
Nabila yang masih kalut dengan tidak adanya kabar tentang Bryan, membuatnya lebih banyak menyendiri dan melamun. Air mata terus mengalir di kedua pipinya. Perasaannya sebagai seorang ibu, yang kehilangan anaknya membuat Nabila seperti tidak memiliki gairah untuk hidup lagi.
'Kamu dimana sayang? Mama merindukanmu.' Batin Nabila yang duduk di atas ranjang sambil memangku sebuah bantal. Air matanya masih terus mengalir di kedua pipinya.
Tidak ada gairah untuk melakukan apapun, sampai-sampai kini Erick lebih banyak bersama dengan baby sitter nya. Sungguh memperihatinkan keadaan Nabila saat ini. Sudah bagaikan mayat hidup.
"Sus, bagaimana keadaan Nabila?" Tanya Kinan yang baru saja sampai di rumah besar itu. Karena sesungguhnya Kinan juga merasakan luka yang sama walaupun Bryan bukan anak kandungnya sendiri.
"Masih sama seperti kemarin Non Kinan. Dia tidak mau makan sebelum ada kabar dari tuan muda Bryan." Ucap baby sitter yang saat ini sedang menggendong Erick yang rewel.
"Huh, ya sudah sus, biar aku yang bujuk dia. Kasihan Erick jika begini terus." Ucap Kinan yang akhirnya berjalan menuju ke kamar Nabila.
Setelah sampai di depan kamar Nabila, Kinan mengetuk pintu lalu kemudian langsung membukanya tanpa menunggu jawaban dari Nabila. Melihat jika Kinan yang datang, dan duduk di sisi ranjang, membuat Nabila justru semakin kencang menangis.
"Billa, kamu jangan khawatir, tadi mas Dave sudah mendapatkan kabar dimana Bryan berada, dan kemungkinan besar, besok Bryan sudah diajak kemari." Ucap Kinan sambil memeluk Nabila dan mengelus-elus punggung Nabila, seakan ingin menyalurkan kekuatan supaya Nabila tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
Mendengar ucapan Kinan, Nabila mendongakkan kepalanya ke arah Kinan. Menatapnya dengan penuh harap, jika apa yang dikatakan oleh Kinan adalah benar adanya.
Kinan yang mengerti akan tatapan mata dari Nabila, mengangguk pelan sambil tersenyum, Nabila yang merasa jika Kinan tidak berbohong, kemudian mengusap sisa air matanya dengan punggung tangannya.
"Kamu tidak bohong kan Kiki? Aku tidak sanggup lagi untuk menerima kebohongan." Ucap Nabila.
"Iya Bil, percayalah padaku besok Bryan anak kita akan kembali, saat ini ini mas Dave dan kak Jojo sedang menjemputnya." Ucap Kinan. "Makanya kamu harus terlihat sehat, makanlah yang banyak biar kamu punya tenaga untuk bertemu dengan Bryan nanti."
Nabila yang seakan mendapatkan secercah harapan akan kembalinya sang buah hati, terlihat senang. Kinan yang melihat perubahan itu, kemudian mengambil nampan yang ada di meja, lalu menyuruh Nabila untuk makan.
"Kamu beneran tidak bohong kan Kiki?" Tanya Nabila berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Apa perlu aku menghubungi mas Dave, supaya kamu percaya padaku?" Tanya Kinan supaya Nabila percaya padanya.
"Tidak perlu Ki, aku akan segera makan." Ucap Nabila. Dengan segera Nabila menyuap makanan itu ke mulutnya. Seolah tidak memperdulikan rasa makanan yang telah dingin, Nabila tetap berusaha menelan makanan itu dengan susah payah.
Kinan hanya tersenyum melihat Nabila yang kini makan dengan lahapnya. Nasi yang ada di piring itu pun telah kandas tak bersisa. Setelah itu Kinan mengambil nampan dari pangkuan Nabila untuk di letakkan di meja.
"Al tadi menghubungiku, dia bilang kalau kamu tidak mengangkat panggilan darinya, padahal Al ingin memberitahumu kabar baik tentang keberadaan Bryan." Ucap Kinan.
"Hah, benarkah?"
