She Is My Sweet Wife 02 (The Series)

She Is My Sweet Wife 02 (The Series)
Bertemu Sasya



Pagi ini Kinan seperti biasa mengalami morning sickness, dia memuntahkan semua isi perutnya, walaupun Kinan belum memakan sarapannya. Sampai mulutnya terasa pahit karena sudah tidak ada lagi yang bisa dimuntahkan olehnya.


Sudah dua hari semenjak kepulangannya dari Spanyol, Kinan setiap pagi mengalami morning sickness, dan karena hal itulah Davin menunda keberangkatannya ke kota S, menunggu sampai kondisi Kinan mendingan.


"Sayang, biar aku bikinkan air jahe hangat untuk mengurangi rasa mual." Ucap Davin.


Kinan yang terlihat lemas hanya mengangguk sebagai jawaban, sambil Kinan memegang perutnya karena masih terasa mual, dengan cepat Davin menuju ke pantry untuk membuatkan air jahe hangat buat Kinan.


Davin sudah mulai terbiasa dengan Kinan yang selalu mengalami morning sickness, sehingga Davin selalu berada di samping Kinan, hanya untuk sekedar menemani dan terkadang membuatkan teh hangat atau air jahe hangat.


Setelah selesai membuatkan air jahe hangat untuk Kinan, kini Davin berjalan menuju ke kamarnya dengan membawa nampan yang berisi sandwich dan juga air jahe hangat serta susu untuk ibu hamil.


"Sayang, minumlah air jahe hangat ini dulu, untuk mengurangi rasa mual kamu, kalau sudah mendingan makanlah sandwich dan minum susunya, untuk menjaga nutrisi kamu dan calon anak kita." Ucap Davin. Sambil memijat tengkuk Kinan lalu kemudian mengecup kening Kinan dengan penuh cinta.


"Makasih mas, kamu selalu ada buat aku dan selalu menyiapkan sarapan untukku, tapi kali ini aku ingin makan bubur ayam." Ucap Kinan.


Mendengar permintaan sang istri, Davin mengerutkan keningnya seakan bertanya dimana pagi-pagi ini untuk mencari bubur ayam? Karena memang Davin tidak pernah melakukannya seumur hidupnya.


"Di mana aku harus mencari bubur ayam? Ini masih terlalu pagi, sayang." Ucap Davin.


"Pokoknya aku maunya bubur ayam, nggak mau yang lain, kalau enggak mau mencarikannya, aku enggak mau makan." Ucap Kinan terlihat merajuk.


'Inikah yang namanya ngidam? Kenapa istriku terlihat sangat imut dan manis ketika sedang merajuk begini? Aku seakan tidak bisa mengendalikan diriku, jika dia bersikap seperti itu.' Batin Davin.


Davin tersenyum tipis melihat tingkah Kinan, kemudian Davin mengelus rambut panjang Kinan dengan lembut dan penuh cinta.


"Baiklah aku akan mencarikannya untukmu, sekarang minumlah air jahenya dulu untuk mengurangi rasa mual." Ucap Davin.


"Hem."


Kinan dengan cepat menganggukkan kepalanya, terlihat sorot matanya berbinar bahagia, karena Davin mau menuruti keinginannya membelikan bubur ayam.


Entah kenapa tiba-tiba Kinan ingin memakan bubur ayam, dan dia ingin menangis, jika sampai Davin tidak mendapatkannya.


Dengan segera Davin menyambar kunci mobil, lalu keluar dari kamar untuk mencarikan bubur ayam seperti keinginan sang istri. Dengan senyum bahagia Davin mengelilingi kompleks apartemennya dan mencari penjual bubur ayam.


"kenapa susah sekali dicarinya? sebenarnya dimana ada orang jualan bubur ayam?" Gumam Davin.


Karena tidak menemukan di seputaran kompleks, akhirnya Davin melajukan mobilnya keluar dari kompleks apartemennyanya, mobil Davin mengarah ke sebuah foodcourt yang berjajar di dekat pasar.


Dan memang di sana banyak berbagai makanan untuk sarapan pagi, mulai dari lontong sayur sampai nasi kuning, bahkan nasi rames pun ada. Davin yang memakai kaos pendek serta celana pendek, dengan pedenya berjalan menuju ke gerobak yang jualan bubur ayam.


"Bu, bubur ayam di bungkus satu, sambelnya dipisah ya, Bu." Ucap Davin, ketika memesan bubur ayam kepada sang ibu penjual.


"Baik mas, silakan tunggu dulu sebentar ya." Ucap ibu sang penjual bubur ayam. Karena memang antrian sangat panjang saat ini.


