
Perjalanan bisnis kali ini adalah menghadiri pelelangan, dan yang menjadi target adalah siapapun yang membeli formula blue, harus di habisi, begitulah perintah dari ketua mafia dunia, yang sekaligus adalah sahabatnya sendiri.
"Tania, kamu siapkan semua berkas-berkas dan juga jadwal kerjaku, apa saja yang harus aku lakukan selama kita Bali." Ucap Sean ketika sedang di salah satu lobby hotel di Bali.
"Oke, aku akan siapkan semua, sekalian jadwal dari Tuan Dave, untuk Rangga." Ucap Tania.
"Rangga, tugas kamu hanya satu, fokus mencari target di tempat pelelangan khusus." Ucap Sean melihat ke arah Rangga.
"Iya aku mengerti," Ucap Rangga sambil tersenyum, lalu kemudian kembali melihat ke ponselnya.
Mata Rangga masih terlihat fokus dengan ponselnya, sehingga tidak memperdulikan interaksi antara Sean dan juga Tania. Karena entah kenapa Sean dan Tania terlihat begitu dekat.
"Sean, Apa kamu tidak ingin kembali ke Belanda?" Tanya Tania.
"Tuan muda sudah memerintahkan aku, untuk melakukan tugas di sini ataupun mengikuti kemana tuan muda pergi, jadi kemungkinan untuk menetap di Belanda sangat tipis." Ucap Sean dengan menyandarkan badannya di sandaran kursi di lobby hotel, karena mereka sedang duduk santai di sebuah lounge. "Memangnya kamu mau ke Belanda lagi? Tidak takut kalau bertemu dengan mantan pacar kamu yang akan menjualmu itu?" Tanya Sean seperti mengejeknya.
"Ish, bukan begitu, karena memang aku merindukan suasana di Belanda, aku merindukan Mama." Ucap Tania, kemudian wajahnya berubah sedih.
Sean tiba-tiba merasa bersalah akan ucapannya barusan, karena mungkin saja itu menyakiti Tania, Rangga yang mendengar hal itu melirik sekilas ke arah Tania. Kemudian kembali fokus ke ponselnya.
Entah apa yang menarik dengan isi dari ponselnya itu, sehingga Rangga seakan tidak memperdulikan sekitarnya dan hanya fokus ke layar ponsel yang sedang dipegangnya.
'Jadi Tania ini pernah di Belanda? Apa wanita ini yang di maksudkan oleh Dave waktu itu. Cukup menarik, tapi sayang sepertinya dia menyukai Sean. Apes nasib kisah cintaku yang belum di mulai sudah kandas duluan.' Batin Rangga.
Karena memang wanita yang dimaksudkan oleh Rangga adalah Tania, wanita yang pernah dijumpainya sekali itu, dan mampu membuatnya tertarik. Dan ini sebuah kebetulan atau memang sudah takdir mereka di pertemukan di satu perusahaan yang sama dengan bos yang sama juga.
Beberapa waktu yang lalu Rangga bertemu Tania di warung tenda milik keluarganya, yang memang menyediakan masakan seafood, karena buka nya memang malam hari, dan waktu itu Tania yang terlihat sedang lapar, memasuki warung tenda milik keluarganya tersebut, dan kebetulan Rangga yang membantu untuk melayani para pengunjung yang datang.
Karena baru sekali ketemu mungkin Tania tidak mengenalinya, tapi Rangga sangat jelas mengenal sosok Tania, setelah pertemuannya di warung tenda itu Rangga diam-diam selalu mencari tahu tentang Tania.
Dan di sinilah mereka sekarang, duduk dalam satu meja, namun seperti tidak saling kenal, karena memang Rangga yang sering mendapatkan tugas luar, jarang ketemu dengan Tania yang selalu berada di kantor sebagai asisten sekretaris untuk Sean.
Dan Sean adalah tangan kanan Davin, dalam mengurus semua keperluan dan kemajuan perusahaan, mereka bertiga tampak tidak begitu akrab satu sama lain, dan terlihat sangat canggung serta kaku.
"Tenang saja pasti nanti akan ada masanya kamu bisa bertemu dengan mama kamu, jadi bersabarlah." Ucap Sean berusaha menenangkan Tania.
"Iya juga, siapa tahu aja bos Dave ada perjalanan ke Belanda dan membawa serta aku bersamanya." Ucap Tania berbinar bahagia, seolah berharap hal itu akan terwujud. Sean hanya tersenyum sambil menoyor kening Tania dengan jari telunjuknya.
"Mimpimu terlalu tinggi Nona." Ucap Sean.
"Kenapa selalu menghancurkan lamunanku sih." Ucap Tania terlihat kesal, dan memang begitulah mereka berdua, selama hampir tujuh tahun bekerja di perusahaan yang sama dan melayani bos yang sama.
Sebenarnya Rangga juga ingin melakukan hal yang sama, namun Rangga menahannya, dan tidak mau mengganggu kebahagiaan Tania dan juga Sean. Bahkan Tania selalu terlihat bahagia saat ngobrol dengan Sean.
"Oh ya Rangga, Aku jarang melihatmu di kantor, apa kamu memang bukan bekerja di kantor pusat? Atau kamu memang bekerja bagian lapangan? Sampai-sampai aku jarang bertemu denganmu." Tanya Tania beruntun.
Rangga yang tadinya hanya fokus ke layar ponselnya, kemudian menoleh ke arah Tania, dan juga Sean. Sekilas pandangan matanya saling beradu dengan Sean dan Tania.
