh kita ini?! Sehingga mereka dengan berani mencuri formula blue dari kita, dan juga berani menculik Bryan." Ucap Rangga. Sambil menyerahkan ponselnya yang berisi rekaman percakapannya dengan salah satu orang yang kemarin dia temui.
Alvin menerima ponsel Rangga tersebut kemudian mendengarkan isi yang ada di rekaman tersebut, baik Sean, dan X ikutan mendengarkan dengan seksama isi dari rekaman yang barusan di serahkan oleh Rangga kepada Alvin.
"Brengsek!! Jadi sebenarnya Mario dalang dari penculikan anakku? Bisa-bisanya Dia mengira jika Bryan adalah cucunya." Ucap Alvin yang mulai emosi ketika mendengar satu persatu rekaman yang di berikan oleh Rangga, karena memang Rangga kemarin mendapatkan beberapa bukti soal Mario, termasuk jika Bryan kini berada di tangan Mario.
"Lantas apa yang harus kita lakukan tuan Al? Sedangkan kondisi tuan muda Bryan belum diketahui saat ini." Tanya X.
"Kamu!! Segera cari informasi sebanyak-banyaknya, kerahkan semua anak buah kamu untuk mencari keberadaan anakku Bryan," Ucap Alvin menunjuk X. "Dan kamu Sean, fokuskan cari tahu data-data siapa karyawan baru yang akhir-akhir ini masuk di laboratorium kita." Ucap Alvin.
"Baik tuan Al," Ucap Sean dan X kompak.
"Rangga dan aku akan memancing Mario keluar dari sarangnya, dan kami berdua yang akan menghadiri acara pelelangan besok." Ucap Alvin.
Rangga hanya manggut-manggut dengan apa yang di tugaskan kepadanya. Semua rencana telah di susun sedemikian rupa, agar tidak ada celah untuk Mario kabur.
"Sean, segera kabarkan ke Dave kalau si brengsek Niko dalang di balik semua kejadian di laboratorium. Biar Dave yang urus masalah laboratorium di USA ini, dan menghabisi penghianat itu." Ucap Alvin.
"Baik tuan Al, saya akan segera melaporkan masalah ini ke tuan Dave." Jawab Sean.
"Dan kamu X, siapkan semua anak buah bersiap di luar area pelelangan besok malam, aku tidak ingin ada kesalahan sedikitpun." Ucap Alvin.
"Baik tuan."
Setelah semua mendapatkan tugas masing-masing, ini Rangga dan Sean kembali ke kamarnya, sedangkan X segera mengumpulkan informasi tentang keberadaan Bryan sebelum matahari terbit esok hari.
Alvin yang memang belum bisa tenang selama belum menemukan anaknya itu, memilih untuk menahan dirinya tidak menghubungi Nabila, karena Alvin memang sudah mendengar semua tentang Nabila dari Jojo yang selalu mengirimkan email kepadanya.
*******************
Mario yang kini memang sedang membentuk sebuah organisasi, dan sudah mempunyai banyak anak buah, dan untuk bisa mengacaukan organisasi Perlindungan, Mario sengaja menculik Bryan yang dia kira sebagai cucunya. Supaya bisa dia didik dan dia besarkan, dan suatu saat akan jadi senjata utama untuk mengambil alih organisasi Perlindungan dari si kembar.
Rencana yang cukup bagus bukan? hanya Mario yang mempunyai rencana licik seperti itu, kini Mario sudah bergerak sejauh itu, dan dia tidak akan mundur dengan mudah. Bahkan Mario sudah membagi tugas dengan sekutunya yaitu Niko.
Jadi bisa dibayangkan bagaimana kekuatan Mario saat ini. Walaupun tidak sekuat organisasi perlindungan, namun dengan bersenjatakan Bryan yang ada di tangannya, Mario merasa pasti akan menang dan mampu mengambil alih organisasi perlindungan dari tangan si kembar.
Come on guys!! Apa mungkin rencana Mario berjalan dengan mudah? Baik Davin maupun Alvin, pasti tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Makanlah yang banyak supaya kamu cepat besar," Ucap Mario yang kini sedang duduk di meja makan bersama dengan Bryan.
