
Jiwa iblisnya pasti akan keluar jika ada yang mengusik keluarganya, bahkan Dafa tidak akan segan untuk menghabisi siapa pun itu yang mengusik keluarganya. Sudah banyak bukti nyatanya, dimana siapapun yang mengusik keluarganya, pasti berakhir dengan meregang nyawa.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan? Supaya keamanan Rey terjaga, dan itu tanpa sepengetahuan Rey." Ucap Dafa. "Mengingat sifatnya Rey, aku yakin dia tidak akan mau untuk di kawal."
Semua yang ada di ruang rapat saling pandang satu sama lain, seakan mereka minta jawaban satu sama lainnya.
"Biar Arka aja Pa, yang akan memantau langsung sekalian menjaga Ara." Ucap Arka.
"Setuju dengan apa yang dikatakan Arka, karena kalau dia yang memantau Rey tidak akan menyadarinya." Timpal Ryo.
"Betul Pa, aku juga setuju dengan yang dikatakan oleh Om Ryo dan juga Arka." Ucap Alvin.
"Berapa banyak anak buahmu? yang kamu tempatkan di dekat kampus?" Tanya Dafa.
"Yang menyamar sebagai mahasiswa ada beberapa Pa, dan yang menjaga di luar dan menyamar sebagai penjual makanan sekitar 20-an orang." Jawab Arka.
"Sekarang yang menjadi incaran organisasi Black rose adalah Ara dan juga Rey, jadi aku tidak mau ada kesalahan sedikit pun dalam hal ini." Ucap Dafa dengan tatapan tajam seakan tidak mau mendengar kata kegagalan.
"Baik Pa," Jawab Arka dan Alvin kompak.
"Yo, untuk urusan perusahaan aku percayakan padamu dan juga Dave, jangan sampai ada pengganggu, sedangkan untuk kamu Al dan juga Arka, kalian harus melindungi perusahaan dari luar dan juga keamanan seluruh organisasi ada di tangan kalian." Ucap Dafa seperti perintah yang mutlak harus di ikuti.
"Baiklah Daf, aku akan melakukan yang terbaik." Ucap Ryo.
"Kami juga Pa, pasti akan melakukan yang terbaik untuk semuanya." Ucap Alvin dan di angguki oleh Arka.
"Kita semua keluarga di sini jadi harus saling melindungi satu sama lain," Ucap Dafa. "Jangan sampai aku mendengar ada penghianatan dari dalam keluarga kita sendiri, atau aku sendiri yang akan menghabisinya."
Memang benar apa yang dikatakan orang, jika Daffa sudah dalam mode serius, tidak akan ada yang berani untuk sekedar menatap wajahnya, karena tatapan mata Daffa seperti pisau tajam yang siap melukai siapapun yang dengan berani melihatnya.
Ketiga orang yang hadir dalam rapat itu seakan susah payah menelan salivanya, karena kata-kata Dafa yang mengandung ancaman, membuat mereka sedikit takut.
"Selamat sore semuanya." Ucap Davin yang baru saja membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dulu. Sehingga membuat orang yang ada di dalam ruang rapat serempak menoleh ke arahnya.
"DAVE!!" Ucap mereka semua kompak.
Davin pun melangkah masuk ke dalam ruang meeting tersebut, kemudian menyalami satu persatu yang ada di dalam ruangan itu, setelah itu duduk di samping Alvin.
"Jam berapa kamu sampai, Dave?" Tanya Ryo.
"Baru aja Om," Jawab Davin.
Kemudian rapat di lanjutkan kembali, selain membahas soal keselamatan Rey, mereka juga menyusun rencana supaya organisasi Black rose tidak lagi mengacaukan wilayah mereka.
"Ok pergilah." Ucap Dafa.
Lalu Arka beranjak meninggalkan ruang rapat, dan memang saat ini adalah jadwalnya menjemput Ara pulang dari kampus.
"Daf, bagaimana rencana ulang tahun Ara? Kejutan Apa yang ingin kamu berikan pada Ara? Apa pernikahannya dengan Ar akan tetap di lakukan di hari itu?" Tanya Ryo, di saat melihat Arka yang sudah keluar ruangan.
