
Davin saat ini sedang bersama dengan Jojo, mereka berdua berada di depan sebuah apartemen mengintai orang yang ada didalam gedung apartemen tersebut. entah siapa yang mereka intai saat ini.
Yang jelas saat ini informasi dari orang yang ada di dalam sangatlah penting bagi Davin dan juga Jojo. Mata Jojo terus melihat ke arah apartemen tersebut, dengan beberapa anak buahnya juga melakukan hal yang sama.
"Apa kamu yakin jika di dalam itu adalah orang yang menculik Bryan?" Tanya Davin.
"Iya, kita tunggu sampai dia keluar." Ucap Jojo.
"Baiklah aku percaya padamu." Ucap Davin.
Drrtt drrt drrtt!!
Ponsel Davin bergetar dengan di iringi nada dering panggilan yang masuk, dengan segera Davin melihat ke arah ponselnya, dan melihat siapa yang menelponnya.
"Sean?" Ucap Davin. Lalu Davin menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan masuk tersebut. "Hallo Sean, ada apa?"
"Tuan Dave, saya mau melaporkan penemuan yang sangat penting, tolong buka email yang saya kirimkan." Ucap Sean.
"Email??" Tanya Davin.
"Iya tuan,"
"Aku lagi ada di luar, dan belum sempat membuka email, setelah sampai di rumah aku akan membukanya." Ucap Davin.
"Baik tuan Dave." Ucap Sean.
Davin menutup panggilannya sepihak, lalu meletakkan ponselnya di dasboard mobil. Dan matanya kembali fokus di pintu depan apartemen yang sedang di intainya. Walaupun Davin tahu jika email yang di kirim oleh Sean adalah informasi penting.
Karena memang saat ini Davin sedang tidak ingin terganggu konsentrasinya, makanya sengaja tidak membuka semua email yang masuk. Walaupun memang informasi yang di kirimkan oleh Sean adalah informasi penting, tentang penyusup yang ada di laboratorium di USA.
"Siapa Dave?" Tanya Jojo.
"Sean. Dia bilang mengirim email." Ucap Davin tanpa mengalihkan pandangan matanya dari pintu depan apartemen.
"Kenapa tidak kamu buka?" Tanya Jojo.
"Nanti saja di rumah," Ucap Davin tanpa mengalihkan pandangan matanya dari pintu depan apartemen. Jojo hanya mengangguk seakan mengerti jika Davin masih fokus dengan pengintaian itu.
Keduanya kembali hening, tanpa adanya satupun yang memulai pembicaraan, mereka hanyut dalam pemikiran masing-masing. Jojo yang sibuk dengan ponselnya sambil menajamkan pendengarannya melalui Earpiece seakan hanyut dalam dunianya sendiri.
'Ayumi? Kenapa dia menghubungiku?' Batin Jojo, karena memang tidak biasanya Ayumi tidak pernah menghubunginya jika tidak darurat.
"Hallo Yumi? Ada apa?" Tanya Jojo.
"Kak, tadi aku bertemu dengan Niko, dia ada di Indonesia." Ucap Ayumi.
Deggg!!
Mendengar ucapan Ayumi membuat Jojo terdiam, kemudian menoleh ke arah Davin yang saat ini juga dia menatap ke arahnya. Karena seingat Jojo, orang yang bernama Niko ini adalah salah satu orang kepercayaan Jirayu.
Namun Jojo ingin memastikan, apakah benar itu adalah orang kepercayaan Jirayu atau memang ada nama Niko yang lain? Jojo kemudian memencet tombol pengeras suara ponselnya sehingga Davin juga bisa mendengar suara Ayumi.
"Niko? Siapa Niko?" Tanya Jojo.
"Niko itu kepercayaan kak Jirayu, dia sekarang ada di Indonesia kak, untuk membalas dendam dengan organisasi Perlindungan, dia juga yang menculik Bryan, kak." Ucap Ayumi.
