
Aylin seketika terdiam saat kak Dean berkata bahwa sang Daddy memintanya untuk selalu mendampingi. Sebab selama ini memang seperti itu. Daddy yang selalu overprotektif.
Dulu saat Aylin masih remaja dia selalu menurut saja, tapi semakin dewasa kini Aylin merasa dia pun butuh sebuah kebebasan.
Mobil akhirnya berhenti, Dean turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Aylin. Mereka masuk ke tempat street food yang tak terlalu jauh dari kampus Aylin dan Kiara. Di sini juga banyak mahasiswa yang sedang menghabiskan waktu istirahat mereka.
Aylin berhenti di salah satu booth makanan dan membeli sesuai pesanan kakak iparnya. Saat pembayaran ternyata Dean bergerak lebih dulu untuk membayar.
"Aku akan menganggap ini sebagai hutang," kata Aylin. Dia tak ingin berdebat menentukan siapa yang bayar, tapi Aylin pun tak ingin menerima begitu saja. Suatu saat nanti Aylin akan ganti uang kak Dean tersebut.
Dan mendengar ucapan sang nona muda, Dean tidak menanggapi apapun. Hanya diam dan menyelesaikan pembayaran.
"Berikan padaku," ucap Dean setelahnya, dia mengambil dua kantung plastik berisi makanan yang Aylin pegang.
Mereka meninggalkan street food tersebut setelah beberapa saat selalu jadi pusat perhatian semua orang. Para pria melihat ke arah Aylin, sementara para wanita jelas melihat kearah Dean yang ketampanannya bak dewa Yunani.
Selesai menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka tiba di rumah utama keluarga Carter. Dean kembali membukakan pintu dan Aylin turun. Juga menyerahkan makanan yang tadi mereka beli.
"Aku akan langsung pergi sekarang," kata Dean.
"Hem," balas Aylin singkat, tanpa mengucapkan kata terima kasih dia pun langsung pergi begitu saja. sedikitpun tidak menoleh ke belakang lagi dan langsung masuk ke dalam rumah.
Aylin mana tau bahwa sebelum kembali masuk ke dalam mobilnya, Dean lebih dulu menatap punggung Aylin yang semakin menjauh.
Melihat Aylin yang masuk ke dalam rumah, Dean baru benar-benar pergi dari sana.
"Kak Naina!" panggil Aylin dengan suaranya yang menggelegar.
"Dimana kak Naina, Bi? Apa di kamarnya?" tanya Aylin pula.
Belum sempat pelayan itu menjawab, Naina sudah lebih dulu keluar dari arah dapur.
"Ay," panggil Naina dengan manja, hanya Naina yang memanggil Aylin dengan sebutan ay ay seperti itu.
"Ini makanannya Kak, selamat menikmati," ucap Aylin, bicara sesuai yang diajarkan oleh sang adik.
"Emm, banyak sekali. Terima kasih Ay, ini masih hangat lagi. Ayo kita makan sama-samah," ajak Naina, dia bahkan langsung menarik tangan sang adik ipar untuk menuju dapur. Di sana juga sudah ada mom Aresha. Sebelumnya Naina dan mom Aresha sudah hendak makan siang bersama.
Siapa sangka bahwa Aylin telah pulang juga.
"Kamu sudah pulang sayang?" tanya mom Aresha ketika anaknya itu sedang mencuci tangan di westafel.
"Iya Mom, dosen pembimbing ku tidak bisa ditemui," balas Aylin apa adanya, kini kuliahnya sudah di masa-masa akhir. Aylin hanya tinggal melaksanakan ujian akhir dan bisa diwisuda tahun ini juga.
"Sabar ya, mungkin besok bisa ketemu."
"Iya Mom," balas Aylin, selesai mencuci tangan dia ikut duduk di meja makan bersama sang kakak ipar.
"Sini aku suapi, A," pinta Naina pada sang adik dan Aylin langsung membuka mulutnya untuk menerima suapan itu. Naina pun bersyukur sekali dia ada di tengah-tengah keluarga ini.
"Suapi aku juga Ay," pinta Naina kemudian.
"Kak Nai manja!" kesal Aylin, tapi dia tetap menyuapi kakak iparnya tersebut.