She Is My Sweet Wife 02 (The Series)

She Is My Sweet Wife 02 (The Series)
Apa kabar Mario??



Rangga dan Alvin berjalan menuju ke tempat dimana Mario di kurung dan di jaga dengan ketat oleh anak buahnya. Smirk wajah Alvin sungguh tidak bisa terbaca oleh Rangga. Namun sepertinya ini akan jadi sesuatu yang lebih mengerikan dan tidak akan bisa di bayangkan oleh siapapun.


Langkah panjang Alvin menandakan jika Alvin seakan sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Mario. Amarah Alvin seakan sudah di ubun-ubun ketika Mario dengan terang-terangan menyatakan perang dengannya.


Bagi Alvin, siapapun yang dengan berani mengusik keluarganya, maka itu sebagai pertanda jika mereka menginginkan kematiannya secara tidak langsung di tangan Alvin atau organisasi Perlindungan.


Tidak lama keduanya sudah sampai di mana Mario di tahan dengan pengamanan yang ketat. Mata tajam Alvin seakan memberi isyarat jika saat ini jangan sampai ada yang mengganggu kesenangannya.


Kesenangan dalam arti memberi pelajaran kepada Mario. Orang yang dengan sengaja menculik putranya, dan juga berani mengancamnya dengan memakai nama Bryan.


"Selamat datang Tuan." Sapa mereka semua kepada Alvin dan Rangga yang baru saja datang.


"Hem," Jawab Alvin.


Rangga hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah mereka semua yang membungkukkan badan menyapa kedatangan keduanya.


Seakan mengerti akan tujuan kedatangan Alvin dan Rangga, salah satu penjaga itu menunjukkan jalan menuju ke sebuah ruangan dimana Mario di tahan.


"Wah wah, ternyata menantuku masih punya waktu untuk datang menjengukku, atau kedatangan menantuku ini untuk membebaskanku dari cengkeraman orang-orang yang tidak bertanggung jawab ini." Ucap Mario yang kemudian beranjak berdiri dari lantai dingin di kamar tersebut.


Mario dengan senyum tanpa dosanya mendekati Alvin dan seakan ingin memberikan sebuah pelukan. Dengan sebelah tangannya Alvin menghadang langkah Mario sehingga Mario berhenti beberapa langkah di depan Alvin.


'Dasar tidak tahu malu, bagaimana bisa Dave mempunyai mertua seperti ini, tidak bisa aku bayangkan bagaimana kehidupan Kiki sebelum menikah dengan Dave.' Batin Alvin sambil matanya memperhatikan Mario yang masih berdiri di depannya.


"Ayolah menantu, jangan terlalu di ambil hati tentang ucapanku waktu di acara pelelangan. Aku hanya terbawa suasana." Ucap Mario berusaha mencairkan ketegangan di dalam ruangan itu. "Lagi pula saat ini aku sudah tidak menginginkan formula blue itu lagi."


Alvin mengerutkan keningnya, matanya tajam melihat ke arah Mario, ternyata Mario belum menyadari kesalahannya saat ini. Dia hanya berpikir jika formula blue adalah penyebab dirinya di tahan oleh Alvin (menurut Mario itu adalah Davin).


Sungguh benar-benar memancing emosi Alvin saat ini. Alvin kemudian melihat Mario dari ujung rambut sampai ujung kaki, matanya seolah sedang meneliti bagian mana yang akan dia lukai terlebih dahulu.


Alvin berjalan maju mendekat ke arah Mario, memutari tubuh Mario sambil terus mengamati tubuh Mario yang terlihat sedikit gemetar. Sebenarnya Alvin dapat melihat ketakutan di raut wajah Mario saat ini.


Namun emosinya sudah menguasai akal sehatnya, sehingga Alvin lebih tertarik untuk segera membuat Mario terdiam untuk selamanya. Tapi Alvin masih waras untuk melakukan hal itu dan Alvin tetap akan menyerahkan Mario ke tangan Jojo.


Tatapan mata Alvin yang terlihat misterius dan mematikan bagi siapapun yang melihatnya, membuat Rangga yang ada di tempat itu ikut merinding, apalagi Rangga belum pernah melihat Alvin sebegitu marahnya seperti sekarang.


"Ternyata selain tidak tahu malu, penyakit kepercayaan dirimu terlalu tinggi pak tua, bukankah kamu bilang jika tidak terima karena penculikan ini dan mengancamku dengan memakai nama anakku untuk kamu bunuh." Ucap Alvin yang masih memutari tubuh Mario sambil menepuk-nepuk bahunya. Seolah tepukan di bahu Mario itu sebagai pertanda sebuah ancaman sedang diberikan oleh Alvin.


Glegg!!


