
Jam 12 siang akhirnya rumah ayah Hendi nampak lebih layak, meskipun pekerjaan di belakang masih sangat menumpuk sebab semua baju belum dicuci. Masih ada pula beberapa piring kotor di westafel dan kamar mandi juga belum dibersihkan.
"Aku lapar," kata ayah Hendi.
"Mana uangnya? Aku yang akan membeli makanan," jawab salah satu penjaga, dia juga mengulurkan tangannya meminta uang untuk membeli makanan.
"Cih! Kamu meminta uang padaku? Apa Nickolas tidak memberimu uang untukku?" tanya ayah Hendi, dia masih tidak percaya jik menantu super kayanya tidak memberi sedikitpun uang. Padahal dari informasi yang dia dapat keluarga Carter adalah satu keluar terkaya di negara ini. Rumah sakit Medistra itu adalah rumah sakit milik menantunya.
"Bukankah tuan Nickolas sudah mengatakan kepada anda, bahwa dia tidak akan memberi Anda uang sepeserpun."
Ayah Hendi sampai tak mampu berkata apa-apa lagi mendengar ucapan penjaga tersebut. Dengan sangat terpaksa akhirnya dia mengeluarkan uang terakhir yang ada di saku celananya.
Penjaga itu dengan cepat mengambil uang tersebut dan segera pergi untuk membeli makanan.
Ayah Hendi tetap tak bisa bergerak leluasa karena masih ada satu lagi penjaga yang selalu mengawasi semua pergerakannya.
bagaimana caranya aku bisa kabur dari mereka berdua? aku harus segera menemui Naina. Nickolas benar-benar tidak bisa aku harapkan! Batin ayah Hendi, dengan perasaan geram yang begitu menguasai hatinya. Sungguh, pertemuannya dengan Nickolas adalah salah satu pertemuan yang paling dia sesali di dunia ini.
Sekitar 15 menit setelah pergi, akhirnya salah satu penjaga yang pergi untuk membeli makanan telah kembali pulang. Dia membawa 3 kotak makanan untuk mereka bertiga, dua untuknya dengan sang rekan dan satunya untuk ayah Hendi.
"Ini makananmu," ucap penjaga tersebut dan memberikan satu kotak makanan untuk ayah Hendi.
"Kenapa makanan kita berbeda, aku ingin makanan yang itu!" balas ayah Hendi, dia menunjuk kotak makanan yang masih di pegang oleh sang penjaga.
"Jika ingin makan enak Pergilah kerja dan dapatkan uang, jangan hanya mabuk dan judi saja bisamu!" maki penjaga itu pula dan membuat ayah Hendi tak mampu bicara apapun.
Nickolas meninggalkan dua anak buahnya di sini dan bukannya membantu semua masalahnya yang ada, dua penjaga itu justru menambah masalah yang untuknya, membuat kepalanya terasa jadi ingin pecah.
Akhirnya mereka bertiga makan di meja makan yang ada di sana. Dengan menu makan siang ayah Hendi yang sangat sederhana. Sementara dua penjaga itu makan daging dengan leluasa. Sedikit pun tidak merasa iba pada ayah Hendi yang makan dengan lauk seadanya.
"Apa selama ini anda pernah memikirkan anak dan istri Anda sudah makan atau belum?" tanya salah satu penjaga.
Sebuah pertanyaan yang tidak bisa Ayah Hendi jawab.
"Tidak pernah kan? jadi cepat habiskan makananmu, jangan sampai jadi kelaparan seperti mereka berdua dulu."
Deg! Kalimat itu seperti peddang yang menussuk tepat di jantungnya. Membuatnya kesulitan meski hanya untuk menelan ludahnya sendiri.
Selama ini ayah Hendi pilih pergi, pilih mabuk dan pilih bermain judi untuk meluapkan semua kekecewaannya pada diri sendiri. Sebab Dia tak bisa jadi ayah dan suami yang baik.
Ayah Hendi malu untuk mengakui kegagalan, malu untuk bekerja serabutan. Dia selalu berpikir egois dan hanya memikirkan diri sendiri.
Tapi sekarang mendadak daddanya terasa sesak.