Secret Agreement

Secret Agreement
SA Bab 98 - Hanya Mengawasi



Di rumah ayah Hendi, pria itu pagi ini benar-benar frustasi. Setelah pertemuannya dengan Nickolas sang menantu ternyata kini hidupnya jadi tambah berantakan. Bukannya mendapatkan uang untuk membayar semua hutang-hutangnya kini dia malah mendapatkan dua beban.


Dua orang pria dengan badan yang kekar selalu mengawasi semua pergerakannya, bahkan memerintahkannya dengan semena-mena.


"Jangan hanya diam saja seperti itu, tugas kita hari ini adalah membersihkan rumah ini," ucap salah seorang penjaga.


"Kenapa memerintahkan aku? tugas kalian lah untuk membersihkan rumah ini. Kalian adalah anak buahku!" kesal ayah Hendi.


"Jangan memaksa kami untuk berbuat kasar padamu Tuan, ini adalah rumah Anda jadi andalah yang harus membersihkannya. Tugas kami hanya memaksa anda untuk bekerja," balas penjaga yang lain, tatapannya bahkan lebih tajam dan membuat ayah Hendi menelan ludahnya dengan kasar.


Menantu sialan! Tidak berguna! Aku harus menemui Naina langsung, aku harus mendatangi rumah sakit Medistra! Dan membuat keributan di sana. Batin ayah Hendi, sudah bulat tekadnya untuk mempermalukan Naina di depan umum. Mengatakan bahwa Naina telah menelantarkannya dan kini hidup enak seorang diri.


"Aku sangat lapar! Aku akan membeli makanan di depan sebelum membereskan rumah ini," bohong ayah Hendi, dia bicara seperti penipu yang handal. Memasang wajah yang tak berdaya.


"Tidak ada makanan sebelum rumah ini terlihat lebih rapi," balas sang penjaga. Salah satu pria mulai berjalan mendekati ayah Hendi untuk memaksa pria itu bekerja.


Ayah Hendi awalnya mundur, tapi semakin dekat penjaga tersebut dia malah coba menyerang dengan sebuah tendangan. Namun sayang, pergerakannya dengan mudah dapat dibaca oleh sang penjaga, jadi bukannya berhasil menendang dia justru mendapat pukulan sampai jatuh terjerembab di atas lantai.


Bugh! Pukulan penjaga itu cukup kuat, sampai ayah Hendi sesaat tak mampu bergerak meski hanya sedikit.


"Sialan! Berani-beraninya kamu memukul ku!" pekik ayah Hendi.


"Kurang ajar! Kalian hanyalah anak buah! Bawahan hina! Pergi dari rumahku."


Bugh! Satu pukulan kembali melayang di tubuh ayah Hendi dan membuat pria itu makin tak berdaya.


"Anggaplah saya anak anda, nyonya Naina yang sudah anda telantarkan. Anggaplah semua pukulan saya ini adalah pukulan yang nyonya Naina berikan pada Anda. Seorang ayah yang tidak bertanggung jawab. Anda pantas mendapatkan ini semua."


Bugh! Penjaga itu kembali memukul ayah Hendi, sampai mulut ayah Hendi yang sejak tadi menyumpat kini terdiam seribu bahasa.


Di benaknya mulai terbayang bagaimana pertemuan pertamanya kelak dengan sang anak. Apakah Naina masih menganggapnya ada, sementara Wilda sudah meninggal dunia.


Dua penjaga itu sedikit pun tak ada yang membantu ayah Hendi untuk bangkit, merek biarkan saya ayah Hendi terkapar di atas lantai. Sampai akhirnya pria paruh baya tersebut bangun dengan sendirinya.


"Bersihkan rumah ini," titah sang penjaga dan akhir ayah Hendi tak punya pilihan selain menuruti. Andai dia menolak dua pria itu akan kembali menghajarnya tanpa ampun.


Di sudut bibir ayah Hendi mengeluarkan sedikit darrah, badannya pun sakit semua. Dalam keadaan seperti itu dia memunguti semua bajunya yang berserak. Mengambil botol alkohol yang bercecer dan bungkus makanan yang dia buang asal.


Ayah Hendi terus bergerak untuk membersihkan rumah, sementara dua penjaga itu tidak membantu sedikitpun, keduanya hanya mengawasi.