
"Aylin, panggil kakak Naina dan kak Nickolas. Kenapa mereka berdua belum turun ke sini," titah mom Aresha, padahal saat ini waktu jam 7 malam sudah memasuki waktunya makan malam bersama.
"Kiara saja Mom, aku capek," tolak Aylin.
"Kiara kakinya sakit Aylin, kamu lupa tadi dia jatuh dari motor mang Ujang," balas mom Aresha. Sore tadi Kiara sok-sokan belajar motor menggunakan motor milik tukang kebun di rumah ini, bukannya berhasil Kiara malah jatuh. Tidak parah memang, tapi lututnya ada sedikit memar.
"Kalau begitu kak Nathan saja, sekali-kali dia yang memanggil kak Nickolas dan kak Nai," celetuk Aylin.
Mom Aresha hanya diam, tatapan tajam Nathan pada Aylin sudah menjelaskan semua apa jawaban pria itu. 'Tidak! pergilah sendiri!' kira-kira begitulah arti dari tatapan Nathan.
Dan canggihnya Aylin bisa langsung paham. "Hais, ya sudah aku yang panggil!" kesal Aylin, sambil menggerutu akhirnya dia bangkit lagi dan bergegas menuju lantai 2 untuk menjemput kakak-kakaknya itu segera turun meja makan.
Sepanjang perjalanannya pun mulut Aylin tak henti-hentinya menggerutu, entah apa saja yang dia lontarkan sampai tak pernah ada habisnya.
Mulut itu seketika berhenti bicara ketika langkahnya sudah berdiri tepat di pintu kamar kak Naina.
Tok tok tok! "Kak Nai!" pekik Aylin.
Klek! yang membuka pintu adalah Nickolas.
"Ingin memanggil kami untuk turunkan, tunggu sebentar. Kak Nai masuk angin, aku masih membalur tubuhnya menggunakan minyak putih."
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Aku akan turun dan buatkan minuman hangat," balas Aylin dengan cepat dan cemas, berapa detik lalu dia menggerutu merasa kesal atas sikap manja sang kakak ipar, sikap manja yang akhirnya menular kepada kakaknya sendiri. Tapi sekarang secara mendadak dia adalah yang paling cemas ketika mengetahui keadaan Kak Naina sedang tidak baik-baik saja.
Aylin bahkan sampai berlari ketika dia menuruni anak tangga kembali menuju dapur.
"Ya ampun Aylin, kenapa lari-lari," kata Daddy Rayden.
"Kak Naina masuk angin Mom, tolong buatkan minuman hangat, aku kan tidak bisa," jawab Aylin.
"Astaga, jadi dimana mereka?" tanya Daddy Rayden lagi.
"Tadi aku lihat mereka lama sekali di balkon kamar, pasti karena itu," ucap Kiara. Tapi dia tidak sempat lihat adegan lain selain hanya duduk bersama.
Mom Aresha lantas segera membuatkan minuman hangat untuk sang menantu dan tak lama kemudian Nickolas dan Naina turun bergabung bersama mereka.
"Kamu masuk angin Nai?" tanya Daddy Rayden.
"Iya Dad, tapi sudah mendingan kok. Kak Nickolas sudah memberiku obat," jawab Naina, jangan lupakan bahwa suaminya itu adalah seorang dokter. Bukan hanya ahli menyuntik untuk membuat anak, tapi dia juga ahli menyuntik untuk menyembuhkan pasien-pasiennya.
"Duduklah, minum ini," kata mom Aresha.
"Terima kasih Mom."
"Lain kali jangan terlalu lama saat duduk di balkon, sore-sore banyak angin."
"Iya Mom," kata Naina lagi.
Setelah semua anggota berkumpul akhirnya makan malam pun dimulai, tapi saat itu hanya Naina yang tidak bergerak untuk mengambil makanan.
"Kenapa sayang? kamu tidak suka semua makanan ini? Katakan ingin makan apa? Biar mommy buatkan," tanya mom Aresha.
"Kamu kenapa? Mual?" tanya Nickolas pula dan tatapan semua orang pun jadi tertuju ke arah Naina, bertanya-tanya ada apa lagi sekarang.
"Bukan, aku ingin Nathan yang ambilkan makanan untukku," jawab Naina lirih.
Nathan terkejut, semua orang langsung berkata Oh dan hanya Aylin yang langsung tertawa terbahak-bahak.
Rasakan! Batin Aylin pada kak Nathan.