Secret Agreement

Secret Agreement
SA Bab 10 - Tantang Nickolas



Karena tidak bisa langsung bermain ke inti, jadi keduanya sepakat untuk saling memberi rangsangan-rangsangan kecil terlebih dahulu. Saling mengenal satu sama lain dan bersikap layaknya teman tapi mesra.


Pernikahan ini bukanlah beban, tapi mereka saling membantu satu sama lain. Naina akan bantu menyembuhkan penyakitnya Nickolas dan merahasiakannya, sementara Nickolas membantu Naina keluar dari dunia gelap itu, merahasiakannya dan membiayai pengobatan sang ibu.


Tak ada yang dirugikan.


Selesai Naina menangis di dalam pelukan sang dokter, mereka memutuskan untuk beristirahat di dalam kamar. Sejak tadi Nickolas juga terus menatap ke arah dua buah dadda Naina yang nyaris keluar dari gaun malam tersebut.


Dadda Naina nampak begitu kenyal dan sintal, terlihat kencang dan seperti enak jika dimainkan menggunakan kedua tangannya. Nickolas harus berpikir mesyum seperti ini untuk memancing gairrah di dalam dirinya. Diam-diam Nickolas pun menggenggam salah satu tangannya, seolah sedang meremaas dadda Naina tersebut.


Dan Naina sebenarnya sadar jika sedang jadi pusat perhatian, tapi dia pura-pura sibuk sendiri. Merapikan beberapa belanjaannya siang tadi yang belum dimasukkan ke dalam lemari, sesekali Naina membungkuk memperlihatkan daddanya yang menggantung indah.


Naina yang nakal memang sengaja berpose menggoda, memanjakan mata sang dokter dengan pemandangan liuk tubuhnya.


"Selesai," kata Naina saat semua bajunya sudah tersusun di dalam lemari. Dia lantas ke kamar mandi sebentar untuk mencuci tangan dan kembali ke ranjang lalu naik, memposisikan diri untuk duduk di samping sang suami yang sejak tadi sudah ada di sini.


"Besok pagi dokter pergi jam berapah?" tanya Naina.


"Jam 9, aku tidak langsung ke rumah sakit. Masih harus pergi menemui seseorang."


"Siapah?" tanya Naina lagi, dia bergeser sedikit dan memeluk lengan sang suami. Memainkan jemari Nickolas hingga tangan mereka saling menggenggam.


Lama-lama Naina panas sendiri, sementara dokter Nickolas tidak bereaksi apapun. Namun untuk hal seperti ini Naina selalu bisa mengendalikan diri, dia tak pernah jadi buddak nafsu.


"Rekan bisnisku," balas Nickolas apa adanya.


"Paginya mau ku buatkan sarapan atau tidak?" tanya Naina, dia juga menatap lekat, karena wajahnya bersandar di lengan sang suami, jadi dia sedikit mendongak, sementara tatapan Nickolas tetap tertuju pada dua buah dadda itu. Apalagi ujung dadda Naina pun mulai nampak menyembul.


"Memangnya kamu bisa masak?"


"Dokter suka makan apa? besok biar aku siapkan," balas Naina lagi.


"Apapun aku mau, asal tidak berminyak."


"Siap Sayangh," balas Naina, lalu memeluk lengan itu lebih kuat, sampai lengan Nickolas berada tepat di tengah-tengah gunung kembarnya.


"Sekarang ayo kita tidur, dokter pasti lelah," kata Naina lagi.


"Mungkin kamu yang lelah."


"Iya sih, hari ini aku sibuk sekali," balas Naina dengan terkekeh. Dia kembali menggeser tubuhnya dan memberi jarak, lalu memposisikan diri untuk berbaring lebih dulu.


Naina memasang selimutnya hingga sebatas pinggang, lalu tidur miring ke arah suaminya tersebut.


"Ayo tidur," ajak Naina, sebab dokter Nickolas masih duduk saja dan menatap daddanya. Kini poros hidup dokter Nickolas adalah dadda ini.


"Laura," panggil dokter Nickolas kemudian.


"Apa Dok?"


"Boleh aku membuka daddamu?"


