
Padahal dahulu keluarga dari para sahabatnya itu adalah termasuk keluarga yang sangat kaya dan pengusaha sukses. Tapi entah kenapa semua jadi seperti ini, mungkin benar jika roda akan terus berputar, tidak selamanya orang kaya akan tetap kaya dan tidak selamanya juga orang miskin akan tetap miskin.
Kini Davin dan Alvin memutuskan bahwa apartemen tersebut di jadikan basecamp mereka, karena memang apartemen itu tidak pernah di tempati. Dan juga Davin dan Alvin meminta salah satu dari mereka untuk menempati apartemen tersebut agar tidak kosong.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam, karena keasikan ngobrol mereka sampai lupa waktu, kini Davin dan Alvin meninggalkan apartemen tersebut untuk menuju ke rumah masing-masing.
Sesampainya di rumah, Davin melihat Kinan yang tertidur di sofa ruang tamu, dengan kondisi TV yang masih menyala.
"Sayang kok tidur di sini?" Gumam Davin, setelah menggulung lengan bajunya Davin pun bersiap untuk mengangkat tubuh Kinan dan memindahkannya ke kamar.
Dengan perlahan Davin mengangkat tubuh di Kinan dan menggendongnya untuk masuk ke kamar. Kinan menggeliatkan badannya saat sudah berada di gendongan Davin. Namun bukannya bangun, Kinan justru membenamkan wajahnya ke dada bidang Davin seakan mencari kenyamanan di sana.
Setelah sampai di dalam kamarnya, Davin meletakkan tubuh istrinya perlahan di atas kasur, kemudian menyelimuti tubuhnya dengan bed cover.
Davin bersiap untuk membersihkan diri, karena tubuhnya sudah terasa lengket akibat seharian berada di kantor, belum lagi tadi berjumpa dengan teman-temannya di apartemen lama. Sehingga membuat tubuh Davin terasa gerah.
***************************
Di tempat yang berbeda Alvin juga baru sampai di rumah, suasana rumah yang sudah begitu sepi membuat Alvin langsung menuju ke kamarnya. Alvin menghampiri box bayi yang terletak di samping ranjangnya, kemudian mengecup kening Erick sekilas.
"Jagoan Papa pulas benar tidurnya." Gumam Alvin lalu meletakkan jas nya di tempat biasa.
Seakan mendengar suara Nabila pun menggeliat dan membuka matanya, seolah mencari sumber suara yang berhasil membangunkannya.
"Mas baru pulang?" Tanya Nabila dengan suara serak khas bangun tidur, mendengar suara Nabila, Alvin pun mendekat dan duduk di sisi ranjang, kemudian mengecup kening Nabila.
"Maaf aku pulang telat sayang, tadi ketemu dengan Rangga, Farrel dan juga Bima, keasikan ngobrol hingga lupa kalau udah larut malam, makanya telat sampai rumah." Ucap Alvin.
"Oh, ya udah, mas mandi dulu sana biar segar dan tidurnya pulas nanti." Ucap Nabila yang kini sudah duduk dan menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.
"Baiklah sayang aku mandi dulu, tungguin ya jangan sampai tidur sebelum aku selesai mandi." Ucap Alvin.
Nabila mengerutkan keningnya, tidak mengerti akan maksud dari Alvin, dengan tatapan yang seakan bertanya, kenapa memintanya untuk menunggu? Apa ada hal penting yang harus dibicarakan malam ini? Sehingga Alvin memintanya untuk menunggu.
Melihat kebingungan Nabila, Alvin hanya tersenyum penuh arti, dan senyuman Alvin membuat Nabila bergidik ngeri.
"Aku menginginkanmu malam ini sayang." Bisik Alvin tepat ditelinga Nabila. Sehingga membuat Nabila membelalakkan matanya karena terkejut.
"Mas,?!" Ucap Nabila tersipu malu.
Kalau lampu di kamarnya terlihat terang, mungkin wajah merah merona Nabila bisa dilihat juga oleh Alvin. Tapi sayang yang aku di dalam kamar tersebut hanya remang-remang.
Ekspresi Nabila yang malu-malu membuat Alvin akan terpacu oleh gairahnya. Kemudian Alvin mendekat lalu mencium bibir Nabila dan melumatnya sekilas.
