
Kini Arka dan Alvin di rawat di sebuah rumah sakit di Spanyol, mengingat luka yang di alami mereka berdua lumayan parah, dan memang setelah kejadian penyerangan di markas Tuan Jirayu dua hari yang lalu, baik Alvin maupun Arka langsung mendapat perawatan khusus di rumah sakit.
Apalagi luka Arka yang begitu dalam mengharuskan Arka mendapatkan beberapa jahitan, sedangkan Alvin mengalami beberapa luka memar dan juga luka-luka akibat ledakan mobil sebelumnya.
"Gimana keadaanmu saat ini?" Tanya Jojo yang barusan datang bersama Ayumi.
"Kamu bisa lihat sendiri, jauh lebih baik dari sebelumnya." Jawab Alvin.
"Baguslah, jadi kita bisa segera pulang ke Indonesia." Ucap Jojo. Yang kemudian duduk di sofa.
"Iya betul, aku sudah merindukan Bryan dan Erick." Ucap Alvin.
"Palingan merindukan Nabila, alasan aja rindu sama Bryan dan Erick." Ucap Jojo.
"Hahaha, itu sudah pasti, apalagi tidak ada pelukan yang sehangat pelukan tubuh Nabila." Ucap Alvin.
"Ck, gak usah pamer, mentang-mentang udah nikah, kasihanilah kami yang masih belum bisa merasakan indahnya berumah tangga." Ucap Jojo, yang di sambut gelak tawa Ayumi dan Alvin.
"Umur udah berapa bung? Cepat sana nikahin Ayumi, jangan kerjaan terus yang kamu pikirin." Ucap Alvin.
"Tenang saja adik ipar, setelah sampai di Indonesia, aku akan paksa dia untuk menikahiku." Ucap Ayumi yang juga tertarik menggoda Jojo.
"Harus, jangan kasih kendor Ayumi, hahaha." Ucap Alvin yang kemudian di akhiri gelak tawanya.
Jojo yang melihat hal itu hanya diam saja, tidak tertarik untuk menanggapi, bahkan Jojo terlihat asyik dengan ponselnya, entah apa yang menarik di dalam ponsel persegi panjang tersebut.
Sedangkan di ruangan yang lain, terlihat Arka yang terbaring di ranjang rumah sakit, sedikit merasa khawatir, pasalnya orang yang ingin di hubunginya tidak juga mengangkat teleponnya.
"Ck, apa seserius ini dia ngambek, sampai-sampai tidak mau mengangkat panggilan telepon dariku." Gumam Arka kesal.
Karena tidak juga di angkat panggilan telepon darinya, membuat Arka sedikit frustasi, awalnya niat Arka hanya ingin menggoda saja, tapi reaksi orang yang di ujung telepon sana malah sebaliknya, dan kini terlihat jika Arka sedikit panik dan juga frustasi.
Karena merasa tidak punya pilihan lain, Arka langsung menghubungi Rey, yang pasti dia ingin memastikan keberadaan sang pujaan hatinya. Karena selama ini hubungan antara Arka dan Rey tidak sebaik itu, sampai-sampai saling memberi kabar lewat panggilan telepon.
Arka terpaksa menghubungi Rey, karena tidak punya pilihan lain, hanya Rey yang dekat dengan Ara, bahkan hubungan persahabatan Rey dan Ara, membuat Arka sangat cemburu buta. Karena dengan dirinya saja Ara tidak pernah sedekat itu, tapi ketika dengan Rey, terlihat sangat dekat sekali.
Hanya butuh beberapa menit saja panggilan telepon itu berlangsung, setelah memastikan bahwa Rey akan memberikan Arka kabar keberadaan sang pujaan hati, maka Arka mematikan panggilannya.
"Cih, kalau sampai kamu berani mendekatinya lebih dari kata sahabat, maka dengan tanganku sendiri yang akan memberikan kamu pelajaran Rey." Gumam Arka yang sempat terpancing emosinya.
Bagaimana Arka tidak terpancing emosi jika Rey dengan sengaja mengatakan supaya Arka membiarkan sang pujaan hati bersama dengan Rey.
'Ck, yang Rey tahu, kakak sebentar lagi akan bertunangan dengan wanita pilihan Om Ryo, jadi biarkan Ara bersama denganku saja.' Ucap Rey sebelum akhirnya Arka mengakhiri panggilan teleponnya.