"Memangnya ini sudah bereaksi?" Naina menggerakkan tangannya hingga berada di atas benda layu tersebut, "Tuh kan belum," kata Naina setelahnya mengelusnya beberapa kali.


"Lihat saja dulu daddaku, jadikan obsessi dokter yang baru," kata Naina. Dia mengedipkan sebelah matanya genit.


Nickolas yang merasa gemas pun akhirnya mengusap puncak kepala Naina, meski sebenarnya yang ingin dia elus adalah dua dadda sintal itu. Bukan karena berhasrat, hanya penasaran saja bagaimana rasanya, apakah empuk atau kenyal?


Tapi ya sudahlah, malam ini dia cukup membayangkannya saja.


"Ayo tidur," balas Nickolas kemudian, dia akhirnya ikut berbaring juga dan saat itu Naina langsung mendekat untuk memeluk lebih dulu.


Selama ini hidup Nickolas sangat hampa, rutinitasnya hanya rumah sakit dan apartemen. Jika Herli tidak bersikukuh untuk mengajaknya keluar dia pun tak akan pernah berada di Paradise Club.


Tapi sekarang ada Naina, seorang wanita yang seolah sedang melukis di canvasnya yang kosong.


"Selamat tidur Honeyh." Tidak usah ditanya siapa yang bicara seperti itu, pasti Naina, bukan, maksudnya Laura.


"Hem," balas Nickolas singkat, seraya memejamkan mata dan membalas pelukan wanitanya.


Malam perttama ini berakhir dengan damai, tak ada pergulatan yang berarti, hanya tatapan intens.


Saat pagi menjelang Nickolas adalah yang bangun lebih dulu, sementara Naina masih tertidur dengan nyenyaknya. Seumur-umur Naina tidak pernah tidur dengan nyaman seperti ini. Ranjang yang hangat dan dadda bidang yang senantiasa memanjakannya.


Naina bahkan sampai mendengkur halus, nampak jelas jika dia merasa lelah.


Tapi pagi itu Nickolas pun tidak menatap ke arah wajah Naina, masih setia menatap ke arah dadda yang makin terbuka. Gaun malam Naina sedikit miring ke kiri, hingga choco chips itu nyaris menyembul keluar, area kecoklatan di puncak dadda Naina pun bisa dia lihat sedikit.


Bayangkan Nick, dadda itu pasti sangat nikmat. Batin Nickolas. Membiasakan dirinya untuk terus berpikir mesyum. Namun lagi-lagi bayangan percintaan Zendaya dan Marko kembali mengusik ingatannya.


Zendaya yang mendessah dan menjerit nikmat saat berada di bawah kuasa Marko. Padahal selama ini Zendaya seperti gadis yang lugu, namun tak menyangka bisa sebinal itu.


"Dokter kenapa?" tanya Naina dengan suara yang berat, pergerakan Nickolas membuat Naina terbangun.


Dan cukup terkejut saat melihat dokter Nickolas duduk dengan wajah yang ditekuk. Naina jadi ikut bangun dan menatap sang suami. Meski kedua matanya masih nampak rabun namun dia tetap usahakan untuk menatap intens.


"Tidak apa-apa Nai, aku akan mandi lebih dulu," jawab Nickolas.


Dia hendak turun namun Naina dengan cepat menahan. "Katanya ingin saling terbuka, kenapa malah menghindar?" tanya Naina dengan lembut, dia pun kembali menggenggam tangan dokter Nickolas agar tetap berada di sampingnya.


"Sepertinya ucapan mu benar, aku hanya akan sembuh jika bisa membuka hati untuk wanita," ucap Nickolas kemudian.


Jawaban yang langsung membuat Naina tahu jika dokter Nickolas pasti punya kisah masa lalu yang buruk dengan mantan kekasihnya.


Naina pun seketika ingat pembicaraan beberap perawat di rumah sakit yang pernah dia dengar, bahwa dokter Nick pernah gagal menikah.


"Aku akan mandi dulu," kata Nick, kini dia tetap turun meski tangannya masih digenggam oleh sang istri.


"Tidak ingin mandi bersamaku?" tawar Naina.


Dan Nickolas langsung menarik tangannya lalu digendong di depan.


"Ayo kita mandi bersama," tantang Nickolas dan Naina hanya mampu menelan ludah kasar, Glek!