
Hingga kepalanya terasa berat dan tiba-tiba pandangan matanya gelap, kemudian Kinan tidak sadarkan diri. Melihat itu bapak tukang kebun terlihat panik, dan memanggil para maid untuk menghubungi tuan mereka, sementara yang lain membawa Kinan dan security yang telah sama-sama pingsan menuju ke rumah sakit.
Davin yang memang sedang meeting saat ini, terlihat panik saat Yudha mengabarkan jika Kinan berada di rumah sakit.
Seketika Davin menghentikan rapatnya, dan menundanya. Walaupun semua terlihat bingung ada apa sebenarnya, namun semua yang hadir dalam rapat berusaha menghormati apa yang menjadi keputusan sang big boss.
"Yudha, jadi apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Davin ketika mereka sedang berjalan menuju ke tempat parkir mobilnya.
"Saya hanya mendapatkan kabar jika nyonya pingsan dan di bawa ke rumah sakit, untuk informasi selanjutnya, akan saya cari tahu." Ucap Yudha.
"Itu sudah jadi tugas kamu, cepat cari tahu ada apa sebenarnya, dan segera laporkan padaku." Perintah Davin. "Biar aku bawa mobil sendiri, kamu handle semua untuk urusan kantor, selama aku gak ada."
"Baik Tuan muda." Ucap Yudha.
Kemudian Davin membuka pintu mobil dan memasuki mobil tersebut, wajahnya terlihat sangat gelisah dan panik, takut terjadi sesuatu pada Kinan. Apalagi saat ini kondisi Kinan yang sedang hamil.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Gumam Davin bertanya pada dirinya sendiri.
Davin mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan, karena terlalu kencang membelah jalanan ibu kota, pikirannya saat ini benar-benar kacau.
Setelah sampai dihalaman rumah sakit dan memarkirkan mobilnya, Davin mencari tahu dimana keberadaan sang istri, setelah melihat salah satu maid di rumahnya, Davin menghampirinya.
"Bagaimana keadaan istriku?" Tanya Davin yang terlihat panik.
"Dokter masih memeriksanya Tuan." Jawab maid yang memang menunggu Kinan sadar dari pingsannya, di luar pintu ruangan.
Davin terlihat mondar-mandir di depan pintu ruangan tersebut, tampak rasa khawatir tergambar jelas di wajahnya saat ini.
Seorang Dokter yang memeriksa Kinan pun keluar, dengan beberapa orang perawat yang ada di belakangnya. Dengan segera Davin menghampirinya dan menanyakan keadaan istrinya.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"
"Nona Kinan dalam keadaan baik-baik saja, sepertinya Nona mengalami shock berat makanya sampai pingsan, tapi saya sudah memberikan resep vitamin untuk Nona." Ucap Dokter.
"Oh ok, kalau begitu saya masuk dulu untuk bertemu dengan istri saya Dok." Ucap Davin.
"Iya iya silahkan tuan Dave." Ucap Dokter. Dan memang rumah sakit ini juga salah satu miliknya, sehingga Dokter tadi mengenalnya.
Davin dengan langkah panjangnya memasuki ruangan dimana Kinan di rawat saat ini, Davin menghampiri Kinan yang masih terbaring di ranjang rumah sakit. Matanya masih terpejam karena belum sadar dari pingsannya.
"Sayang, sebenarnya ada apa? Apa yang membuat kamu shock?" Gumam Davin sambil menggenggam tangan Kinan yang berbaring dengan mata terpejam.
Drrt drrtt drrt!!
Ponsel Davin bergetar dengan di iringi suara khas panggilan masuk, Davin merogoh saku jasnya, dan melihat siapa yang menghubunginya.
'Yudha, pasti sudah ada kabar tentang apa yang terjadi di rumah.' Batin Davin. Lalu Davin berjalan keluar ruangan dan mencari tempat yang pas untuk mengangkat panggilan masuk dari Yudha.
"Ya!! Bagaimana hasilnya?" Tanya Davin.
"Ternyata tuan muda Bryan di culik oleh orang yang tidak di kenal, dan security yang berjaga juga sedang terluka parah akibat tusukan senjata tajam, dan dirawat di rumah sakit yang berbeda dengan nyonya." Jelas Yudha.
'Bryan? Kenapa Bryan bisa ada di rumahku?' Batin Davin yang semakin penasaran dengan apa yang terjadi.
"Bawa pengawal yang berjaga di luar rumah untuk menemuiku sekarang." Ucap Davin yang sarat akan emosi.
"Baik Tuan." Ucap Yudha.
Davin menutup ponselnya dan memasukkan ke dalam saku jasnya, wajahnya terlihat emosi saat ini, bagaimana bisa pengawal utusannya kecolongan, bahkan sampai-sampai Bryan di culik.
"Ini tidak bisa di biarkan, aku harus segera mencari tahu siapa yang dengan berani menculik Bryan dan melukai security serta membuat Kiki pingsan, siapa pun dia, aku tidak akan membiarkannya lolos." Gumam Davin.
Lalu Davin masuk kembali ke dalam ruangan Kinan, dan setelah sampai di ruangan Kinan ternyata Kinan baru saja siuman dari pingsannya.
"Sayang," Ucap Davin yang melihat Kinan sadar, kemudian dengan langkah cepatnya mendekati Kinan. "Syukurlah kamu sudah sadar." Ucap Kinan dengan menggenggam tangan Kinan.