Nabila menganggukkan kepalanya perlahan, sebagai tanda jika dia menyetujui apa yang dikatakan oleh Alvin. Senyuman Alvin yang penuh arti dan misterius itu, membuat Nabila semakin tersipu malu.
Alvin pun meninggalkan Nabila untuk menuju ke kamar mandi, senyuman penuh arti dari sudut bibir Alvin, terus terukir sampai dia berada di kamar mandi.
Dan memang semenjak Nabila melahirkan anak kedua dan kini usia Erick yang sudah menginjak 1 tahun, mereka berdua jarang melakukan 'nana-nena', jadi wajar jika Alvin sangat merindukan hal tersebut.
Mungkin Alvin bisa menahannya, tapi bagaimana dengan si Alvin junior? Apa dia juga mau lama-lama berpuasa? Tentu saja jawabannya adalah 'TIDAK'.
Ritual mandi Alvin malam itu berjalan begitu lancar dan cepat, karena apa? Ya tentu saja karena dia menginginkan untuk 'nana-nena' pastinya.
Karena selama ini Alvin selalu saja menahan hasratnya, dikarenakan alasan Nabila yang sedang menyusui ASI eksklusif. Dan saat ini ASI eksklusif sudah lama berlalu, tapi justru karena beberapa pekerjaan yang harus dikerjakannya membuat Alvin tidak bisa melakukan hal itu.
Apalagi waktu itu Alvin harus ke Spanyol untuk membebaskan Kinan, setelah dari Spanyol, Alvin dan Nabila harus pergi ke kota S untuk menghadiri pernikahan Ara dan Arka, jadi hal itulah yang membuat Alvin harus berpuasa untuk beberapa saat.
Dan kali ini Alvin tidak akan mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada, sungguh Alvin sudah tidak dapat lagi menahan hasratnya. Dan Nabila mengerti akan hal itu.
"Mas, bagaimana kalau Erick nanti terbangun?" Tanya Nabila setengah berbisik.
"Pelan-pelan, jangan sampai membangunkan Erick." Ucap Alvin.
Tanpa di suruh dan di komando, tangan Nabila sudah melingkar indah di leher Alvin, dan Alvin yang hanya menggunakan handuk, sudah berada di atas tubuh Nabila, lalu mulai mencium bibir Nabila dengan lembut.
Bahkan Alvin mulai melumatnya pelan, menyesapnya, sehingga membuat Nabila ikut terbawa arus yang di ciptakan oleh Alvin, tubuh keduanya kini mulai terasa memanas seiring dengan ciuman yang kini mulai saling melumat dan melilitkan lidah satu sama lain.
Desahan lirih terdengar samar-samar di telinga Alvin, namun itu mampu membuat Alvin semakin bergairah, seringai senyum tampak terlihat di sudut bibir Alvin saat ini.
Senyuman yang haus akan sesuatu yang sekian bulan tidak dia rasakan, sesuatu yang selalu membuatnya seakan terbang melayang, sesuatu yang bagaikan morfin bagi Alvin, sehingga selalu membuat Alvin ketagihan, menginginkan lagi dan lagi.
Setiap inchi dari tubuh Nabila tidak ada yang terlewatkan oleh Alvin, beberapa tanda merah di leher Nabila sebagai bukti nyata jika Alvin lah satu-satunya pemilik tubuh itu. Bukan hanya di leher, beberapa tempat sensitif milik Nabila tidak luput dari sentuhan Alvin.
"Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu." Bisik Alvin yang bersiap di sesi akhir dari rasa penuh dengan kenikmatan itu. Nabila tidak mampu lagi menjawab, karena sudah di penuhi oleh kabut gairah yang tak bertepi.
Tak di pungkiri jika Nabila juga menginginkan hal yang sama saat ini, kedua insan yang sedang asyik berbagi peluh itu pun sama-sama terkulai lemas, setelah mereka sama-sama mencapai puncaknya.
"Love you mas," Ucap Nabila sambil memeluk tubuh Alvin yang masih memposisikan diri di atas tubuhnya.
"Love you more sayang." Ucap Alvin lalu mencium kening Nabila penuh cinta. Setelah itu Alvin menjatuhkan tubuhnya di samping Nabila.
Bersambung..