
Dan untuk jackpot kali ini adalah, jika organisasi Perlindungan mampu membawa Mario hidup-hidup, dan diserahkan kepada pihak kepolisian, maka pihak kepolisian sudah berjanji akan menghapus semua berkas tentang kejahatan organisasi.
Dan itu adalah kesepakatannya dengan Jojo, bahkan Davin sendiri yang meminta waktu 6 bulan untuk menangkap Mario.
"Sekarang om Ryo sudah tidak di Jakarta lagi, dan biasanya om Ryo yang akan membantu kita untuk hal-hal seperti ini." Ucap Alvin.
"Biarkanlah Om Ryo menghabiskan masa tuanya bersama Tante Chika, seperti Papa yang memilih untuk pensiun dan menghabiskan waktu bersama Mama. Sekarang tugas kita bagaimana caranya agar perusahaan ini tetap berkembang dan terus menjadi nomor satu di dunia." Ucap Davin. "Ibarat kata, yang muda yang berkarya, jadi seperti itulah tugas kita saat ini."
"Baiklah-baiklah, loe selalu lebih unggul dari gue kalau soal yang beginian." Ucap Alvin. "Tapi kita harus mencari pengganti Om Ryo sebagai tangan kanan yang harus memegang kendali penuh jika kita tidak ada ditempat." Ucap Alvin.
"Gue sudah mempercayakan semua pada Sean, Dia sangat mengetahui apa yang harus dikerjakan sebelum gue menyuruhnya." Ucap Davin.
"Baguslah kalau begitu, tinggal di asah sedikit saja Dia pasti sudah mahir melakukan segalanya." Ucap Alvin.
"Nah itu tujuan gue sekarang, dan gue rasa untuk masalah keamanan X yang sangat cocok mengambil tugas itu." Ucap Davin lagi.
"Loe jangan mengambil X dari gue, karena dia orang kepercayaan gue." Ucap Alvin tak terima.
"Loe gak salah Al? Dia itu selalu menuruti semua perintah gue, bukan loe." Ucap Davin.
"Pokoknya X jangan loe suruh untuk pengamanan, karena dia sudah terbiasa dengan tugas di luar sebagai pengumpul informasi." Ucap Alvin.
Davin menatap Alvin, kemudian Davin manggut-manggut seolah apa yang di katakan oleh Alvin memang benar adanya, jika selama ini X lah yang selalu bisa di andalkan untuk mencari informasi apapun, baik tentang perusahaan ataupun tentang dunia hitam.
"Baiklah, bagaimana dengan Yudha?" Tanya Davin.
"Dia lebih cocok di kantor membantu loe mengurus perusahaan." Ucap Alvin.
"Ck, semuanya salah, sekarang rekomendasikan untuk gue, siapa yang cocok untuk tugas ini." Ucap Davin.
"Gue akan rekrut Rangga, Farrel, dan juga Bima untuk membantu kita menstabilkan keamanan sistem, atau pun keamanan dari pihak yang ingin mengacaukan perusahaan. Mengingat mereka juga mengetahui tentang organisasi, jadi menurut gue tidak akan sulit." Ucap Alvin menyebut nama-nama sahabat mereka dulu. (Rangga, Farrel dan Bima adalah sahabat si kembar semasa kuliah dulu).
Davin mengerutkan keningnya dan menyipitkan matanya, menatap tajam kearah Alvin, seketika Davin teringat jika sahabat-sahabatnya itu selalu bisa diandalkan dalam segala situasi dan kondisi apalagi dulu mereka juga terlibat dalam penyerangan di villa Martin.
"Kenapa tidak pernah terpikirkan sama sekali, loe sudah menghubungi mereka?" Tanya Davin.
"Sudah, gue meminta mereka untuk berkumpul di apartemen lama kita." Ucap Alvin.
"Good job brother, ga sia-sia loe jadi saudara kembar gue." Ucap Davin.
"Ck, geli gue. Jangan bicara seperti perempuan gitu." Ucap Alvin.
"Hahaha, gue bicara fakta, kalau loe itu emang saudara kembar gue, dan posisi loe itu adalah adik gue, dasar bodoh!!" Ucap Davin. Sambil melempar sebuah pena ke arah Alvin, dan dengan sigap Alvin menangkapnya.
"Ogah gue jadi adik loe, cukup jadi saudara kembar loe aja udah nyiksa gue banget," Ucap Alvin.
"Hahaha, loe kira gue juga mau begitu, kembaran sama loe?! Ketampanan gue di bagi Ama loe aja gue udah merasa rugi," Ucap Davin, tak mau kalah.
"Ketampanan apaan? Ini nih namanya wajah sial menurut gue, karena wajah ini gue hampir mati di tangan Antonio," Ucap Alvin tak kalah kesal. "Tapi beruntungnya Nabila gak pernah salah mengenali suaminya, tidak seperti Kinan." Cibir Alvin, yang teringat jika Kinan ada beberapa kali salah terka kepadanya. Dan mengira jika dia adalah Davin.
"Sialan loe Al, kenapa jadi bawa-bawa Kiki sih." Ucap Davin.