"Jika kamu menuruti apa yang aku katakan, aku kan membawamu menemui papa kamu. Jadi makanlah dengan benar, dan bersikap baiklah dengan menuruti semua yang aku katakan." Ucap Mario dengan sorot mata tajam ke arah Bryan
"Katakan dulu sebenarnya kamu siapa? Setelah itu baru aku akan makan." Ucap Bryan.
Mario kemudian berdiri dari kursinya dan menghampiri Bryan, senyum licik tergambar jelas di wajahnya saat ini, tatapan mata Mario terlihat penuh dengan ancaman terhadap anak kecil yang usianya bahkan belum genap enam tahun.
"Kamu ingin tahu siapa aku?" Tanya Mario.
Bryan menganggukkan kepalanya, dengan tatapan samar-samar, karena jujur jika Bryan saat ini memang merasa ketakutan, apalagi pertemuannya dengan lelaki tua di depannya itu dengan cara yang tidak benar, yaitu dengan cara penculikan.
"Aku adalah kakekmu, papa dari mama kamu, jadi tidak seharusnya kamu takut terhadapku." Ucap Mario. "Makanlah dengan benar, aku tidak ingin kamu sakit saat ikut denganku."
Degg!!
Bryan yang memang tidak tahu jika dia punya kakek selain Dafa, hanya terdiam, dan menatap dalam-dalam terhadap laki-laki yang memang seusia dengan kakeknya.
"Aku tidak mengenalmu tidak mungkin kamu adalah kakekku, karena kakekku hanya satu, kakek Dafa seorang." Ucap Bryan tenang.
"Hey anak kecil, bagaimana kamu akan mengenalku jika kita tidak pernah di pertemukan sama sekali." Ucap Mario yang sudah mulai terpancing emosi. "Sebaiknya cepat makan makananmu, dan aku akan segera mempertemukan kamu dengan papa kamu, Dave." Ucap Mario dengan nada yang mulai meninggi.
'Apa benar jika dia adalah kakekku? Tapi kenapa Papa dan Mama tidak pernah cerita soal ini.' Batin Bryan.
Tanpa banyak bicara lagi, Bryan mulai makan makanan yang memang sudah di sediakan di meja makan. Senyum tipis penuh kemenangan terlihat di sudut bibir Mario saat ini.
'Sebentar lagi aku akan menguasai dunia mafia melalui anak ini. Aku akan mendidiknya supaya dia melawan orangtuanya sendiri suatu saat nanti.' Batin Mario. Kemudian Mario tergelak tawanya begitu kuat. Seolah dia sudah memenangkan pertarungan ini.
Setelah menyelesaikan makannya, anak buah Mario mengantarkan Bryan masuk ke dalam kamar yang memang sudah di sediakan untuk Bryan.
Bryan hanya berusaha menuruti perkataan Mario, walaupun Bryan tahu jika apa yang di katakan Mario tidaklah benar, yaitu soal perkataan yang bilang jika dia adalah kakeknya.
Bryan melihat kamar yang begitu luas dengan banyak mainan di sana, jiwa kekanak-kanakan nya pun muncul, dengan senyuman bahagia Bryan bermain dengan mainan yang memang telah Mario sediakan untuknya.
Mario yang melihat itu tertawa penuh kemenangan, bahkan Mario seolah sudah tidak sabar untuk melihat Bryan tumbuh dewasa dan bertarung melawan Davin dan juga Alvin.
"Ha-ha-ha, lihatlah dia, dia begitu bahagia walau hanya di beri mainan. Aku pasti akan jadi ketua mafia dunia. Pasti!! Ha-ha-ha." Ucap Mario dengan tawanya.
Para anak buahnya pun ikutan tertawa bahagia, karena melihat sang boss bahagia. Setelah itu Mario pergi dari rumah mewahnya untuk melihat persiapan pelelangan.
Karena saat ini Mario mengincar senjata formula blue, dan juga berlian yang harganya mencapai triliunan itu. Untuk dia jual kembali dengan harga yang lebih mahal pastinya.
Bersambung.