"Bisa di bilang begitu, dan ini tugas pertamaku untuk keluar kota, karena memang aku baru gabung di perusahaan ini lima bulan lalu." Jawab Rangga.
Sean mengerutkan keningnya, dan menatap ke arah mata Rangga, seolah tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Rangga, namun reaksi berbeda di tunjukkan oleh Tania, dia hanya manggut-manggut percaya.
Karena memang Tania tidak baru beberapa kali bertemu dengan Rangga baru-baru ini.
"Oh begitu, jadi sebelumnya kamu kerja dimana?" Tanya Tania.
"Hanya perusahaan-perusahaan kecil, dan itu pun hanya posisi karyawan biasa, tidak begitu penting." Jawab Rangga.
"Apapun itu pekerjaannya yang penting kita bisa memenuhi kebutuhan sendiri tanpa meminta ke orangtua." Ucap Tania.
"Setuju," Jawab Rangga. "Kalau kamu sendiri berapa lama kamu kerja di perusahaan D.A group?" Tanya Rangga.
"Aku bergabung sekitar lima tahun lebih, sebelum Tuan Dave menikah, aku sudah ikut bergabung dengan Tuan Dave," Ucap Tania.
"Oh begitu, sepertinya kamu betah bekerja di perusahaan ini." Ucap Rangga seakan ingin tahu lebih lanjut. Sean hanya diam menyimak obrolan kedua orang di depannya.
"Punya bos sebaik Tuan Dave, gimana gak betah coba, dia menganggap karyawan seperti bagian keluarganya sendiri, bahkan tidak membeda-bedakan status kami." Ucap Tania.
"Yups betul banget, Dave memang seperti itu dari dulu, dia tidak pernah memandang status sosial." Ucap Rangga.
"Kamu udah lama kenal dengan Tuan Dave? Sampai-sampai berani memanggilnya hanya dengan sebutan nama." Ucap Sean yang mulai penasaran dengan kedekatan Rangga dan Davin.
"Kami sahabat baik semenjak pertama kali menginjakkan kaki di kampus sampai sekarang." Ucap Rangga.
Sean hanya manggut-manggut seperti mengerti kenapa dia sampai bertemu dengan Rangga pass penyerangan di villa Martin beberapa tahun silam. Dan Tania hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O.
'Pantas jika Rangga menjadi orang yang di percaya boss Al untuk menemukan Mario, karena Rangga sudah tahu tentang organisasi Perlindungan. Dan Rangga salah satu orang kepercayaan boss Al, seperti itulah yang aku tangkap dari situasi saat ini, tidak mungkin bos Al menyuruh sembarang orang untuk ke pelelangan.' Batin Sean.
"Kalau kamu sendiri, Sean?" Tanya Rangga.
"Tidak ada yang spesial dari aku, karena aku sebelumnya memang sudah bergabung dengan tuan besar Dafa, dan langsung di bimbing oleh bos Ryo." Ucap Sean.
'Pantas jika Sean jadi salah satu orang kepercayaan Davin, karena dia di utus langsung oleh Om Dafa.' Batin Rangga.
"Oh begitu, kalau kamu Tania?"
"Dulu aku pertama kali bertemu dengan tuan Dave di Belanda, dia yang menolongku dari preman yang akan membawaku untuk di jual jadi pelacur di sana," Ucap Tania memulai ceritanya.
"Terus??" Tanya Rangga ingin tahu kelanjutannya.
"Dulu awal mulanya aku pergi ke Belanda karena pacar aku memintaku datang ke sana untuk di kenalkan dengan keluarganya, dan begitu bodohnya aku sampai percaya dengan dia, dan nekat datang ke Belanda. Setelah sampai di Bandara bukannya dia yang menjemput aku, tapi para preman, kemudian mereka menculikku dan menyekapku di sebuah ruang kosong seperti gudang, setelah tiga hari di sekap aku berhasil melarikan diri, dan bertemu dengan tuan Dave, bahkan dia dengan berbaik hati memberiku pekerjaan sebagai asisten sekretaris Sean."
Rangga sesaat tertegun dengan cerita dari Tania, dia tidak menyangka jika Tania mempunyai pengalaman seperti itu. Sean yang memang sudah mengetahui hanya ikutan menyimak cerita Tania. Dan sesekali melihat ke arah ponselnya.
"Gak nyangka perjalanan hidup kamu seperti itu," Ucap Rangga.
"Tapi sekarang aku bersyukur, karena tuan Dave selalu melindungi aku dari orang-orang yang berniat jahat, karena itu juga tuan Dave menyuruh Sean untuk selalu menjagaku." Ucap Tania. Kemudian terkekeh geli melihat ekspresi wajah Sean.
"Aku melakukannya karena kasihan kepadamu, makanya kalau cari pacar itu cari laki-laki yang benar-benar tulus dengan kamu, jangan asal lihat wajah tampan langsung terpesona." Ucap Sean.
"Iya aku tahu," Jawab Tania dengan wajah cemberut.
Karena Sean tidak pernah peka jika saat ini Tania menyukainya, bahkan sudah sejak lama. Rangga yang melihat keduanya sudah dapat menyimpulkan hal itu. Sedikit terlihat kekecewaan di wajah Rangga saat ini, karena memang Rangga yang telah jatuh hati pada pandangan pertama dengan Tania.
Bersambung