Dengan susah payah Mario menelan ludahnya sendiri ketika mendengar ucapan Alvin, padahal di saat dia mengumpat dengan mengancam untuk membunuh Bryan hanyalah gertakan semata.


Melihat ekspresi Mario yang terlihat sangat ketakutan, membuat Rangga seakan ingin tertawa lepas, namun sebisa mungkin Rangga menahannya dan menutup mulutnya dengan tangannya.


"Haha, mana mungkin aku akan membunuh cucuku sendiri Dave, dia cucu pertamaku, bagaimana aku bisa mengancam kamu dengan memakai namanya." Ucap Mario sambil tertawa getir penuh ketakutan.


"Ck,ck,ck, Mario, Mario, apa kamu kira aku tidak tahu kalau kamu sudah menculik anakku, hah?!" Ucap Alvin seakan tidak percaya jika lelaki tua di hadapannya ini benar-benar tidak tahu malu. "Kamu seharusnya tahu betul apa hukumannya jika berani mengusik keluargaku, Mario!!" Ucap Alvin setengah berbisik di dekat telinga Mario.


Seketika bulu kuduk Mario berdiri, seolah menandakan jika ketakutannya semakin meningkat seiring dengan ucapan Alvin. Bagaimana bisa Alvin mengetahui hal itu? Apa mungkin Alvin sudah tahu sejak awal dan mengejarnya sampai di acara pelelangan? Begitulah kira-kira yang ada di kepala Mario.


"Kenapa?? Kamu terkejut karena aku sudah mengetahuinya? Atau kini kamu takut, Hah?" Ucap Alvin dengan masih mengitari tubuh Mario yang seakan mematung di tempatnya.


Kemudian Alvin menghentikan langkahnya tepat di depan Mario, Maya tajam Alvin melihat ke arah manik mata Mario, seolah dengan tatapan mata dari Alvin saja Mario akan mati saat itu juga.


Mario benar-benar kalah telak kali ini, tidak ada lagi alasannya untuk berkelit, bagaimanapun pemuda di hadapannya ini sudah tahu segalanya. Bahkan sampai masalah penculikan yang di lakukannya saja sampai tahu.


"Dave, aku minta maaf, aku hanya ingin bertemu dengan cucuku, apalagi setelah kalian menikah dan punya anak, aku tidak pernah bertemu dengan Kiki hingga saat ini, makanya aku melakukan hal bodoh itu." Ucap Mario setenang mungkin supaya Alvin bisa meredakan emosinya yang siap meledak setiap saat.


"Hahaha, maaf katamu? Ha-ha-ha, kenapa kamu terasa begitu menggelikan pak tua, dan itu terlihat sangat lucu. Ha-ha-ha." Ucap Alvin tergelak tawanya.


Dan entah kenapa mendengar Alvin tergelak tawanya, membuat Mario semakin merinding dan takut. Pemuda di depannya ini tidak bisa di anggap remeh, apapun bisa saja terjadi saat ini.


Semakin Alvin tergelak tawanya, semakin membuat Mario ciut nyalinya, apalagi saat ini Mario tidak mempunyai pengawal. Tidak ada yang bisa menyelamatkan dirinya saat ini.


Hanya dirinya sendiri yang bisa di andalkan saat ini. Mario mencari akal supaya tidak mati konyol di tempat tersebut. Walaupun Mario harus menyembah kaki pemuda itu akan dilakukannya selama nyawanya selamat.


"Aku benar-benar minta maaf Dave, aku hanyalah seorang kakek tua yang tidak tahu malu." Ucap Mario yang tiba-tiba berlutut di hadapan Alvin.


Sejenak Alvin melihat ke arah Mario, kemudian Alvin melihat Rangga yang dari tadi hanya jadi penonton pertunjukan hebat itu secara live, seringai muncul di bibir Alvin.


Alvin memberi isyarat supaya Rangga mengambilkan sesuatu untuknya, awalnya Rangga tidak mengerti, namun setelah melihat ke arah tangan Alvin akhirnya dia paham.


'Al benar-benar tidak waras.' Batin Rangga, namun walaupun Rangga berpikir begitu, seringaian penuh kepuasan tergambar jelas di wajah Rangga.


Tidak bisa membunuh Mario secara langsung, namun tidak membuat Alvin kehabisan akal. Sungguh semua di luar pemikirannya saat ini. Tapi Rangga sangat bangga dengan Alvin.


Rangga yang seolah mengerti maksud Alvin, maka dengan segera Rangga keluar dari ruangan itu menuju ke sebuah tempat mengambil sekotak berwarna putih dan kembali menuju ke ruangan dimana Alvin sedang bersenang-senang.


Mario sangat terkejut melihat apa yang di bawa oleh Rangga saat ini, wajah penuh ketakutan semakin tergambar jelas di wajahnya. Tidak lama kemudian dua orang bodyguard muncul di belakang Rangga.


Bersambung..