"Hem, kenapa kamu tidak mengangkat telepon darinya? Al terdengar cemas tentang kondisi Billa." Ucap Kinan.
"Aku tidak tahu Ki, karena aku silent ponselku, aku belum siap mendengar kabar jika terjadi apa-apa dengan Bryan." Ucap Nabila.
Kinan hanya tersenyum mendengar ucapan Nabila, dia memahami jika Nabila tidak siap akan kabar buruk apapun. Sebagai sesama wanita dan sebentar lagi Kinan juga akan menjadi seorang ibu, maka Kinan tahu betul bagaimana rasa sedihnya Nabila.
"Percayalah Bil, Bryan pasti akan baik-baik saja, kak Jojo dan mas Dave pasti akan melakukan apa saja untuk membawa Bryan kembali." Ucap Kinan kemudian memeluk Nabila.
Nabila merasa tenang saat dapat support dari Kinan, bahkan Nabila merasa sangat bahagia mempunyai keluarga seperti Kinan. Yang selalu memberikan dukungan terhadapnya.
Nabila membalas pelukan Kinan, bahkan Nabila merasa nyaman berada dalam pelukan Kinan, seperti dalam pelukan seorang ibu yang menenangkan hatinya.
*********************
Setelah Nabila tenang dan keadaannya semakin membaik, akhirnya Kinan memutuskan untuk kembali ke rumahnya, dengan di antar sopir.
'Betapa terpukulnya Billa saat ini, apalagi belum tanda-tanda Bryan ada di Jakarta, mas Dave tadi tidak bilang sebenarnya dimana Bryan saat ini. Dan siapa sebenarnya yang menculik Bryan.' Batin Kinan. Dengan matanya melihat keluar jendela mobil yang sedang melaju ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Kinan yang terlihat capek itu langsung menuju ke kamarnya, maklum jika Kinan mudah lelah, mengingat perutnya yang sudah mulai membuncit. Kehamilan pertamanya ini yang di perkirakan hamil kembar 3 baby girl itu terlihat begitu besar, berbeda dengan kehamilan normal pada umumnya.
Kinan meletakkan tas yang ada di tangannya ke atas meja rias. Kemudian Kinan berniat untuk mandi. Apalagi saat ini sudah sore, karena tadi begitu lama Kinan ada di rumah Nabila, menemaninya hingga Nabila yang kalut sedikit merasa tenang dan nyaman.
'Mas Dave, semoga apa yang mas ucapkan tadi, segera menjadi kenyataan dan Bryan akan kembali ke dalam pelukan Nabila, kasihan Nabila jika harus berlama-lama pisah dengan Bryan.' Batin Kinan. Di sela-sela menyiapkan baju ganti yang akan dia kenakan nanti.
Grebb!!
"Aaaarrrhhh."
Kinan terkejut dan melompat ketika ada seseorang yang memeluknya dari belakang, sehingga hampir saja Kinan terjatuh.
"Hati-hati sayang," Bisik Davin yang langsung menangkap tubuh Kinan supaya tidak terjatuh. Dan memang Davin sudah ada di kamarnya dari tadi.
"Mas Dave, kenapa mengangetkanku sih, untung tidak jatuh." Gerutu Kinan, ketika dia mengetahui siapa yang sedang memeluknya.
"Maaf, jika aku mengagetkan kamu sayang, padahal udah dari tadi aku ada di kamar." Ucap Davin yang kemudian mengecup kening Kinan dengan penuh cinta. "Aku lihat dari tadi kamu melamun, sebenarnya kamu sedang memikirkan apa sayang? Jangan sampai gara-gara terlalu banyak pikiran membuat kandungan kamu bermasalah nanti."
"Aku tadi ke rumah Al, melihat kondisi Nabila. Aku prihatin melihat kondisi Nabila saat ini mas, dia sudah seperti mayat hidup yang tidak punya gairah lagi." Ucap Kinan. "Ini gara-gara aku tidak bisa menjaga Bryan dengan baik."
"Ssstttt, ini bukan salah kamu sayang." Ucap Davin menempelkan jari telunjuknya tepat di depan bibir Kinan. Membuat Kinan terdiam dan menatap lekat ke arah Davin.
