
Nickolas tau ... Satu ciuman dari istriny tersebut menyimpan banyak makna. Bukan hanya tentang cinta, tapi juga rasa syukur dan terima kasih sebab telah diterima dengan baik di dalam keluarganya.
Sungguh, andai dia bisa mengungkapkan semua isi hati. Naina akan tau betapa dia pun sangat mencintai. Mungkin cintanya bahkan lebih besar dari yang Naina rasakan.
Nick juga tidak tahu kenapa cintanya bisa sedalam ini, mungkin karena Naina adalah wanita yang kuat. Wanita yang selalu apa adanya di depan dia.
Satu tangan Nick memegang setir mobil, sementara tangannya yang lain menggenggam erat tangan sang istri.
"Memangnya tidak sulit mengemudi dengan tangan satu seperti itu Kak?" tanya Naina, dia ingin menarik tangannya tapi malah ditahan. Bahkan tangannya tetap digenggam saat kak Nickolas mengoper gigi mobil tersebut.
"Tidak ada yang sulit jika untuk kamu," balas Nickolas, malah menggoda.
"Iiss," kesal Naina, padahal dia sedang serius dan wajah kesalnya selalu membuat Nick terkekeh.
Tiba di apartemen saat itu waktu sudah menunjukkan hampir jam setengah sepuluh malam. Nickolas langsung menggendong Naina di depan setelah menutup pintu dan menguncinya.
"Kak!" kaget Naina, dia langsung memeluk leher sang suami.
"Kita akan mencoba ranjang baru," kata Nick.
"Ah terserah, tadi sore saja di kamar mandi kita tidak melakukannya. Padahalkan aku mau!" kesal Naina, suaranya menggebu-gebu.
"Sekarang aku sungguhan, kita akan melakukannya."
"Bohong," balas Naina yang sudah terlanjur tidak percaya.
Tiba di kamar Nickolas langsung mendudukkan sang istri di atas ranjang. Sepatu mereka telah dilepas di pintu masuk tadi. Jadi kini bisa leluasa bergerak di atas ranjang tersebut.
Hawa-hawanya sangat dingin dan menggairahkan, tanpa ada kata Nick mulai coba menanggalkan baju sang istri.
Sementara yang ingin lihat sejauh mana sang suami akan mempermainkannya, sejak pagi tadi di sudah menggoda dan selalu diabaikan. Jadi kini dia tak akan bergerak untuk memulai.
Nick berhasil melepas gaun malam sang istri, kini Naina hanya menggunakan bra dan penutup inti di bawah sana. Di hadapan Naina langsung dia pun menanggalkan bajunya sendiri.
"Hem, aku akan memiliki mu dengan seutuhnya," balas Nickolas. dia mencium bibir Naina sampai sang istri terbaring. Ciuman yang didominasi oleh Nickolas, Naina bahkan sampai kualahan saat melayaninya. Padahal selama ini Nickolas begitu lembut, siapa sangka di dalamnya terdapat hasrat yang liar.
Dadda Naina mulai naik turun karena nafasnya terengah. Sedangkan ciuman Nickolas makin turun, menyusuri leher Naina hingga bersemayam di antara kedua dadda yang kini telah terbuka, mengullum puncaknya secara bergilir sampai Naina menggeliat tidak karuan. Di luar ekspektasi Naina, sang suami pun memainkan lidahnya di bawah sana. Mendapati perlakuan itu dia sampai menjerit merasakan nikmat.
"Kak Nickolas!" rintih Naina.
Setelahnya apa yang terjadi tak mampu dia kendalikan lagi. Kak Nickolasnya telah benar-benar sembuh dan mampu mengoyakkan inti tubuhnya yang selama ini tertutup rapat. Sesuatu yang selama ini dia jaga di tengah-tengah kehidupan malam yang menguasainya.
Nickolas bahkan tak menyangka, bahwa rasanya akan senikmat ini. Lampu di dalam kamar itu masih menyala dengan terang dan Nickolas bisa melihat jelas ada bercak merah di atas ranjang pergumullan mereka.
Nick tau ini adalah yang pertama kali untuk Naina, juga pertama kali untuknya.
Diantara penyatuan itu ada sebuah fakta yang terungkap tanpa perlu dijelaskan. Dessahan keduanyalah yang menjelaskan semuanya.
Ah kakh Nickh, rintih Naina. Tubuhnya bergetar hebat saat dia merasakan pelepasan pertamanya, lemas seketika sementara kak Nickolas masih belum tumbang.
"Aku akan berhenti sampai kamu teriak minta ampun," goda Nickolas.
"Jahath," balas Naina yang kini nafasnya makin terengah.