Seketika Jojo dan Davin saling pandang karena terkejut mendengar perkataan Ayumi, apakah ini kebetulan? Atau memang ini keberuntungan baginya? Sehingga dengan mudah Ayumi bisa mendapatkan informasi sepenting ini.
"Kamu sekarang ada di mana?" Tanya Jojo dengan antusias untuk segera bertemu dengan Ayumi.
"Aku sudah kembali ke apartemen kak." Ucap Ayumi. "Kakak segeralah kemarin aku sudah merekam semua pembicaraan Niko, bahkan aku tahu dengan jelas alamat di mana saat ini Bryan yang disekap oleh Mario." Ucap Ayumi.
Lagi-lagi Davin dan Jojo terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Ayumi, sudah dua hari Davin dan Jojo mencari informasi tersebut, dan tidak mendapatkan jawaban apa-apa, dan karena hal itulah Davin dan Jojo mengintai seseorang di sini. Tapi dengan mudahnya Ayumi mendapatkan informasi itu hanya sekali ketemu dengan Niko.
Davin dan Jojo sepakat kembali ke apartemen milik Jojo untuk menemui Ayumi. Karena ini jauh lebih penting daripada pengintaian yang saat ini dilakukannya.
Namun Jojo tetap menginstruksikan kepada para anak buahnya untuk terus mengintai target yang sedang di incarnya. Dan melaporkan apapun hasilnya nanti.
Setelah sampai di parkiran apartemen miliknya, baik Jojo maupun Davin, mereka berdua berlari menaiki anak tangga, supaya segera sampai di lantai apartemen milik Jojo.
Setelah sampai di depan pintu apartemen miliknya, Jojo yang tidak sabar, dengan segera membuka kuncinya dan masuk, Jojo mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru apartemen untuk mencari Ayumi.
"Yumii, Yumii,"
Davin juga ikut membantu mencari keberadaan Ayumi, namun tidak menemukan keberadaan Ayumi, kemudian Jojo dan Davin saling pandang karena hanya satu tempat yang belum mereka lihat yaitu kamar mandi.
Davin seakan memberi kode kepada Jojo, supaya mencari Ayumi di kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Tanpa basa-basi Jojo pun masuk ke dalam kamarnya dan menuju ke kamar mandi.
Tok tok tok!!
"Yumii, apa kamu di dalam?" Teriak Jojo dari depan pintu kamar mandi.
Namun tidak ada yang menyahut dari dalam kamar mandi. Dan hanya suara gemericik air mengalir yang didengar oleh Jojo saat ini. Jojo berusaha membuka pintu kamar mandi. Dan entah kenapa pintu itu tidak terkunci.
Glegg!!
Melihat pemandangan di bawah guyuran air shower yang begitu menggoda iman, membuat Jojo susah payah menelan ludahnya sendiri. Tubuh putih mulus Ayumi yang terlihat sangat seksi, sedang mandi membuat sambil membilas kepalanya.
Guyuran air shower yang membasahi tubuh Ayumi, seakan semakin membuatnya terlihat begitu seksi di mata Jojo. Entah kenapa Jojo justru mendekati Ayumi yang kini sedang asyik menikmati guyuran air shower tersebut.
Ayumi yang memang tidak mengetahui jika Jojo sudah ada di belakangnya, terus saja melakukan ritual mandinya.
Cupp!!
"Aarrhhhh." Teriak Ayumi yang terkejut dengan kehadiran Jojo yang sudah ada di belakangnya dan mengecup leher jenjangnya.
"Ka-kak Jojo, se-sedang apa kakak di sini?" Ucap Ayumi yang tergagap sambil menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi dada polosnya.
"Bukankah kamu yang tadi di telepon memintaku untuk pulang." Bisik Jojo tepat di depan telinga Ayumi, sambil mengecup sekilas leher Ayumi.
Ayumi yang mendapat kecupan dari Jojo itu merasakan tubuhnya panas dingin secara bersamaan, sambil mengerjapkan matanya berkali-kali. Kedua tangannya masih menyilang di depan dadanya.