"Kamu jangan berpikir yang macam-macam, nanti malam aku akan menjemput Bryan pulang." Ucap Davin berusaha menenangkan Kinan yang kembali menyalahkan dirinya sendiri.
"Mas tidak bohong kan?" Tanya Kinan yang hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri jika Davin tidak berbohong.
"Iya sayang, anggota kepolisian sudah bersiap untuk mengepung tempat dimana Bryan di sekap, jadi kamu tenang, dan percayalah aku tidak akan mengecewakan kamu sayang." Ucap Davin kembali mengecup kening Kinan begitu lama. Seolah Davin sangat merindukan momen ini.
"Mas,"
"Hem."
"Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kamu, jadi berhati-hatilah mas, jangan sampai kejadian waktu menyelamatkan Ara terulang kembali." Ucap Kinan sambil memainkan jarinya di dada Davin. yang seakan tidak rela jika Davin mengalami kejadian buruk.
Masih segar di ingatan Kinan waktu itu kaki Davin tertembak karena menyelamatkan Ara dan mama Risma, di saat bagi mereka itu adalah malam pertama.
"Iya, aku janji, aku akan kembali dalam keadaan baik-baik saja." Ucap Davin. Kemudian Davin mengecup bibir Kinan dan menyesapnya.
Seolah terlena dengan ciuman suaminya, Kinan membalas ciuman tersebut dengan lembut dan mereka saling melilitkan lidah, bertukar saliva seolah ingin menyalurkan hasrat yang lama terpendam satu sama lain.
Dan memang selama Kinan hamil, Davin jarang mendapatkan kehangatan bagi juniornya, dan ciuman kali ini mampu membangkitkan gairahnya yang lama terpendam.
"Aku menginginkanmu sayang," Bisik Davin. Dengan suara serak penuh gairah.
Kinan tersenyum lalu menganggukkan kepalanya pertanda setuju, dan kali ini Davin menggendong tubuh Kinan menuju ke atas ranjang.
Entah siapa yang duluan memulai, kini mereka sudah tidak mengenakan baju sama sekali, nafas keduanya saling memburu, seolah ingin memuaskan hasrat mereka masing-masing.
"Kemarilah." Ucap Davin.
Kinan yang tidak mengerti apa maksud sang suami hanya mengikuti kemauannya, dan duduk di atas tubuh sang suami.
"Puaskan aku sayang, dan tugasmu untuk memimpin kali ini." Ucap Davin yang meminta Kinan supaya berada di posisi atas.
"Tapi.." Ucap Kinan terlihat malu-malu.
"Ssstttt, aku tidak mau anak kita terbebani, jadi aku ingin kamu yang memimpin." Ucap Davin sambil menempelkan jari telunjuk di bibir Kinan.
Akhirnya dengan pergerakan yang masih kaku, Kinan memulai mengikuti irama permainan dari Davin. Dan entah kenapa Kinan justru semakin lama semakin bersemangat.
Perutnya yang membesar tidak menghalanginya untuk merasakan kenikmatan yang memang di rindukannya. Benar-benar kenikmatan yang dia inginkan.
Pergerakan Kinan semakin membuat Davin melenguh nikmat, sungguh sore hari ini adalah sore hari yang paling berkesan baginya, apalagi nanti malam adalah hari dimana dia akan melakukan penyerangan ke mansion Mario. jadi seolah saat ini adalah saat yang paling di butuhkan Davin sebagai penyemangat.
Dan anggap saja ini adalah vitamin atau suplemen untuk Davin, sebelum Davin benar-benar bertempur dalam arti yang sesungguhnya untuk menyelamatkan Bryan dari cengkeraman Mario.
Bersambung..
Yuk gabung di group ayu..
dengan cara klik detail novel ayu ya..
terus di bawahnya tulisan vote kan ada tuh tulisan grup Rahayu avilia, nah klik di situ...
lalu masuk di group ayu di situ...
biar kita bisa saling kenal..
saling sapa..
kata orang tak kenal maka tak sayang lho.. yuk ah kita kenalan di group "Rahayu avilia" ..
selamat membaca ya dan love you all..