
"Tidak," balas Naina, akhirnya dia buka suara dan menjawab pertanyaan dokter Herli.
Namun mendengar satu kata yang terlontar dari mulut Naina itu membuat dokter Herli makin mengerutkan dahi, merasa belum puas dengan jawaban Naina. Dia butuh penjelasan yang lebih rinci.
Dokter Herli bahkan sampai lupa dengan kantong makanan di tangan kanannya. Makanan yang hendak dia berikan pada Naina.
"Tidak bagaimana? Kamu tidak ada hubungan apapun dengan dokter Nickolas kan?" tanya Herli lagi dan Naina menelan ludahnya sendiri dengan kasar.
Saking bingungnya mau bagaimana akhirnya Naina mengangguk, mengiyakan pertanyaan dokter Herli tersebut.
"I-iya Dok, saya dan dokter Nickolas tidak memiliki hubungan apapun. Dokter Gracia hanya salah paham," jawab Naina.
Tapi Herli tidak langsung percaya begitu saja, dia tetap menatap Naina dengan lekat, mencari kejujuran dari sorot mata itu. "Benarkah?" tanya Herli lagi dan Naina hanya mampu mengangguk.
Huh! Herli membuang nafasnya dengan lega. Sungguh, dia tidak ingin bersaing dengan sahabatnya sendiri. Apalagi tentang Naina, gadis yang kini benar-benar dia incar untuk jadi miliknya.
"Baiklah kalau begitu, kembali lah ke kamarmu. Dan ini ada sedikit makanan," kata Herli.
"Tidak Dokter, saya tidak bisa menerima makanan itu. Dokter sudah terlalu banyak memberi saya," balas Naina, dia tidak menerima uluran kantong makanan itu, justru menundukkan kepalanya dengan begitu dalam.
"Saya permisi Dokter," ucap Naina lagi, lalu mundur dua langkah dan pergi dari sana.
"Nai," panggil Herli. Namun Naina pilih untuk pura-pura tidak dengar.
Herli yang masih berdiri di sana jadi hanya mampu menatap punggung Naina yang menjauh. Setelah gadisnya pergi, Herli jadi teringat akan ucapan Gracia.
"Aku harus memastikannya langsung pada Nick," gumam Herli.
Tadi Herli tidak begitu memperhatikan rambut Naina, tapi sekarang saat bertemu dengan Nickolas dia langsung melihat rambut Nick yang nampak basah.
"Kamu baru selesai mandi?" tanya Herli, dia meletakkan kantong makanan yang sejak tadi dibawanya di atas meja. Herli juga langsung mendudukkan tubuhnya dengan kasar di sofa tersebut. Sementara Nickolas tetap duduk di kursi kebesarannya, membaca sebuah dokumen yang baru saja sekretarisnya antar.
"Hem, ada apa?" tanya Nickolas pula, kini raut wajahnya nampak begitu segar. Setelah 2 tahun waktu berlalu, akhirnya kini Nickolas menikmati pelepasannya. Sebuah rasa yang tak mampu dia ungkapkan dengan kata-kata.
"Aku tadi bertemu Naina," ucap Herli.
Nick sontak menghentikan semua pergerakan, dia bahkan langsung menatap lurus ke arah sang sahabat.
"Dia bertemu dengan Gracia di salah satu koridor dan aku tidak sangaja mendengar apa yang mereka bicarakan."
Nickolas tetap diam, namun wajahnya berubah dingin.
"Gracia menuduh Naina memiliki hubungan terlarang dengan mu, skanddal di rumah sakit ini. Apa itu benar?" tanya Herli langsung tanpa tendeng aling-aling. Sudah biasa baginya untuk saling bicara secara blak-blakan seperti ini.
"Apa jawab Naina?" balas Nickolas, akhirnya dia buka suara. Namun justru mengajukan pertanyaan juga, Nick jadi ingin tau apa yang dijawab oleh sang istri.
"Naina tidak menjawab apapun, dia seperti tidak punya kesempatan bicara. Gracia terus memojokkannya," jawab Herli apa adanya.
"Tapi saat aku yang bertanya, Naina bilang dia tidak memiliki hubungan apapun padamu," timpal Herli pula.
"Naina bohong, dia adalah Istriku," jawab Nickolas tegas, enteng sekali saat dia mengucapkan kalimat tersebut. Tak peduli meski kini Herli jadi mendelik saking terkejutnya.