Dengan segera Davin duduk di sebuah kursi di depan gerobak penjual bubur ayam, Davin mengedarkan pandangannya melihat situasi sekeliling foodcourt yang begitu ramai oleh orang pemburu sarapan di pagi hari.


'Ternyata ramai juga di sini, kenapa aku tidak pernah tahu ya, padahal tidak begitu jauh dari apartemen?' Batin Davin.


Davin pun mengeluarkan ponselnya dari saku celananya untuk membunuh kejenuhan di saat sedang menunggu antrian. Davin mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"Dave?? Kamu Dave kan??" ucap seorang perempuan cantik menghampiri Davin yang sedang duduk sambil bermain HP.


Mendengar namanya disebut Davin pun mendongak melihat ke arah suara yang mengajaknya bicara. Davin sangat terkejut melihat wanita cantik dengan dress pendek diatas lutut sedang berada tepat di depannya.


"Seperti biasa mencari sarapan, kamu tinggal di sekitar sini?" Tanya Sasya. Lalu Sasya menarik kursi di depan Davin lalu duduk di tempat itu.


"Iya, di apartemen ujung sebelah sana." Ucap Davin.


"Terus bagaimana kabar si Al? Aku dengar dia sudah punya anak dua." Ucap Sasya.


"Ya, sekarang Al sudah mempunyai dua orang anak." Ucap Davin.


"Aku turut bahagia jika Al sudah berbahagia, mengingat dulu betapa jahatnya aku terhadap Nabila, Aku benar-benar menyesal kenapa dulu aku begitu berambisi untuk memiliki Al." Ucap Sasya, dan terlihat begitu jelas penyesalan di matanya.


"Sudahlah Sya, itu kejadian sudah beberapa tahun yang lalu, sebaiknya jangan diingat kembali, kamu harus menjalani kehidupan kamu yang lebih baik." Ucap Davin. Memberikan semangat kepada Sasya.


Ya jika diingat Sasya memang sangat keterlaluan terhadap Nabila, apalagi kejadian di pesta waktu mereka di Jogja, dan dengan sengaja Sasya membubuhkan obat perangsang ke dalam minuman Nabila.


Waktu itu Al menyuruh beberapa orang anak buahnya untuk menyelidiki siapa yang membubuhkan obat perangsang ke dalam minuman Nabila. Dan hasilnya mengarah ke Sasya dan Sonya.


"Iya Dave, kamu benar, lantas bagaimana dengan kehidupan kamu sendiri?" Tanya Sasya.


"Aku baik, bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya." Ucap Davin.


"Ini mas pesanannya." Ucap ibu penjual bubur ayam menyela obrolan Davin dan Sasya. Seketika Davin menoleh ke arah ibu penjual bubur ayam.


"Eh iya, berapa bu semuanya?" Tanya Davin.


"Sepuluh ribu, mas." Jawab ibu penjual bubur ayam.


Dengan segera Davin mengeluarkan selembar uang kertas senilai lima puluh ribuan dari dalam dompetnya, dan diberikan kepada ibu penjual bubur ayam.


Dengan segera sang ibu penjual bubur ayam memberikan uang kembalian kepada Davin. Sekilas Davin melihat kearah Sasya, lalu kemudian berpamitan pulang ke apartemennya.


"Ternyata kamu masih begitu baik Dave, sungguh laki-laki yang sempurna." Gumam Sasya.


Walaupun Sasya sangat menginginkan lelaki seperti Davin atau Alvin, namun setelah kejadian di Jogja waktu itu membuatnya sangat takut dan menutup diri.


Akibat perbuatannya keluarganya hampir saja bangkrut, dan itu adalah salah satu pembalasan dari Alvin untuknya, akibat perbuatannya membubuhkan obat perangsang di minuman Nabila.


Saat ini Sasya menjadi salah satu wanita karir yang sukses, walaupun dia belum menikah. Namun Sasya sudah banyak berubah, tidak seperti dulu yang sangat berambisi untuk menikah dengan Alvin.


Kini Sasya lebih mandiri, tidak lagi mengandalkan kekayaan orangtuanya. Bahkan selama 7 tahun terakhir Sasya sudah bisa membeli rumahnya sendiri yang saat ini ditempatinya.


Bersambung..


maafkan ayyu ya jika terlalu lama membuat kalian menunggu... karena memang ayu sedang liburan bersama keluarga selama beberapa hari... jadi tidak sempat mengetik naskah...


Dan mungkin mulai sekarang ayyu akan coba up Rutin untuk novel ini... dan doanya ya supaya jari ayyu sanggup untuk mengetik beberapa judul novel ayyu ini...


Dan tidak lupa untuk memberikan like komen dan juga votenya... masa iya nagih up tapi ga mau bantu kasih vote.. hehehe...


selamat membaca ya..


love you all..