Secret Agreement

Secret Agreement
SA Bab 62 - Rindu Sekali



Hari pun bergulir. Kabar tentang ibu Wilda sudah sadarkan diri dari komanya pun terdengar pula pada dokter-dokter yang lain. Kabar yang makin menegaskan bahwa dokter Aresha adalah dokter paling hebat masa ini.


Dan dokter Herli adalah yang maju paling depan untuk menunjukkan rasa syukurnya pada Naina. Sementara sikap Naina yang terus membatasi diri, justru membuat dokter Herli makin tertantang untuk mendekati.


Di hari kedua ibu Wilda siuman, dia mulai bisa banyak bicara.


"Ibu tidak tahu ini mimpi atau bukan, tapi ibu benar-benar ingin menanyakannya padamu Nai," ucap ibu Wilda, ranjangnya dibuat lebih tegak, jadi meski masih tertidur namun posisinya setengah duduk.


"Apa Bu? katakan padaku," jawab Naina, dia sedang makan irisan buah apel di samping ranjang ibunya tersebut. Tadi Naina sudah memberi pada ibu Wilda, namun ibunya menolak. Tak berselera untuk memakan buah tersebut.


"Apa benar kamu sudah menikah dengan dokter Nickolas?" tanya ibu Wilda dengan suaranya yang lirih.


Mulut Naina yang mengunyah seketika terdiam, sebelum akhirnya dia mengangguk kecil sebagai jawaban.


"Iya Bu, sudah cukup lama, saat itu ibu masih koma."


"Bagaimana bisa?"


"Kami saling mencintai, Bu. Dokter Nickolas tidak tega melihat ku yang selalu sendiri menjaga ibu, jadi kami memutuskan untuk menikah agar dokter Nickolas bisa selalu berada di samping ku," jawab Naina, kebohongan paling besar yang pernah dia perbuat.


Tapi tentang kebohongan ini pun sudah dia bicarakan pada sang suami. Nickolas tentu tidak merasa keberatan sedikitpun, toh kini mereka memang telah saling mencintai.


"Tapi kami masih merahasiakan pernikahan ini Bu, sebab dulu tidak memungkinkan pernikahan ini dikuak," jelas Naina lagi.


Sedangkan ibu Wilda mendengarkan dengan seksama, tidak begitu terkejut karena seolah dia telah mengetahui sejak lama. Hatinya tidak merasa asing atas pernikahan tersebut. Dan sekarang ibu Wilda hanya butuh penjelasan, benarkah ini nyata dan bukan mimpi.


Masih saling bicara seperti itu, tiba-tiba pintu ruangan ini terbuka. Lalu nampaklah sosok pria yang sedang mereka bicarakan--Dokter Nickolas.


Tanpa keraguan sedikitpun Nickolas masuk dan menutup pintu, lalu menghadap pada ibu mertuanya.


"Bu," ucap Nickolas menyapa, hanya satu kata namun rasanya hangat sekali di dalam hati.


"Ibu menanyakan tentang pernikahan kita, Kak," ucap Naina, lalu mengigit bibir bawahnya sendiri merasa geli saat mengucapkan panggilan Kak pada sang suami.


Namun mendengar panggilan tersebut Nickolas justru mengulum senyum, langsung tau bahwa Naina sedang setengah bersandiwara.


Sejak kemarin Nickolas memang belum sempat bicara serius dengan ibu Wilda, dan ternyata sekarang lah saatnya, waktu yang tepat.


"Maaf karena sudah menikahi Naina disaat ibu masih koma, namun sungguh, niatku bukan main-main. Aku benar-benar mencintai Naina dan ingin kami bersama dalam ikatan pernikahan," jelas Nickolas lagi.


Ibu Wilda hanya mampu terdiam, mendengar langsung dari mulut Nickolas cukup membuatnya tercengang. Masih tak menyangka anaknya akan menikah dengan seorang dokter sukses seperti ini. Tapi pikiran ibu Wilda belum sejauh itu, dia tidak tahu bahwa dokter Nickolas adalah pemilik rumah sakit ini.


"Aku bilang pada Ibu pernikahan kita masih dirahasiakan dari semua orang di rumah sakit ini," ucap Naina lagi.


"Kenapa masih disembunyikan?" tanya ibu Wilda pula.


"Aku takut ibu dan Naina tidak nyaman jika pernikahan ini diketahui oleh pihak rumah sakit," balas Nickolas, berusaha memilih jawaban yang tidak memberatkan sang istri. Padahal hanya Naina yang masih ingin merahasiakan pernikahan ini.


Dan jawaban Nickolas itu akhirnya bisa diterima oleh ibu Wilda. Awalnya mereka tidak saling mengenal, lalu saling tumbuh rasa saat Naina datang ke rumah sakit. Jelas akan banyak spekulasi yang bermunculan.


"Aku tidak masalah pernikahan ini dirahasiakan Bu, yang penting aku dan kak Nickolas baik-baik," ucap Naina pula.


Ibu Wilda pun menganggukkan kepalanya kecil, "Maafkan ibu Nai, ibu tidak bisa melakukan apapun selain hanya bisa memberi restu," jawab ibu Wilda. Akhirnya dia menangis juga, bahagia sebab anak semata wayangnya kini telah menikah. Memiliki seorang pendamping yang begitu luar biasa, membuatnya haru.


Apalagi terlihat jelas jika Nickolas memperlakukan Naina dengan sangat baik.


"Terima kasih Dok Ni_"


"Jangan berterima kasih Bu, akulah yang harus mengucapkan kata itu. Terima kasih untuk restu yang ibu beri," jawab Nickolas dan makin menangislah ibu Wilda dibuatnya. Tak ada lagi yang dia inginkan di dunia ini selain kebahagiaan sang anak.


Naina lantas bangkit dan memeluk sang ibu, merasakan hati yang begitu haru. Akhirnya dia bisa melihat ibunya menangis bahagia seperti ini. Semua ini tak akan mungkin terjadi jika bukan karena sang suami.


Jam 3 sore ibu Wilda tertidur, setelah membiasakan diri untuk memanggil Nickolas dengan sebutan namanya, tanpa embel-embel dokter.


Nickolas juga harus kembali ke ruangannya. Jadi dia mencium bibir sang istri sebagai tanda pamit.


"Aku rindu sekali," kata Nickolas, sejak ibu Wilda sadar mereka belum pernah tidur satu ranjang lagi.


"Sabar," kata Naina.


"Panggil aku Kak lagi," pinta Nickolas.


"Kak Nickh," jawab Naina manja.