
Beberapa anak buah yang dikerahkan untuk mencari Bryan, mereka terus bergerak mencari data ataupun mencari informasi terakhir tentang penculikan Bryan, sekecil apapun informasi yang didapat mereka kumpulkan dan selalu melaporkannya kepada Davin.
Sementara Davin sendiri mencoba mengingat siapa musuh mereka yang saat ini sedang gencar mengincar keluarganya. Padahal sudah lama tidak ada yang berani melakukan hal itu, sebelumnya Davin berpikir jika yang menjadi target adalah Kinan, jika sang penculik itu Mario. Tapi ini belum ada kabar apapun siapa penculik Bryan.
"Brengsek!! Sudah jam segini belum ada kabar apapun dari mereka, tentang Bryan, apa saja kerja mereka?" Ucap Davin terlihat emosi.
Seandainya saat ini Kinan tidak hamil, mungkin Davin akan turun tangan sendiri untuk mencari keberadaan Bryan. Davin sesekali melihat layar ponselnya, menunggu kabar terbaru tentang Bryan.
"Apa sebaiknya aku memberi tahu Al, bagaimanapun Al adalah papanya Bryan, dia berhak mengetahuinya." Gumam Davin.
Davin meraih ponsel yang ada di meja, kemudian mencari nama Alvin untuk dihubungi, dan memberitahu tentang kejadian penculikan Bryan.
Namun belum sempat Davin menghubungi Alvin sebuah email masuk dari Yudha, dengan segera Davin membuka email tersebut. Betapa terkejutnya Davin setelah membaca isi email dari Yudha.
"Shit!!, ternyata itu ulah Mario, bukankah dia ada di Bali? Lantas bagaimana bisa dia ada di Jakarta saat ini? Apa mungkin dia mencoba mengelabuhi aku?"
Davin sudah terlihat emosi saat ini, bagaimana bisa Mario menculik Bryan? apa yang sebenarnya diinginkan Mario? Lantas Apa tujuannya dia menculik Bryan? Begitu banyak pertanyaan yang mengganjal di kepala Davin saat ini.
Tanpa berpikir panjang Davin menghubungi Alvin yang kini sudah ada di Bali. Davin menceritakan perihal penculikan Bryan, dan di ujung telepon sana terdengar Alvin yang begitu emosi mendengar kabar dari Davin.
"Shit!! Kalau sampai terjadi sesuatu pada anakku, aku sendiri yang akan menghabisi dia." Ucap Alvin dengan nada emosi. Kemudian Alvin mematikan panggilan sepihak.
Davin sangat memahami bagaimana perasaan Alvin saat ini, walaupun Bryan bukan anak kandungnya, tapi Davin sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri. Bahkan Bryan juga memanggilnya Papa.
"Aku janji aku akan segera menemukan dia, Al." Gumam Davin.
'Bagaimana pun Bryan sudah seperti anakku sendiri, aku pasti akan menguliti siapapun orangnya yang sudah berani menculik Bryan.' Batin Davin.
Pikiran Davin saat ini benar-benar sangat kacau, masalah satu belum selesai sudah timbul masalah yang lain, ditambah lagi dengan penculikan Bryan membuat darahnya seakan-akan mendidih, dan ingin segera menghabisi siapa saja yang dengan berani mengusik keluarganya.
Ditambah lagi dengan pensiunnya Daffa, maka seakan berkurang kekuatan organisasi perlindungan, Apa mungkin dunia mafia sedang meremehkan kekuatan atau pun kekuasaannya? Sehingga dengan beraninya menculik Bryan.
"Sepertinya dunia hitam sedang ingin menantangku, akan aku tunjukkan pada kalian jika dengan pensiun nya Papa, tidak ada yang berubah bagi organisasi Perlindungan. Kekuatan kami masih sama seperti waktu Papa yang menjadi ketuanya." Gumam Davin dengan menggenggam erat ponsel yang ada di tangannya sebagai pelampiasan amarahnya saat ini.
Di saat seperti ini, Davin tidak ingin di dekat Kinan, karena Davin tidak mau jika Kinan mengetahui jika dirinya adalah ketua mafia dunia. Cukuplah Kinan tahu bahwa suaminya adalah pemilik perusahaan D.A dan A.J group.
Setelah merasa tenang, Davin yang terlihat lelah, kini dia berjalan menuju ke kamarnya, terlihat saat ini Kinan sedang tertidur, sehingga Davin memelankan suara langkah kakinya. Supaya tidak membangunkan Kinan.
Setelah itu Davin naik ke ranjang dan memeluk Kinan dengan sangat erat, Kinan yang merasakan pelukan hangat dari Davin pun, membalasnya sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Davin.
