Secret Agreement

Secret Agreement
SA Bab 88 - Astaga!



6 bulan kemudian akhirnya keadaan benar-benar membaik untuk Naina dan Nickolas. Status hubungan pernikahan mereka pun kini telah diketahui oleh umum. Bukan hanya di kalangan rumah sakit, tapi juga semua kolega keluarga Carter.


Hanya saja Naina dan Nickolas tidak merayakan pesta apapun. Naina tak ingin ada perayaan di tahun yang sama dengan meninggalnya sang ibu. Naina sekarang juga sudah dinyatakan hamil 2 bulan.


Sementara tentang Gracia, kini Naina telah tutup mata. Dia tak ingin tau dan tak ingin menjalin hubungan apapun. Cukup saling memaafkan, namun tidak lagi terhubung di masa depan.


"Sayanghh, kan aku bilang sausnya sedikit saja. Kenapa ini banyak sekali," kata Naina dengan nada yang terdengar seperti orang ingin menangis.


"Tuh kan kebanyakan, sudah ku bilang tapi kak Nick tidak percaya!" balas Aylin, malah semakin jadi kompor.


Sementara Nickolas langsung mendelik pada adiknya tersebut. Semenjak Naina dinyatakan hamil mereka memang memutuskan untuk tinggal di rumah utama. Nick kadang harus ke rumah sakit dan dia tidak tega jika meninggalkan sang istri sendirian di apartemen, karena itulah kini keduanya tinggal di sini.


Selalu ada drama di pagi hari tiap jam sarapan. Naina yang mengalami morning sickness dan semua orang yang repot, lebih tepatnya Nickolas yang repot.


"Maaf sayang, ini tadi cuma satu sendok. Ku pikir cukup untukmu," jawab Nickolas.


"Kan aku bilang sedikit Kak, ini banyak sekali." Naina jadi menangis hanya karena masalah saos tersebut.


"Aku tadi sudah bilang kebanyakan kak Nai, tapi kak Nick tidak mau dengar," adu Aylin lagi.


"Hih Aylin, lebih baik kamu diam!" balas Kiara.


"Aku pergi lebih dulu Mom, Dad," pamit Nathan. Kerusuhan pagi ini membuat kepalanya makin pusing. Padahal masih ada proyek yang sedang dia tangani.


"Hem pergilah, mungkin siang nanti Daddy akan ke kantor," balas Daddy Rayden.


Nathan hanya mengangguk saja, lalu mencium mom Aresha dan pergi dari sana.


"Sini sayang, saosnya untuk mommy saja ya. Sudah jangan menangis lagi," kata mom Aresha pula pada sang menantu, dia bahkan mengelus puncak kepala Naina dan menciumnya pula. Baginya Naina sudah seperti anak sendiri.


"Aylin!" balas mom Aresha, hanya satu kata namun tatapannya yang tajam akhirnya membuat Aylin terdiam dengan bibir mendengus.


"Cepat habiskan sarapan kalian, Daddy akan antar ke kampus," titah Daddy Rayden pada Aylin dan Kiara-nya.


"Baik Dad," jawab kedua anak gadisnya tersebut.


Nickolas juga mulai menyantap makanannya disaat sang istri mulai makan.


"Ayam gorengnya mau lagi?" tanya Nickolas dan Naina mengangguk.


"Tapi aku tidak mau kulitnya," balas Naina.


"Kulitnya untukku."


Naina langsung tersenyum dan akhirnya meja makan itu jadi sedikit tenang.


Selesai sarapan Aylin dan Kiara pamit untuk kuliah. "Nanti kak Nai mau titip makanan apa?" tanya Kiara, sudah 2 bulan ini dia seperti seorang kurir makanan. Tiap pulang selalu membawakan titipan makanan untuk sang kakak ipar.


"Makanan yang agak pedas ya, terserah apa," balas Naina.


"Iih kak Nai gak jelas, sebut namanya biar kami tidak bingung," cetus Aylin


"Aylin! Tidak usah ditanya, nanti kak Nai jadi bingung terus nangis," kesal Kiara.


Dan benar saja ucapan Kiara tersebut, kini kedua mata Naina mulai berkaca-kaca. "Ya sudah, kalau begitu tidak usah belikan apa-apa," balas Naina lirih.


Astaga! Pekik semua orang di dalam hati, mom Aresha, dad Rayden, Nickolas, Aylin dan Kiara.