
Naina melihat dengan mata dan kepalanya sendiri saat sang ibu berjuang dengan rasa sakit. Di hadapannya langsung dokter Aliyah mengupayakan segala cara untuk membuat ibunya sadar. Namun akhirnya alat pendeteksi jantung itu menunjukkan tanda bahwa tak ada lagi detak di dalam tubuh sang ibu.
Saat Nickolas dan dokter Hamka datang, ibu Wilda sudah meninggal.
Tangis Naina pecah seketika itu juga dan Nickolas memeluknya tanpa peduli tatapan semua orang. Pelukan yang terasa begitu erat dan melindungi, pelukan yang harusnya dokter Nickolas berikan pada seseorang yang begitu berarti untuknya.
"Bagaimana keadaan ibu Wilda?" tanya Gracia pada salah satu perawat yang ikut menangani ibu Wilda. Gracia bertanya dengan rasa cemas yang coba dia sembunyikan. Cemas yang jadi berkali-kali lipat ketika dia melihat dokter Nicholas dan dokter Hamka pun mendatangi kamar rawat itu.
"Ibu Wilda meninggal Dokter, beliau terkena serangan jantung. Sekarang sedang ditangani untuk segera di makamkan," jelas perawat tersebut apa adanya. Apalagi dia mendapatkan perintah langsung dari dokter Nickolas untuk segera mengurus jenazah ibu Wilda.
"Saya permisi Dokter," kata perawat itu lagi dan segera berlalu dari sana untuk menjalankan tugas.
Sementara Gracia seketika tergugu di tempatnya berdiri. Jantungnya berdenyut nyeri seolah mendapatkan serangan jantung pula. Gracia berani bersumpah dia tak ada sedikitpun niat untuk mencelakai ibu Wilda yang sejatinya adalah salah satu pasien di rumah sakit ini.
Sumpah, Aku hanya ingin membuat Ibu Wilda menegur Naina. Mengatakan pada Naina untuk segera mengakhiri pernikahan itu, tapi Kenapa semuanya jadi seperti ini? Batin Gracia.
Tidak, serangan jantung yang dialami oleh ibu Wilda bukan karena aku. Sudah takdirnya untuk meninggal sekarang. Aku juga sedikitpun tidak menyentuh dia.
Demi meredam rasa cemas yang kini menguasai jiwanya, Gracia coba berpikir dengan waras, menyalahkan takdir daripada menyalahkan diri sendiri.
Dengan langkah kaki yang terasa berat, akhirnya Gracia pergi dan coba menyibukkan diri sendiri dengan pekerjaannya, pura-pura acuh dengan meninggalnya Ibu Wilda dan seolah tidak tahu apa-apa.
Tapi di tengah jalan seketika kaki Gracia terjeda saat ingat bahwa di ruangan Ibu Wilda terdapat CCTV.
Bagaimana ini? Apa Nickolas akan bertindak sejauh itu? lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?
Sungguh, Gracia merasa begitu takut. Dia tidak bisa bicara dan hanya terus mengungkapkan pemikirannya di dalam hati.
Tapi masuk ke ruang keamanan rumah sakit juga bukanlah perkara yang mudah, Aku akan selalu diawasi ketika melihat CCTV.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?
Gracia jadi frustasi.
Tidak tidak, Nickolas tidak mungkin memperpanjang tentang kasus ini. serangan jantung bisa menimpa siapapun dan itu adalah kondisi yang wajar, apalagi jika mengingat Ibu Wilda baru tersadar dari koma.
Ya, lupakan tentang CCTV, Nickolas tidak mungkin memeriksanya sampai serinci itu.
Menyakini hal tersebut, akhirnya Gracia kembali melanjutkan langkah. dia kembali ke ruang prakteknya dan lebih dulu mencuci wajah, kembali memasang sedikit riasan di wajahnya dan kemudian mendatangi pasien yang dia tangani di rumah sakit ini.
Bekerja seolah tidak terjadi apa-apa.
Gracia mana peduli, jika karena perbuatannya seorang anak jadi kehilangan ibunya.