Secret Agreement

Secret Agreement
SA Bab 54 - Pura-pura Tidur



Naina buru-buru menghapus air matanya, karena sekarang harusnya dia tidak bersedih melainkan bahagia, bahkan sangat bahagia.


"Dokter, Apa anda tidak salah mengakui pernikahan ini pada ibuku?" tanya Naina kemudian, masih saja belum percaya dengan apa yang dia dengar dan apa yang terjadi.


"Jangan panggil aku Dokter Nai, memangnya aku doktermu. Dan sekarang ibu Wilda bukan hanya ibumu, tapi juga ibuku," balas Nickolas, dia juga tidak tahu kenapa mulutnya lancar sekali bicara seperti itu. Nick hanya tidak ingin Naina merasa bebas, Nick ingin Naina sadar bahwa kini dia adalah seorang istri, lantas tak sembarang untuk memiliki hubungan dekat dengan pria lain, termasuk Herli.


Apalagi sampai menerima pemberian makanan seperti itu, sungguh hati Nickolas merasa tidak terima, sementara dia mampu memenuhi semua kebutuhan sang istri.


"Kamu membuatku salah paham Dok," balas Naina lagi.


"Salah paham apalagi?"


"Dokter kan tidak mencintai aku, kenapa bicara seperti itu, membuatku salah paham, membuatku mengira bahwa dokter Nickolas sudah mencintai aku."


"Apa begitu penting untuk mu tentang pengakuan cinta?"


"Tentu saja penting, hati dan mulut harus punya pemikiran yang sama. Jangan yang diucapkan lain tapi yang dirasakan lain juga."


"Kalau begitu anggap saja aku sudah mencintai kamu."


"Mana ada pengakuan cinta seperti itu," balas Naina, mereka jadi berdebat sendiri di samping ranjang ibu Wilda. Keduanya tidak sadar ketika salah satu jari kelingking ibu Wilda bergerak menunjukkan respon.


Nick yang gemas sendiri karena ucapannya selalu dijawab pun reflek mencium bibir istrinya tersebut. Andai sekarang mereka berada di apartemen, Nickolas pasti sudah menghajar Naina di atas ranjang. Meski tidak tau senjatanya sudah bangkit atau belum, tapi setidaknya dia bisa memuaskan sang istri menggunakan tangannya.


"Hih, kok cium-cium sih," kesal Naina, dia memukul lengan sang suami. Naina malu jika mereka berciuman di hadapan sang ibu seperti ini. Meski ibu Wilda tidak sadar tapi tetap saja rasanya sang ibu bisa melihat.


"Kenapa tidak boleh?"


"Malu sayang," balas Naina, di hadapan ibu dia tak ingin seperti Laurah.


Mereka makan bersama dan disaat waktu sudah menunjukkan jam 9 malam keduanya tidur saling memeluk di atas sofa.


Perawat Ami tidak datang untuk melakukan pemeriksaan malam karena dia tau ada Naina yang menginap.


"Sayang," ucap Naina lirih, bicara diantara sunyinya kamar ini.


"Hem, apa?" tanya Nick, dia memeluk istrinya erat, berulang kali menciumi puncak kepala Naina.


"Apa sayang sudah mencintai aku?" tanya Naina lagi, terus saja menuntut tentang hal ini, jika tidak ada kejelasan dia akan terus kepikiran.


"Ku rasa begitu."


"Jawab yang benar."


"Bagaimana?"


"Aku mencintaimu, Naina. Begitu!" balas Naina, sampai memberi tutorialnya.


"Aku mencintaimu, Naina," ucap Nick.


Tapi entah kenapa Naina tidak bisa tersenyum saat mendengar kalimat itu benar-benar diucap oleh sang suami. Sebab Naina tak berani membayangkan apa yang akan mereka hadapi jika tetap bersama. Restu keluarga dokter Nickolas pasti hal yang akan sangat sulit untuk dia dapatkan.


Apalagi dokter Aresha menginginkan menantu seperti dokter Gracia, sementara dia hanya salah satu jallang di malam hari.


"Kenapa diam saja? Tidak ingin membalas kata cintaku?" tanya Nickolas, namun kini Naina tak mampu menjawab, hanya memeluk semakin erat dan pura-pura tidur.