
Di kota S, Ayumi dan Jojo serta keluarga yang lain sedang asyik menikmati sarapan mereka, bahkan setelah sarapan mereka pergi ke habitat mereka masing-masing.
"Ayumi, kamu mau lanjut istirahat dulu atau kamu mau ikut aku ke perkebunannya Papa?" tanya Jojo pada Ayumi yang baru selesai memakan sarapannya
Ayumi berpikir sejenak sebelum menyetujui ajakan Jojo. Dia melirik ke arah Nando dan Luna secara bergantian.
"Pergilah bersama Jojo, Nak. Nanti dia akan membawamu ke tempat yang adem. Sekalian saja kalian berjalan - jalan mengisi waktu luang sampai jam makan siang nanti. Mama masih ada urusan. Papa juga akan berangkat ke perkebunan. Nikmatilah masa liburan kalian ini," ucap Luna kepada Ayumi yang masih terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan dari Jojo.
"Baiklah, aku akan ikut Kak Jojo pergi jalan - jalan, Ma." Akhirnya, Ayumi setuju untuk pergi bersama dengan Jojo. Mereka pun berpamitan dan pergi bersama.
Ayumi senang melihat pemandangan nan hijau seperti yang dilihatnya saat ini. Dia mengabaikan sekitarnya hanya karena lebih menikmati pemandangan yang indah. Asrinya suasana perkebunan membuat mata menjadi lebih cerah.
Jojo yang melihat tingkah lucu Ayumi itu pun merasa bahagia. Tanpa sadar, Jojo tersenyum tipis melihat gadis pujaan hatinya yang sedang berseri melihat pemandangan hijau yang terbentang luas.
"Ayumi, jangan jauh - jauh dariku. Nanti kamu malah kesasar," ucap Jojo menggoda sang kekasih.
Ayumi tidak menggubris perkataan Jojo. Dia malah pergi begitu saja menuju ke sela - sela perkebunan. Berlari melewati hijaunya dedaunan sambil menikmati udara sejuk di pagi hari.
Melihat Ayumi berlari seperti anak kecil, membuat Jojo berkeinginan untuk mengejarnya. Ayumi yang tidak memperhatikan keberadaaan Jojo pun tersentak kaget.
Jojo menarik pergelangan tangan Ayumi dan menariknya hingga tubuh mereka menempel. Ayumi membelalakkan matanya melihat wajah Jojo. Dia merasakan hawa panas menyelimuti jiwa dan raganya dalam sekejab.
Ayumi menundukkan wajahnya sambil mendorong kuat tubuh Jojo yang sangat dekat dengannya. Jojo yang memegang kedua pergelangan tangan Ayumi, tidak memberikan kesempatan bagi Ayumi untuk melepaskan diri darinya.
"Ini hukuman buatmu, karena kamu sudah mengabaikan perkataanku. Aku bilang jangan jauh - jauh dariku, kamu malah berlari menjauhiku. Hmm?" Jojo tersenyum puas melihat Ayumi yang sudah berubah menjadi tomat.
Ayumi memang sangat sensitif dengan hal seperti ini. Suka tidak suka, wajahnya akan berubah menjadi memerah seperti tomat jika sudah berurusan dengan kontak fisik seperti ini. Tapi, hal seperti inilah yang membuat Jojo semakin gencar untuk menggodanya.
"Aku tidak mendengar Kakak bilang begitu. Kapan Kakak berbicara denganku?" tanya Ayumi dengan perlahan. Kali ini, dia benar - benar salah tingkah gegara Jojo.
"Apa? Kamu tidak mendengar aku bilang begitu? Jarak kita itu tidak sejauh Sabang dengan Merauke, Ayumi." Jojo malah menekankan kata - katanya agar Ayumi bisa memahami kesalahan yang diperbuatnya. Sebenarnya, ini hanyalah gangguan kecil yang dipersiapkan Jojo untuk bisa mendekatkan diri dengan Ayumi.
Ayumi menggelengakan kepalanya. Dia tetap menundukkan kepalanya dan tidak mau memandang wajah Jojo.
Jojo yang kesal dengan gelengan Ayumi pun mulai menarik dagu Ayumi ke arahnya. Wajah Ayumi yang merona itu membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
Setelah melirik ke segala arah, Jojo tidak melihat seorang pun berada di sekeliling mereka. Sehingga dia melancarkan aksinya untuk mencium bibir ranum milik Ayumi.