"Ta-tapi kenapa kakak masuk kemari? Kan bisa menunggu aku di luar." Ucap Ayumi yang memang sudah merasakan nafasnya memburu seiring dengan ciuman Jojo yang kini sudah menjalar di sekitar lehernya sehingga meninggalkan bekas merah keunguan di sana.
Baju basah yang di kenakannya tidak jadi penghalang Jojo untuk terus mencium leher Ayumi sambil memeluknya, kemudian ciumannya beralih ke bibir mungil Ayumi, dengan lembut melumat bibir Ayumi lalu menyesapnya.
"Bukankah tadi kamu menyuruhku pulang?, apakah untuk menggodaku seperti ini?, Kalau seperti ini bagaimana bisa aku melewatkannya begitu saja." Suara Jojo seakan sudah begitu serak oleh kabut gairah yang kini menyelimutinya.
"Ka-kakak." Ucap Ayumi.
Jojo melepaskan pagutannya, namun masih belum melepaskan pelukannya, lalu Jojo menempelkan keningnya ke kening Ayumi, seakan dia tersadar jika ada Davin di luar sedang menunggunya. Jika adegan drama kamar mandi ini berlangsung, maka sudah dapat di pastikan jika Davin akan mendobrak pintu kamar mandi tersebut.
"Sayang, lain kali kunci pintu kamar mandi dulu sebelum kamu mandi. Jangan sampai hal seperti ini terulang lagi, kalau itu sampai terulang lagi, maka aku tidak akan mengampunimu dan pasti akan memakanmu saat itu juga. Apa kamu mengerti?" Ucap Jojo. Dengan deru nafasnya mengenai wajah Ayumi.
Perlahan Jojo melepaskan pelukannya supaya Ayumi segera keluar dari kamar mandi, jika berlama-lama berada di tempat itu, sudah dapat di pastikan Jojo tidak akan mampu menahan hasratnya lagi.
Ayumi mengerjapkan matanya berkali-kali, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ayumi pun mengangguk perlahan, lalu Ayumi berjalan menuju ke tempat handuk baju yang sudah tersedia di situ.
Jojo hanya melihat Ayumi dengan senyum tipis dari sudut bibirnya. Pandangan mata Ayumi yang terlihat kebingungan itu membuat Jojo menatapnya. Apa ada yang salah dengan dirinya?.
"Ada apa? Keluarlah, dan segera pakai bajumu, karena ada Dave di luar sedang menunggu kita, aku akan mandi sebentar, bilang sama Dave untuk menunggu." Ucap Jojo.
Namun Ayumi tidak juga bergeming dari tempatnya, pandangan mata Ayumi yang terus menatap Jojo, membuat Jojo mengerutkan keningnya, entah apa yang salah dalam dirinya sehingga membuat Ayumi menatapnya seperti itu.
"Kak, apa kakak benar-benar seorang kanibal? sehingga mau memakanku hidup-hidup?" Tanya Ayumi polos dengan tatapan seolah ingin mengetahui jawabannya.
Mendengar pertanyaan Ayumi seperti itu, lagi-lagi Jojo tergelak tawanya, gadisnya benar-benar ajaib, kalau soal yang lain sangat cerdas dan bisa di andalkan, Tapi soal beginian sepertinya Jojo harus lebih bisa membimbingnya.
"Kapan-kapan aku kasih tahu jawabannya, sekarang keluarlah sebelum aku benar-benar memakanku, Yumi." Ucap Jojo dengan senyum penuh makna.
Mendengar ucapan Jojo seperti itu membuat Ayumi merasa sedikit takut, dia pun bergegas keluar dari kamar mandi, dengan memakai handuk kimononya. Ayumi sempat berpikir apa pria sebaik Jojo ini benar-benar kanibal? Sehingga berniat memakannya hidup-hidup.
Bersambung..