"Tentu saja Yo, bukankah itu cara satu-satunya untuk melindungi Ara dari organisasi Black rose, dari apa yang aku lihat sepertinya Ara sudah mulai nyaman dengan Arka, dan kurasa apa yang menjadi pertanyaanku selama ini akan segera terjawab jika Arka menikah dengan Ara secepatnya." Ucap Dafa, kemudian Dafa menghela nafas panjangnya, seakan begitu berat bagi dia mengingat apa yang terjadi dengan Ara selama ini.
Davin dan Alvin saling pandang, Mereka sangat tahu jika Papanya saat ini juga sangat penasaran dengan kejadian tujuh tahun silam yang menimpa Ara, apakah benar Martin sudah menodainya? Mengingat trauma Ara saat ini, membuat Dafa jadi ragu jika Martin tidak melakukannya.
"Aku rasa Ara tidak seperti apa yang sudah kita pikirkan, aku yakin 100% jika Ara masih suci." Ucap Ryo berusaha menenangkan Dafa, sahabatnya tersebut.
Karena Ryo sangat mengetahui jika selama ini Daffa masih sangat penasaran dengan apa yang terjadi waktu itu. Sudah berbagai cara di lakukan supaya Ara mau menceritakan apa yang terjadi, namun semua usahanya gagal.
Davin juga merasa bersalah, karena waktu itu tidak bisa menyelamatkan Ara dari tangan Martin, sehingga membuat Ara menjadi trauma berkepanjangan.
"Itu semua salah Dave, Pa," Ucap Davin tiba-tiba. "Dave tidak bisa melindungi Ara dengan baik, Dave yang salah."
"Sudahlah Dave, semua sudah berlalu, jadi tidak perlu kamu menyalahkan dirimu sendiri, apapun yang kamu lakukan, itu semua sudah yang terbaik." Ucap Ryo menenangkan Davin.
"Sudahlah Dave, loe jangan menyalahkan diri loe sendiri, kami semua tahu bagaimana usaha elo untuk bisa menyelamatkan Ara." Ucap Alvin dengan menepuk pundak Davin.
"Papa menyayangi kalian semua, Papa tidak ingin ada yang menyakiti kalian, siapapun mereka akan Papa habisi bila perlu, untuk melindungi kalian." Ucap Dafa yang kini sudah berdiri di belakang Davin sambil menepuk pundaknya, seakan memberinya kekuatan supaya tidak menyalahkan dirinya sendiri.
"Makasih Pa, Al." Ucap Davin.
Seketika suasana menjadi hening, semuanya larut dalam pemikiran masing-masing, Daffa yang masih belum bisa menerima kenyataan jika Ara mengalami trauma yang berkepanjangan, membuat Dafa kehilangan semangatnya.
Sedangkan Davin selalu menyalahkan dirinya sendiri akibat tidak bisa menyelamatkan Ara waktu itu, Davin selalu merasa bersalah dengan kejadian itu, bahkan melihat trauma Ara, membuat Davin tidak tega.
Gadis kesayangannya itu selalu menjauh jika ada yang berusaha mendekatinya, bahkan sudah tak terhitung jumlahnya berapa kali Arka di tolak ketika menyatakan perasaannya.
Dan yang membuat Davin sangat sedih adalah melihat Ara yang selalu menyendiri ketika teringat akan kejadian waktu itu, dan Ara akan mengurung diri di kamar mandi.
Davin sering memergokinya, Ara melakukan hal itu dulu, berbagai cara juga di lakukan Davin untuk selalu membuat Ara tersenyum, bahkan Davin dan Alvin lah yang memberi support waktu Ara dalam keadaan terburuk pasca penculikan waktu itu.
Mengingat jika Ara tidak ingin di dekati oleh siapapun, sehingga cuma Davin dan Alvin yang selalu melakukannya. Dan karena hal itulah tidak ada yang berani mengungkit tentang kejadian tujuh tahun silam sampai saat ini.
Yang selalu di lakukan oleh keluarga hanya membuat supaya Ara merasa nyaman dan juga tidak teringat akan kejadian waktu itu.
Bersambung