Secret Agreement

Secret Agreement
SA Bab 39 - Jaringan Mafia



Naina masuk dan menatap seisi ruangan itu dengan mata yang berbinar. Bukan hanya semua orang, tapi dia pun sangat terkejut dengan semua perubahan mendadak ini.


Sebelumnya tidak ada pembicaraan apapun diantara dia dan dokter Nickolas, bahkan pertemuan terakhir mereka Naina sedikit merasa kesal karena pendapatnya tidak di dengar.


Tapi tiba-tiba dia dan sang ibu mendapatkan kejutan luar biasa seperti ini. Dokter Aresha yang dia bayangkan begitu mengerikan, ternyata tak ada bedanya dengan seorang peri yang dikirim oleh Tuhan.


Kedua mata Naina sampai terasa panas, menggenang cairan bening di dalam sana. Entah kenapa tiba-tiba ingin menangis.


"Bu," panggil Naina, dia telah duduk di samping ranjang tersebut. Ranjang yang terasa jauh lebih nyaman dari sebelumnya. Ruangan ini juga sangat besar bagi Naina, ada sofa panjang yang nanti bisa dia gunakan untuk tidur.


"Aku tidak perlu lagi membayar biaya rumah sakit Bu, dokter Aresha sudah membebaskannya," ucap Naina pula. Meski sebelumnya biaya pengobatan ditanggung oleh Nickolas, tapi tetap saja kini rasanya berbeda. Seolah beban yang dia tanggung di pundak benar-benar telah hilang.


Satu pesan masuk di ponsel Naina dan membuat perhatian wanita itu jadi teralihkan. Dia ambil ponselnya di dalam tas dan melihat ada satu pesan masuk dari sang suami.


'Mau pulang atau tidak?' tulis Nickolas dalam pesan singkat tersebut.


Saat ini waktu sudah menunjukkan jam 8 malam, Naina juga sudah memindahkan semua barang-barangnya di kamar baru ini.


'Terima kasih sayang, maaf siang tadi aku malah membantah keputusan kamu,' balas Naina.


'Jangan berterima kasih padaku, jika ingin berterima kasih katakanlah pada ibu mertuamu.'


'Aku serius sayang!' balas Naina.


'Aku juga serius Laura.'


'Dokter Aresha sangat baik, jangan membuatnya syok dengan kebenaran hubungan kita.'


'Ada yang bilang mommy ku punya jaringan Mafia, dia bahkan bisa tau semua hal tanpa perlu kita bercerita.'


'Jangan membuatku takut!" Naina jadi kesal lagi, Nickolas selalu menggodanya seperti ini.


'Dokter membuatku takut! Aku benci dokter!" kesal Naina.


Di ujung sana Nickolas terkekeh membaca pesan tersebut, hilang sudah wajah datar yang selalu dia tunjukkan pada semua orang.


'Jadi mau pulang atau tidak? Jika pulang ayo kita pulang bersama. Aku akan tunggu di halte dekat rumah sakit,' tulis Nickolas lagi.


'Apa boleh aku tidur saja di sini?'


'Kenapa? Mentang-mentang mendapatkan kamar baru? Padahal semalam kamu sudah tidur dengan ibu, kapan tidur dengan suamimu?'


Kini giliran Naina yang mengulum senyum, entah kenapa senang saja saat dokter Nickolas mengakui dirinya sendiri sebagai suaminya seperti itu.


'Dokter pulang lebih dulu saja, nanti aku menyusul. Jangan pulang bersama seperti itu.' balas Naina.


'Tidak akan ada yang tau, aku akan tetap menunggumu di dekat halte bus. Sekarang aku keluar dari ruangan,' putus Nickolas.


Deg! Begitu saja jantung Naina berdegup, belum apa-apa sudah takut jika hubungannya dengan dokter Nickolas terhendus oleh orang lain.


Jadi buru-buru dia membalas pesan itu, agar Dokter Nickolas menarik keputusannya. 'Jangan dokter! Pokoknya aku akan pulang sendiri.' putus Naina.


Tapi pesannya tersebut tidak mendapatkan jawaban, sampai 10 menit berlalu tetap tak ada balasan. Membuat Naina ingin berteriak frustasi, karena membayangkan sang suami sudah menunggu di dekat halte bus sana.


"Ya ampun Bu, suamiku menyebalkan sekali," adu Naina pada sang ibu, dia tidak sadar saat bicara seperti itu jari kelingking sang ibu pun bergerak.


"Aku pulang dulu ya Bu, nanti kak Ami akan datang ke sini untuk memeriksa keadaan itu. Besok pagi aku akan datang lebih cepat," pamit Naina.


Setelah mencium kening sang ibu, Naina keluar dari ruangan itu. Dia lihat ke kiri dan ke kanan, belum apa-apa sudah takut ketahuan.