
Alhamdulillah bab 100, terima kasih semua pembaca setia. I Love You More ðŸ¤
Dah lah lanjut.
Ehem!!
Sudah satu minggu ayah Hendi selalu diawasi oleh dua penjaga tersebut, selama itu pula Nickolas tidak pernah sekalipun mengunjunginya lagi. Sumpah, ayah Hendi benar-benar stres. Apalagi dia tidak memiliki akses untuk bertindak semaunya. Sekarang apapun yang dia lakukan selalu diawasi oleh dua penjaga tersebut.
Bahkan hanya untuk mendatangi tempatnya biasa berkumpul di cafe langganan kini pun sudah tidak bisa lagi.
"Pergilah kalian berdua! Pergi! Aku sudah muak dengan ini semua!" kesal ayah Hendi.
"Kami akan pergi jika anda tidak berniat untuk menemui nyonya Naina."
"Kenapa kalian mengatur ku! Naina itu adalah anakku! Suka-suka ku ingin menemuinya atau tidak."
"Dulu mungkin nyonya Naina adalah anak anda, tapi sekarang dia adalah istri tuan Nickolas. Dan tuan Nick lah yang jauh lebih berhak dibanding anda."
"Omong kosong! Pergi ku bilang! Pergi!!" pekik ayah Hendi, sumpah, dia sangat muak. Hidupnya diatur oleh dua orang tersebut. dan yang lebih parah dua orang itu selalu memintanya untuk bekerja dan mencari uang dengan cara yang halal.
Sampai kapanpun ayah Hendi tidak akan pernah melakukan itu. Lagi pula untuk apa capek-capek bekerja Jika dia bisa mendapatkan uang dengan cara yang lebih mudah. Mencuri ataupun meminta pada Naina.
"Baiklah, kami akan pergi. Tapi jangan harap anda akan bertemu dengan nyonya Naina."
Dua penjaga tersebut akhirnya keluar meninggalkan rumah Ayah Hendi. Sesaat ayah Hendi seperti tidak percaya jika dua benalu itu benar-benar pergi meninggalkan dia. Ayah Hendi sampai mengintip melalui jendela dan melihat mobil milik penjaga itu ternyata benar-benar pergi.
"Astaga, akhirnya mereka benar-benar pergi meninggalkan aku," gumam ayah Hendi, seketika itu juga dia langsung berencana untuk segera menemui Naina dengan cara membuat keributan di rumah sakit. Setelah identitasnya terbongkar sebagai ayah yang ditelantarkan oleh anaknya sendiri, Ayah Hendi yakin saat itu uang akan terus mengalir deras padanya, bahkan mungkin akan ada bantuan dari orang-orang yang merasa iba padanya.
Ayah Hendi telah benar-benar siap untuk menjual kesedihan demi menarik simpati banyak orang.
Menempuh perjalanan beberapa menit sampai akhirnya dia tiba di rumah sakit yang terlihat begitu besar, yaitu Rumah Sakit Medistra.
"Wah, ini adalah rumah sakitku," gumam Ayah Hendi dengan penuh percaya diri. Sudah mulai membayangkan hidupnya yang akan berubah jadi enak.
Ayah Hendi lantas segera masuk ke dalam rumah sakit tersebut, namun belum sempat melewati gerbang utama tubuhnya sudah lebih dulu di sekap oleh dua penjaga yang ayah Hendi kenal dengan baik.
"Kalian! Lepaskan aku! Lepas!" pekik ayah Hendi.
"Dasar badjingan, sekali badjingan ternyata kamu akan tetap jadi badjingan," ucap salah satu penjaga. Mereka berdua membawa Ayah Hendi kembali pulang ke rumah, tiba di sana mereka menghadiahi ayah Hendi dengan pukulan yang membabi buta.
"Sudah ku katakan, jangan pernah temui nyonya Naina! Apa telingamu tuli! Hah!" pekik penjaga tersebut, namun ayah Hendi tak mampu menjawab sepatah katapun, dia sudah tergeletak tak berdaya di lantai.
Beberapa saat kemudian Nickolas mendapatkan foto-foto tentang ayah Hendi yang sudah tidak berdaya. Juga beberapa kata penjelasan dari sang penjaga bahwa pria paruh baya itu belum juga berubah, masih menganggap bahwa Nickolas dan Naina akan memberinya uang.
Dengan segera Nickolas pun menghapus semua foto itu, lalu memeluk pinggang sang istri yang kini duduk di sampingnya. Sore ini mereka menghabiskan waktu di balkon kamar, melihat matahari tenggelam di ujung sana.
"Cium," pinta Naina tiba-tiba.
Nick langsung menuruti sang istri, mencium dan menelusup lidahnya.
"Iih sayangh, kecup saja. Kenapa lidahnya masuk-masuk," kata Naina protes.
Cup! Nick langsung revisi, langsung memberikan kecupan yang diinginkan sang istri.
"Aaa sayaanghh," manja Naina, sebab kini jadi tersipu malu sendiri.