"Hahaha, impas kita."
Dan memang begitulah mereka, selalu bicara hal yang tidak penting, karena tidak ada yang mau mengalah kalau bicara soal fakta jika mereka kembar identik.
Menjadi target penculikan, karena wajahnya yang sangat mirip dengan Davin, adalah sebuah kesialan baginya. Namun berbeda dengan Davin, karena Davin belum pernah mengalami apa yang Alvin alami. Dan hal itu sangat menyenangkan bagi Davin untuk membuat kesal Alvin.
Keduanya pun larut dalam pembicaraan soal siapa yang akan mengambil alih tugas Ryo Mahesa, karena saat ini posisi Ryo belum ada pengganti yang cocok dan sesuai dengan kriteria.
Dan sekarang munculah nama Sean, untuk tangan kanan Davin, sedangkan Rangga, Farrel, dan juga Bima, akan membantu Alvin dalam dunia hitam maupun keamanan perusahaan dari serangan musuh.
**************************
Di kota S, pagi-pagi buta Jojo sedang menikmati suasana perkebunan teh bersama dengan Ayumi, karena Luna yang memaksa mereka untuk ikut ke perkebunan walaupun hanya sekedar untuk melihat-lihatnya saja.
Luna dan Nando berada di kantor mereka, sedang Ayumi dan Jojo sepakat untuk melihat langsung bagaimana cara memetik teh yang benar di kebun.
"Suasana di sini sangat sejuk dan nyaman ya kak? Berbeda dengan kota Jakarta yang selalu panas." Ucap Ayumi mengagumi keindahan pegunungan dan juga kebun teh milik keluarga Jojo.
"Iya, dulu sewaktu aku masih kecil, Mama selalu mengajakku kemari, karena Mama tidak mau menggunakan jasa baby sitter," Ucap Jojo memulai ceritanya, sekilas dia teringat akan masa kecilnya.
"Mama sangat menyayangi kak Jojo, makanya dia rela merawat kak Jojo tanpa menggunakan jasa baby sitter." Ucap Ayumi.
"Iya, sebenarnya Mama Luna bukanlah mama kandungku," Ucap Jojo.
"Hah!!" Ayumi seketika shock mendengar ucapan Jojo, sangat tidak bisa di percaya jika Luna yang sangat menyayangi Jonathan bukanlah Mama kandungnya.
Jonathan tersenyum kemudian mengacak pucuk rambut Ayumi, entah kenapa mengacak pucuk rambut Ayumi akhir-akhir ini menjadi hal baru yang sangat di sukainya.
"Kata Papa, mamaku meninggal karena kecelakaan, dan waktu itu usiaku belum genap satu tahun." Jonathan menerawang jauh ke depan untuk memulai kisahnya.
"Waktu itu terjadi kebakaran di rumah kakek, karena Mama pulang ke rumah orangtuanya dan membawaku serta, jadi Mama tidak tahu kalau rumah kakek kebakaran." Ucap Jonathan mengingat akan cerita dari Papanya. "Setelah mendapat kabar dari Tante Serly, mama langsung melakukan perjalanan untuk kembali ke kota S ini. Namun naas kecelakaan itu terjadi, dan mama meninggal."
"Maafkan Yumi, kak," Ucap Ayumi.
"Kenapa meminta maaf, semua sudah berlalu, dan Mama Luna adalah pengganti Mamaku yang sangat luar biasa, dia sangat menyayangi aku seperti anaknya sendiri." Ucap Jojo menggenggam tangan Ayumi. "Dan ini adalah perkebunan peninggalan almarhum kakek, yang sekarang di kelola oleh Papa dan Mama."
"Wah.. luas banget kak, akan sangat jarang menemukan suasana seperti ini di Spain atau pun di Jepang." Ucap Ayumi yang memang benar-benar mengagumi tempat tersebut.
"Dan yang ada di seberang sana itu adalah perkebunan milik Mama, karena perkebunan itulah awal mula Mama bertemu dengan Papa." Ucap Jojo sambil menunjuk ke arah seberang bukit, terlihat senyum tipis dari sudut bibir Jojo.
"Pokoknya kak Jojo harus sering-sering mengajakku kemari," Ucap Ayumi melingkarkan tangannya di lengan Jojo, bergelayut manja di sana.
"Kamu suka?" Tanya Jojo.
"Iya kak, sangat suka malahan, dan ternyata sangat menyenangkan kak, bisa merasakan dan belajar memetik teh dengan tangan kita sendiri." Ucap Ayumi. Yang masih bergelayut di lengan Jojo.
"Asal kamu senang, aku akan sering mengajakmu kemari." Ucap Jojo.
"Benarkah?" Tanya Ayumi memastikan jika Jojo tidak akan ingkar janji.
"Hem."
Dengan tersenyum Jojo menganggukkan kepalanya, kemudian menepuk punggung tangan Ayumi yang masih melingkar di lengannya. Entahlah perasaan apa yang sedang di rasakan oleh Jojo, yang jelas Jojo saat ini merasa nyaman, dan bahagia.
Bersambung.