Bahkan kata-kata tersebut sukses membuat Arka kalang kabut sendiri, bahkan kini ingin rasanya Arka segera pulang ke Indonesia, untuk memastikan jika Ara tidak dekat dengan Rey.
"Eh, Om Dafa, tidak apa-apa Om, cuma sedang berpikir kenapa Ara tidak mengangkat panggilan telepon dariku." Ucap Arka.
Mendengar ucapan Arka, kini Dafa mengerutkan keningnya, seakan ingin tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Namun karena tidak ingin ikut campur urusan anak muda, Dafa akhirnya mengurungkan niatnya untuk menanyakan lebih lanjut.
"Hmm, baiklah, soal itu Om tidak akan ikut campur, Om hanya ingin memastikan jika rencana yang Om katakan waktu itu, sepertinya akan ada sedikit perubahan." Ucap Dafa.
"Terserah Om saja bagaimana baiknya, yang penting buat Arka, secepatnya untuk menikahi anak Om, hehehe." Ucap Arka.
"Hahaha, kamu harus berjuang lebih keras untuk bisa mendapatkan hati Ara." Ucap Dafa dengan gelak tawanya.
Mereka berdua pun akhirnya membahas tentang rencana selanjutnya, apalagi setelah Tuan Jirayu telah menyerahkan semua kekuasaannya kepada organisasi Perlindungan.
Namun masih banyak PR yang belum kelar untuk organisasi Perlindungan, walaupun organisasi naga emas sudah berada di bawah naungan organisasi Perlindungan, tapi masih banyak organisasi besar mafia lainnya yang harus di waspadai.
Apalagi Dafa yang mendengar kabar tentang penyerangan yang terjadi pada Rey, membuat organisasi Perlindungan harus ekstra penjagaan saat ini.
"Om, malam juga Arka ingin kembali ke Indonesia, apalagi urusan di sini juga sudah clear." Ucap Arka dengan mantap.
"Ck, anak muda jaman sekarang, memang ajaib." Ucap Dafa.
Karena memang semua masalah di Spanyol telah selesai, dan bahkan kini Dafa sudah mendengar kabar baiknya yaitu Kinan telah selamat bahkan sedang mengandung. Maka tidak akan ada masalah jika Arka ingin kembali ke Indonesia.
Namun bagaimana dengan luka Arka yang belum kering sepenuhnya? Apalagi perban masih menempel di lengan Arka saat ini, bagaimana bisa Arka melakukan perjalanan jauh? Eits jangan salah, Arka bukanlah orang yang selemah itu, luka sekecil itu tidak akan menghalanginya untuk menemui sang pujaan hati.
"Baiklah, karena urusan yang di sini juga sudah selesai, kalau kamu mau pulang, pulang saja." Ucap Dafa yang kemudian menepuk bahu Arka.
"Makasih Om."
Arka mengangguk senang, bahkan Arka tidak memperdulikan lagi bagaimana rasa sakit di lengannya akibat sabetan pedang Tuan Jirayu, yang ada di kepalanya hanya tidak rela jika sampai Rey benar-benar merebut kekasihnya.
Karena Arka tahu betul seberapa dekat Rey dengan Ara, dan tidak menutup kemungkinan jika Ara akan berpaling darinya dan memilih Rey. Jika hal terjadi, wah bisa-bisa terjadi perang dunia kedua bagi Rey dan Arka.
Setelah Dafa keluar dari ruangan Arka, dan akan menuju ke ruangan Alvin di rawat, Dafa sempat menghubungi sang istri untuk memastikan keberadaan Ara saat ini. Apalagi tadi Arka bilang jika Ara tidak mengangkat panggilan telepon dari Arka, tersirat kecemasan di raut wajah sang legend dunia mafia tersebut.
Arka yang memang sudah tidak sabar untuk segera keluar dari rumah sakit itu, kini dengan segera menghubungi perawat yang sedang berjaga, Arka memaksa untuk memberikan ijin padanya untuk keluar rumah sakit.
Awalnya perawat itu keberatan, namun setelah menemui Dokter jaga, dan Dokter jaga memberikan ijin keluar rumah sakit, maka perawat itu berani melepaskan selang infus pada tangan Arka.
Tidak butuh waktu lama, Arka pun memilih pulang dengan pesawat jet pribadi untuk kembali ke Indonesia, dan dia bahkan tidak berpamitan sama sekali dengan semua orang, karena Arka sudah tidak sabar untuk segera sampai di Indonesia.
Bersambung...