*********************
Alvin yang kini sedang berada di hotel terlihat begitu emosi, apalagi setelah mendengar dari Davin jika saat ini Bryan di culik oleh Mario, lantas apa tujuan Mario menculik Bryan? Sedangkan Alvin ke Bali dengan tujuan penangkapan Mario, tapi kenapa bisa Mario menculik Bryan jika dia ada di Bali?.
Dengan segera Alvin menghubungi X untuk meminta penjelasan tentang laporan yang selama ini dia dapat dari X. Bahwa Mario ada di Bali.
"Bisa-bisanya X melaporkan jika Mario ada di Bali, lantas siapa yang ada di Jakarta dan menculik Bryan?" Ucap Alvin yang menahan emosinya yang sudah sampai di ubun-ubun.
"Ada apa Al? Sudah larut malam begini Kamu memanggil kami kemari?" Tanya Rangga saat sudah sampai di kamar Alvin bersamaan dengan Sean.
"Apa tuan muda membutuhkan sesuatu?" Tanya Sean.
"Bryan diculik." Ucap Alvin dengan wajahnya terlihat sedang marah.
Sean dan Rangga terkejut mendengar itu, mereka berdua saling pandang, seakan ingin menanyakan siapa yang dengan berani menculik anak dari ketua mafia dunia? Apa mereka mempunyai cadangan nyawa? Sehingga berani-beraninya menculik penerus dari D.A dan A.J group.
"APA!!" Ucap Sean dan Rangga bersamaan.
"Bagaimana bisa hal itu terjadi? Siapa yang dengan berani menculik Bryan?" Ucap Rangga penasaran.
"Karena itu aku memanggil kalian berdua kemari, aku ingin kalian mencari tahu siapa yang telah menculik anakku? apakah benar itu Mario atau ini hanya pengalihan isu dan mengatasnamakan Mario?" Ucap Alvin.
"Maksud tuan muda? Apa yang menculik tuan muda Bryan, dia mengatasnamakan Mario?" Tanya Sean.
"Ya, dan Aku tidak mau tahu bagaimana cara kerja kalian, supaya bisa menemukan anakku dalam keadaan baik-baik saja." Ucap Alvin.
"Apa mungkin ini pengalihan isu, mengingat jika kamu kembali ke Jakarta, maka Mario yang sebenarnya akan berhasil lolos dan bisa membawa formula blue dengan mudah di pelelangan nanti." Ucap Rangga menganalisa sendiri pemikirannya.
"Benar juga apa yang dikatakan oleh Rangga, jadi sebaiknya tuan muda Alvin tetap di Bali, karena saya yakin tuan muda Dave tidak akan tinggal diam begitu saja." Ucap Sean.
"Tadi aku sudah menghubungi X, dan meminta kepastian akan laporan yang dia berikan kepadaku beberapa waktu lalu. Yang di Bali ini benar-benar Mario atau bukan?" Ucap Alvin.
"Setahu saya laporan X tidak pernah melenceng dan tidak pernah salah, dan saya yakin jika yang menculik tuan muda Bryan bukanlah Mario." Ucap Sean seolah mencoba mengamati situasi saat ini. "Kalaupun itu memang benar Mario, pasti Mario yang sudah menyuruh anak buahnya untuk menculik tuan muda kecil Bryan, tapi untuk tujuan apa?."
"Kalian berdua memang benar, kemungkinan mengarah ke sana begitu besar, dan aku yakin ini pasti ada hubungannya dengan Mario, seperti apa yang dilaporkan oleh X." Ucap Alvin.
"Aku akan mulai menyelidiki di lokasi pelelangan," Ucap Rangga.
"Saya akan mencari tahu tentang sekutu Mario saat ini," Ucap Sean.
"Aku tidak tahu cara kerja kalian bagaimana, yang aku inginkan Mario ada di hadapanku, dan anakku selamat tidak terluka sedikitpun." Ucap Alvin.
"Baiklah aku mengerti." Ucap Rangga.
"Saya mengerti tuan muda." Ucap Sean.
Setelah berdiskusi apa yang akan dilakukan oleh ketiganya, kini Sean dan juga Rangga kembali ke kamarnya masing-masing. Sean segera menyebarkan perintah kepada bawahannya untuk segera mengumpulkan informasi tentang siapa-siapa saja sekutu Mario.
Sedangkan Rangga, segera menghubungi beberapa orang untuk mencari tahu informasi tentang pelelangan, barang apa saja yang sedang diincar oleh Mario, ataupun beberapa organisasi mafia yang lain. Serta siapa yang sedang membantu Mario saat ini di pelelangan.
Bersambung