"Ternyata ranjang pilihanmu sangat enak."
"Kak Nickolas!" kesal Naina. Tak ingin terus digoda seperti ini, Naina jadi bertekad untuk membuat sang suami mengeluarkan hasratnya juga. Jadi dia bergerak untuk merubah posisi mereka, membuat sang suami yang kini berbaring dan dia di atas menguasai.
"Sekarang akuh yang akan membuat kak Nickolas berteriak meminta ampun," ucap Naina penuh tekad.
"Benarkah? aku akan lihat usaha mu," tantang Nickolas.
Naina mulai bergerak perlahan dan Nickolas menikmati semuanya.
Semalam semuanya terasa begitu indah. Tapi Naina harus rela mengaku kalah sebab sang suami berulang kali terus menguasai dirinya. Harga dirinya sebagai wanita malam sudah diruntuhkan oleh sang suami. Nick bilang justru dia yang lebih ahli.
Sementara Naina berulang kali menuntut pertanggungjawaban, mana? Katanya sang suami impoten, tapi kenapa kuat sekali?
Mereka berselisih dan menyelesaikan semuanya dengan penyatuan tersebut. Sampai malam berakhir dan pagi yang cerah menyapa.
Hari juga bergulir sampai dimana Naina telah siap untuk bertemu dengan dokter Gracia. Naina sudah putuskan untuk memaafkan semua yang telah terjadi. Termasuk dengan dokter Gracia.
Dia tak ingin ada lagi yang mengganjal di dalam hatinya. Jadi kesalahan Dokter Grac atas sang ibu akan dia maafkan, namun hukuman karena kelalaian dokter Grac sebagai seorang dokter akan tetap berlanjut.
Tiba di kantor polisi, mereka langsung menuju ruang temu. Gracia sudah menyesalkan semua yang terjadi. Dia benar-benar ingin memohon ampunan dari Naina. Tak ingin hukuman yang dia terima jadi berat. "Aku salah Nai, aku yang membuat ibumu terkena serangan jantung. Aku justru lari dan tidak menangani ibu Wilda," jelas Gracia dengan air mata yang mengiringi.
Entah sudah berapa Minggu dia ditahan, hidupnya benar-benar hancur. Terlebih semua keluarga pun merasa kecewa dengan apa yang dia lakukan.
"Maafkan aku Nai, maafkan aku dokter Nick. Aku mohon," katanya dengan lirih.
Nickolas pilih diam, dia telah menyerahkan semuanya pada sang istri.
"Iya, aku memang tidak layak jadi seorang dokter Nai. Maafkan aku," balas Gracia.
Naina membuang nafasnya dengan kasar. Ingin menangis namun dia tahan. "Sekarang semuanya sudah berakhir, kita tidak perlu saling menyalahkan satu sama lain. Setelah kasus ini selesai aku juga berharap kamu bisa memulai hidup yang baru. Lantas menemukan kebahagiaan mu sendiri," kata Naina dengan tenggorokannya yang tercekat, saat mengucapkan kalimat itu hatinya memang berdenyut nyeri, namun setelahnya ada perasaan lega di dalam hati yang ia rasakan.
Sementara Gracia tangisnya makin jadi, makin sesak jantungnya sampai terasa ingin pecah. Dia menunduk tak kuasa menatap wajah Naina, dan air mata terus jatuh ke atas pangkuannya sendiri.
"Tidak ada lagi yang ingin aku katakan, aku akan pergi sekarang," ucap Naina, pamit.
"Terima kasih Nai, maafkan aku," mohon Gracia, dia menundukkan kepalanya semakin dalam. Dia memang tak melihat secara langsung saat Naina dan dokter Nickolas bangkit dari duduk. Namun Gracia bisa merasakan dengan jelas jika kedua orang itu telah pergi.
Meninggalkannya di tempat yang layak, seorang dokter yang telah mengingkari sumpahnya sendiri. Pasien kritis di depan mata namun dia justru lari dan menghindar, lalu berasumsi bahwa ini semua adalah takdir.
Tiap kali ingat kesalahannya itu, Gracia selalu menangis dan membodohi diri sendiri. Andai bisa memutar waktu Gracia benar-benar ingin memperbaiki hidupnya. Langsung sadar bahwa dokter Nick tidak pernah menaruh hati padanya sejak awal. Sebab pria itu selalu dingin dan mengacuhkan dia.
Harusnya Gracia bisa mengendalikan perasaannya sendiri, hingga cemburu tak akan menepis akal. "Maafkan aku ibu Wilda, maafkan aku. Semua kata-kataku tidak benar. Naina adalah putrimu yang paling baik," kata Gracia, dengan tangis yang makin pilu.