Secret Agreement

Secret Agreement
SA Bab 93 - Firasat



"Kak Naina dimana Mom?" tanya Kiara, dia baru saja pulang dari kampus dan menanyakan hal tersebut pada sang mommy. Kiara ingin tau apakah kak Nai-nya baik-baik saja, tidak galau yang menggebu-gebu.


"Di kamarnya, kak Nickolas juga baru saja pulang," jawab mommy. "Habiskan jus buah mu sayang, kamu pasti lelah seharian ini," ucap mom Aresha kemudian. Dia memang sengaja menyiapkan jus buah tersebut untuk sang anak.


"Tadi kamu pulang dijemput siapa?" tanya mom Aresha pula.


"Kak Dean Mom, Daddy dan asisten Sam sedang pergi ke proyek kak Nathan," jelas Kiara apa adanya.


"Kenapa Dean tidak kamu ajak masuk? Anak itu kalau tidak dipaksa pasti tidak pernah mau main."


"Kata kak Dean dia akan langsung pulang, jadi aku hanya mengangguk dan tidak mengajaknya masuk," jawab Kiara.


"Minggu besok mommy akan paksa dia untuk makan malam di rumah kita," balas mom Aresha.


"Jangan hanya kak Dean Mom, ajak juga Hani," balas Kiara, malah antusias sendiri. Hani adalah adik kak Dean yang juga sebaya dengannya. Tapi mereka berbeda jurusan kuliah.


"Malah kamu yang semangat," balas mom Aresha dan Kiara terkekeh. Kiara memang anak yang ceria, tawanya mampu membuat semua orang ikut tertawa juga.


Setelah jusnya habis, Kiara pun pamit ke dalam kamar untuk beristirahat. Tapi tiba di lantai 2 Kiara malah teringat akan kak Naina, jadi ingin bertemu lebih dulu sebelum masuk ke kamarnya sendiri.


Kiara mulai mengetuk pintu kamar kak Nai dan kak Nickolas. Tapi cukup lama mengetuk tidak juga mendapatkan sahutan.


"Kata mommy kak Nai dan kak Nickolas di kamarnya, kenapa tidak ada yang menyahut?" gumam Kiara. Dia sampai mengetuk lagi saking penasarannya.


Sampai membuat aktifitas sepasang suami istri di atas ranjang itu jadi terjeda.


"Kak, itu suara Kiara," bisik Naina. Tubuh mereka telah menyatu dan kini Nickolas menghentikan semua pergerakannya.


"Abaikan saja, sebentar lagi dia pasti pergi," balas Nickolas, dia tidak berbisik seperti Naina. Kamar mereka memang tidak kedap suara. Tapi bicara atau mendessah pun tak akan terdengar sampai ke luar sana. Kecuali mereka berteriak dengan cukup kuat.


Nick malah kembali bergerak, mengabaikan suara ketukan pintu sang adik. Pergerakannya itu membuat tubuh Naina naik turun, juga dadda Naina yang bergerak sesuai iramanya.


"Daddamu semakin besar sayang," kata Nick.


Naina yang nakal langsung membusungkan daddanya, mengangkat kedua tangannya di atas kepala dan memasang pose menggoda.


Sumpah, Nickolas senang sekali melihat istrinya yang binnal seperti ini. Membuatnya semakin bersemangat untuk menuju puncak nirwana.


Mareka berdua sudah tidak memperdulikan hal itu, terus menikmati penyatuan ini. Semenjak hamil Naina bukan hanya ingin selalu dekat dengan sang suami, tapi dia juga ingin selalu disentuh.


Nick menekan dan menggenggam erat tangan sang istri di atas ranjang, bermain pelan namun begitu memabukkan.


"Nainah."


"Kakh," balas Nai. Mereka sama-sama menjerit tertahan saat pelepasan itu menghampiri.


Nafas keduanya masih terengah, namun perhatian mereka kembali teralih saat mendengar suara ponsel milik Naina berdering.


"Siapah sih," tanya Naina.


"Aku akan lihat," balas Nick. Dia turun dari atas ranjang dan mengambil ponsel sang istri. Melihat sebuah nomor ponsel baru yang menelpon.


"Siapah Kakh?"


"Nomor baru."


"Tidak usah diangkat ah."


"Coba ku angkat," balas Nick, dia menggeser tombol hijau dan membuat panggilan itu terhubung. Nick belum sempat bicara dan seseorang di ujung sana sudah lebih dulu berucap.


"Anak kurang ajjar, sudah enak hidupmu ya?"


Nick sontak memasang wajah serius saat mendengar suara itu. Meski masih samar-samar, namun dia sudah punya firasat bahwa ini adalah suara ayahnya Naina. Tanpa pikir panjang, Nick langsung memutus sambungan telepon tersebut.


"Salah sambung," kata Nickolas pada sang istri. Dia bahkan memblokir nomor tersebut dari ponsel Naina.


"Tuh kan tidak penting," balas Naina, yang masih pollos di atas ranjang.


Nick tersenyum kecil, dia tak ingin Naina mengetahui tentang sang ayah. Seseorang yang sangat Naina benci. Jadi Nickolas akan menyelesaikan semua masalah ini sendiri. Tak ingin menganggu Naina dan kehamilannya. Apalagi dari kata-kata pria itu, Nickolas tau yang diinginkan ayah Naina bukanlah memperbaiki hubungan, melainkan uang.


"Waktunya mandi," kata Nick. Dia menggendong Naina dan mereka mandi bersama.