Secret Agreement

Secret Agreement
SA Bab 55 - Berbalas Mengucapkan Kata



"Kenapa hanya diam? Hem? Jangan pura-pura tidur," kata Nickolas, dia mengigit telinga Naina agar sang istri berhenti untuk pura-pura tidur. Dan gigitan itu tentu berhasil membuat Naina bersuara ...


"Ahk sayang," kesal Naina, saat merasakan sakit dan geli sekaligus.


"Aku tau apa yang kamu pikirkan," ucap Nickolas kemudian dan membuat suasana jadi kembali hening.


Namun Naina coba bertanya sebelum sang suami kembali berucap, "Memangnya apa yang aku pikirkan?" tanya Naina.


"Ketakutan mu, kamu takut mamaku tidak menyetujui hubungan kita. Kamu takut Keluarga ku tisak akan memberikan restu. Iya kan?" tanya Nickolas, sebab pertanyaan-pertanyaan seperti itu juga beberapa kali muncul di dalam benaknya.


Tapi sungguh, selama ini bukan tentang restu yang jadi pertimbangannya. Selama ini yang Nickolas pikir hanyalah tentang hatinya sendiri. Bernarkah dia telah siap memulai hubungan yang baru?


Sementara tentang restu dia yakin keluarganya tak akan sulit untuk memberi.


Dan mendengar ucapan suaminya tersebut, Naina makin terdiam. Makin sadar diri.


"Nai, jangan pernah berkecil hati dengan masa lalumu. Saat itu kamu bukan sedang bersenang-senang, tapi sedang berjuang untuk pengobatan ibu," kata Nickolas.


Naina jadi menangis saat mendengar ucapan tersebut.


"Aku juga bukan manusia yang sempurna, jika orang-orang tau aku impoten pasti mereka akan menghinaku, menggunakan kelemahanku untuk menjatuhkan posisiku di rumah sakit. Keluargaku pun akan jadi bahan olok-olok."


"Jangan bicara seperti itu sayang," balas Naina, dengan suaranya yang sesenggukan dia bicara seperti itu. Juga naik dan memeluk leher sang suami. Naina tau dokter Nickolas bicara seperti itu hanya untuk menenangkannya, sampai rela merendahkan harga diri demi mengangkat harga dirinya.


"Ayo kita simpan rahasia ini sampai mati, keluarga ku tidak akan pernah tau tentang masa lalu mu, juga masa laluku. Aku akan selalu menjaga harga dirimu, Nai," janji Nickolas.


"Ssstt, sudah ah jangan bicara lagi," kata Naina pula, tak ingin sesumbar atas semua yang terjadi diantara mereka. Biarlah semuanya berjalan tanpa ada janji yang mengikat.


Agar suaminya diam, Naina pun mencium lebih dulu bibir suaminya tersebut. Bahkan menindih dokter Nickolas, lalu melumaat sampai sang suami membalas. Ciuman lembut hingga lidah pun ikut bermain, sampai tangan Nickolas menelusup masuk ke dalam baju dan menyentuh dadda istrinya. Dari atas sini Naina bisa merasakan bahwa senjata sang suami mulai membesar, keras dan terasa kokoh, sampai membuatnya tak tahan untuk tidak menggeseknya.


Pergerakan Naina terhenti saat bokkongnya di remas oleh sang suami, "Katanya malu ada ibu, kenapa jadi liar sekali," kata Nickolas.


Naina mencebik dan malu sendiri, akhirnya dia turun dari atas tubuh sang suami dan kembali tidur dengan posisi saling memeluk.


"Aku mencintaimu, Nai," kata Nickolas, tulus tanpa butuh tutorial.


"Jangan bohong."


"Aku mencintaimu."


"Sstt!"


"Besok setelah mommy Aresha menangani ibu, aku akan mengatakan tentang pernikahan kita."


"Jangan!" balas Naina dengan cepat, dia juga mendongak hingga tatapan kembali bertemu.


"Kenapa?"


"Jangan dulu, nanti saja."


"Apalagi yang kamu tunggu."


"Nanti dulu, aku masih takut."


"Nanti kapan?"


"Sayaaangh, janganh besok, yah?"


"Kapan?"


"Sayanghh," rengek Naina, dia tidak tau kapan siapnya, tapi jangan besok, sebab takut ini begitu menguasai diri.


Cup! Nickolas mengecup bibir Naina sekilas. "Aku mencintaimu," kata Nickolas.


"Aku juga mencintaimu," balas Naina, akhirnya mereka berbalas mengucapkannya kata cinta.