Ayumi yang menerima ciuman tanpa izin itu pun langsung mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mendorong tubuh Jojo. Dengan kekuatannya yang besar itu, dia berhasil melepaskan diri dari genggaman Jojo.
Jojo memang sudah kehilangan akal sehat. Dia tidak berpikiran sampai sini. DIa mengira Ayumi akan menerima perlakuan romantis darinya dengan baik seperti sebelumnya.
"Ayumi, kamu lihat sendiri kan? Di sini tidak ada siapa pun. Kamu terlalu sensitif. Sepertinya kamu masih tidak bisa melakukan hal yang romantis." Jojo hanya bisa tersenyum sambil berkata apa adanya. Apa yang terlintas di pikirannya, diucapkannya begitu saja.
Ayumi yang mendengar hal itu pun memelototkan kedua bola matanya pada Joko dan berkata, "Aku tidak memerlukan hal romantis, jika bukan pada tempatnya, Kak. Meskipun aku tidak mengerti tentang keromantisan, aku tetap tidak menyukai hal seperti ini, Kak. Ini di tempat terbuka. Apa Kakak sudah gila? Berani menciumku di tempat terbuka seperti ini."
Ayumi pun berjalan secepat mungkin meninggalkan Jojo yang terkekeh mendengar pertanyaan Ayumi dan langsung menjawabnya, "Iya! Aku sudah gila! Aku gila karenamu, Ayumi!"
Teriakan Jojo masih bisa didengar oleh Ayumi. Dia tersipu malu mendengar jawaban dari Jojo. Dia berlari menyusuri hijaunya perkebunan hingga tidak lagi terjangkau oleh Jojo.
"Ayumi! Jangan lari - lari seperti itu! Nanti kamu ..."
BRUKK!
Sebelum Jojo menyelesaikan ucapannya, Ayumi terjatuh karena tersandung batu, Jojo terkejut dan langsung berlari secepat kilat menghampiri Ayumi. Dia tidak menyangka, kalau seorang Ayumi yang sudah berumur itu bisa terjatuh karena berlari di perkebunan.
"Inilah akibat tidak mendengarkan ucapanku. Kamu itu selalu saja seperti ini, Ayumi. Kamu selalu membuatku khawatir."
Jojo mulai panik dan langsung mengangkat tubuh Ayumi dan membopongnya pulang ke rumah. Dengan tergesa - gesa, dia mencari kotak obat dan mengobati luka di lutut Ayumi. Lututnya tergores batu dan terluka cukup ringan.
"Kak, ini hanya luka kecil. Jangan khawatir begitu. Aku kan tidak terluka parah sampai harus dikhawatirkan seperti itu."
Ayumi berusaha untuk menenangkan Jojo. Raut wajah Jojo berubah seketika saat tatapan mata mereka bertemu.
"Coba katakan sekali lagi. Aku tidak peduli seberapa ringan luka yang kamu dapat. Aku hanya ingin kamu tau betapa aku mengkhawatirkanmu, Ayumi. Aku benar - benar panik saat melihatmu terjatuh. Kenapa kamu seperti anak kecil saja? Berlari hanya untuk terjatuh."
Ayumi hanya bisa diam membisu tanpa membalas perkataan Jojo, walau hanya sepatah kata. Jojo terlihat sedang marah melihatnya terluka seperi itu.
"Ya sudah, kamu istirahatlah sebentar. Aku akan memanggilmu ketika sudah waktunya jam makan siang. Kamu tidak boleh melakukan banyak hal dulu, sampai kakimu benar - benar pulih." Jojo pun meninggalkan Ayumi yang sedang duduk di atas ranjangnya dan tidak lupa membawa kotak P3K yang tadi dipakainya untuk mengobati luka Ayumi.
Tidak butuh waktu lama, Ayumi tertidur dengan pulas. Sedangkan Jojo, dia malah duduk di sebuah kursi yang berada di balkon yang terletak di dalam kamarnya. Dia sedang memikirkan kejadian saat berada di perkebunan.
Kenapa dia bisa begitu gegabah untuk mencium seorang Ayumi di tempat terbuka seperti itu? Dia pasti akan kena marah sama Papanya, jika dia ketahuan melakukan hal seperti itu.
Bersambung