"Mas, ini dimana?" Ucap Kinan terdengar lirih dan lemah. "Bryan, Bryan, mas dia, dia di culik orang yang tidak di kenal, kita harus mencarinya mas." Ucap Kinan yang masih lemah itu.
"Sssttt, kamu tenang sayang, tenanglah dulu, aku pasti akan mencarinya. Jadi sebaiknya kamu tenang supaya bayi kita juga tenang." Ucap Davin berusaha menenangkan Kinan.
"Sudah sayang, kamu harus istirahat, biar aku yang akan mencari Bryan, dan untuk sementara jangan kasih tahu Nabila dulu soal ini." Ucap Davin.
"Baiklah mas," Ucap Kinan pasrah.
Setelah kondisi Kinan yang sudah membaik, dan tidak ada hal yang perlu di khawatirkan, maka Dokter tidak menyuruhnya rawat inap, dan saat itu juga Kinan sudah di ijinkan pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, air mata Kinan tak henti-hentinya mengalir, dia sangat merasa bersalah, karena Bryan yang di culik saat bersama dengannya. Kinan merasa gagal menjaga Bryan.
'Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Bryan, aku pasti tidak bisa memaafkan diriku sendiri.' Batin Kinan yang berada di kursi belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu Davin.
Sebenarnya tadi pengawal yang di tugaskan untuk menjaga Kinan di luar, sudah bersiap untuk menemuinya, tapi karena Kinan yang sudah di perbolehkan untuk pulang, maka Davin akan menemuinya saat sudah sampai di rumah.
Perjalanan dari rumah sakit menuju ke rumah tidak terlalu memakan banyak waktu, sehingga saat ini mobil itu telah sampai di rumah mewah Davin.
"Sayang, kamu yang tenang ya, biar aku yang akan mencari Bryan, dan sekarang tugas kamu hanya satu yaitu istirahat." Ucap Davin sambil membelai rambut Kinan. Dan mengecupnya dengan lembut.
Kinan dengan lesu mengangguk, kemudian Davin mengantarkan Kinan untuk masuk ke dalam kamar, dan membantu Kinan untuk berbaring di ranjang empuknya.
"Mas, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Bryan? Bagaimana mas?" Ucap Kinan yang masih dengan tangisannya.
"Sssttt, aku pastikan tidak akan terjadi apa-apa dengan Bryan, dia akan baik-baik saja, ok sayang, sekarang sebaiknya kamu tidur saja, jangan banyak berpikir, apalagi berpikir yang aneh-aneh." Ucap Davin sambil membelai rambut Kinan.
Kinan hanya mengangguk, entah kenapa mendengar ucapan Davin, Kinan percaya jika sang suami pasti akan melakukan yang terbaik untuk membawa Bryan kembali.
Setelah memastikan jika Kinan sudah tertidur, Davin pun keluar kamarnya, dan langsung menuju ke ruang baca, dan di dalam ruang baca sudah ada beberapa orang yang sedang menunggu, termasuk Yudha.
"Tuan!!" Ucap mereka kompak menyambut Davin yang baru masuk ke dalam ruang baca.
"BRAAKKK!!!" Davin menggebrak meja yang ada di ruang baca. Semua terlihat menunduk tanpa ada yang berani buka suara.
"Sekarang katakan kenapa bisa ada kejadian seperti ini." Ucap Davin dengan nada tinggi.
"Kami, kami,.."
"PLAAAKKKKK."
Davin menampar orang yang berusaha untuk memberikan penjelasan. Kemudian Davin mencengkraman dagu lelaki itu dengan sangat kuat sehingga menimbulkan rasa sakit.
"Aku tidak mau tahu, jika kalian semua tidak bisa menemukan Bryan, jangan harap nyawa kalian akan aman sampai besok." Ucap Davin dengan tersirat nada ancaman di dalamnya.
Glekk!!
Semua yang mendengar itu saling pandang, dan dengan susah payah menelan ludahnya sendiri. Karena mereka semua tahu bagaimana seorang Davin tidak pernah main-main dengan ancamannya.
"Ba-baik Tuan, kami akan menemukan tuan muda Bryan." Ucap mereka kompak.
"Dan ingat jangan sampai aku melihat ada luka di tubuh Bryan, atau kalian tahu sendiri apa akibatnya jika sampai Bryan terluka." Ucap Davin lagi.
"Baik Tuan." Ucap mereka semua kompak.
"Sekarang kalian pergi dan cari dimana pun Bryan saat ini, jangan kembali jika tidak ada hasilnya." Ucap Davin.
"Baik."
Mereka pun satu persatu keluar dari ruang baca yang terasa sangat mencekam itu, bagaimana tidak? Jika saat ini sang tuan besar sedang marah dan siap untuk melukai siapapun yang berani membangkang perintahnya.
Setelah semua pengawal itu keluar, Davin kembali duduk di kursi yang ada di ruang baca, dan meminta Yudha untuk menemaninya sebentar.
"Kerahkan beberapa orang untuk mencari informasi siapa yang sudah berani bermain denganku." Ucap Davin datar.
"Baik Tuan." Ucap Yudha.
setelah itu Yudha berpamitan untuk melakukan pekerjaannya, dan tanpa di suruh Yudha sudah menempatkan beberapa orang security untuk berjaga di depan rumah Davin. Supaya tidak terjadi hal seperti ini lagi.
Bersambung.