
Naina mencebikan bibirnya setelah sang suami pergi, dengan wajah yang ditekuk seperti itu dia pun mendekati ranjang sang ibu.
Awalnya ingin membicarakan yang manis-manis tentang pernikahannya dengan ibu Wilda, tapi sekarang malah merasakan pernikahan yang pahit.
Dokter Nickolas baru sekali bertemu dengan dokter Gracia, namun mereka langsung tidak saling sentuh seperti ini.
"Sepertinya aku harus mulai membiasakan diri tanpa sentuhan dokter Nickolas," gumam Naina. Dia tatap wajah ibunya yang selalu sama setiap hari. Hanya diam tanpa ekspresi apapun, tidur yang begitu lama.
"Bu, meskipun tanpa dokter Nickolas tapi aku janji, aku akan tetap berusaha untuk membahagiakan hidupku sendiri," kata Naina. "Karena itulah ayo bangun, lihatlah aku yang sudah hidup bahagia. Aku tidak pernah menangisi ayah," ucapnya kemudian.
"Kita tidak butuh pria itu lagi, kita akan hidup berdua dengan bahagia selamanya," timpal Naina.
Berulang kali dia meyakinkan sang ibu bahwa semuanya telah baik-baik saja, kini Naina hanya butuh sang ibu untuk sama-sama menikmati kehidupan yang lebih baik.
Saat sore menjelang, ponsel Naina di atas meja berdering. Suaminya menghubungi.
"Kamu pulang tidak?" tanya Nickolas.
"Tidak Dokter, jika dokter ingin pulang pulanglah," jawab Naina.
"Kamu tidak ingin aku menginap juga?"
"Mau," balas Naina singkat, namun jawaban itulah yang ingin Nickolas dengar. Seharian ini hubungan mereka terasa dingin sekali, Nickolas tidak suka. Dia benci yang seperti ini.
Dia merindukan Lauranya.
"Baiklah, aku akan datang ke kamarmu sekitar jam 8 malam," kata Nick.
"Apa tidak masalah Dokter datang ke sini?" tanya Naina, dia takut ketahuan.
"Kamu sudah pindah ke kamar 1 Nai, di sana tidak terlalu banyak perawat dan pengunjung yang berkeliaran. Selesai kunjungan perawat akan kembali ke post mereka masing2."
"Ya sudah, tapi awas kalau ketahuan."
"Hem," balas Nickolas singkat. Selesai membuat kesepakatan panggilan telepon itu pun terputus. Akhirnya ada senyum yang terukir di bibir sepasang suami istri tersebut, karena berencana akan menghabiskan malam bersama.
Senyum Naina yang malu-malu akhirnya pecah saat mendengar suara pintu yang diketuk. Jadi dengan segera dia membuka dan melihat dokter Herli ada di depan sana.
"Aku hanya ingin mengantarkan mu minuman dingin, cuaca hari ini panas sekali," kata dokter Herli. Dia menyerahkan minuman dingin yang dia bawa. Ada rasa coklat dan strawberry lengkap dengan ice cream di atasnya, semuanya untuk Naina.
"Terima kasih Dokter," ucap Naina lagi.
Dan tiap kali Naina menunduk untuk mengucapkan kata terima kasih itu, Herli selalu tersenyum dibuatnya.
"Masuklah, mikmati minuman mu," ucap Herli, dia memang mendekati secara perlahan. Tidak langsung menunjukkan niat hatinya. Anggap saja ini pun masa-masa pendekatan untuk mereka berdua. Setelah mengatakan hal itu Herli pun pergi dengan memberikan senyumnya pada Naina.
Saat dokter Herli sudah menjauh, Naina baru sadar jika dia tidak boleh dekat-dekat dengan pria itu oleh suaminya.
"Tapi kan sayang kalau menolak makanan dan minuman seperti ini," gumam Naina, cari pembelaan sendiri.
Dia lantas menggeleng pelan, merasa tak ada yang salah. Naina masuk dan langsung menikmati semua pemberian dokter Herli. Enak sekali, membuatnya tersenyum, juga terenyuh. Ternyata dokter Herli sangat baik dan pengertian.
Tepat di jam 8 malam, akhirnya pintu ruangan itu dibuka oleh Nickolas, dia langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
Naina yang masih berada di dalam kamar mandi tidak mengetahui kedatangannya.
Nick datang dengan membawa makanan dan minuman pula untuk mereka makan malam, namun kemudian tatapannya terkunci pada paper bag Starbuckss di atas meja.
Langsung curiga jangan-jangan itu dari Herli.
Jadi saat Naina keluar dari dalam kamar mandi, dia langsung disambut dengan tatapan Nickolas yang tajam.
"Kamu yang beli ini?" tanya Nick langsung, bahkan sebelum Naina sempat bicara untuk menyapa.
Pertanyaan yang membuat Naina menelan ludah. "Bukan, itu dari dokter Herli," balas Naina, dia tak bisa berbohong, takut untuk bicara dusta.
Naina bisa mendengar dengan jelas helaan nafas sang suami yang kasar, Naina tahu jika kini suaminya sedang marah.
"Itu hanya makanan, tidak lebih," kata Naina.
"Apa kamu juga menggodanya?" tanya Nick, dan pertanyaan itu sakit sekali di telinga Naina.
Ternyata Nickolas masih menganggapnya sebagai pelaccur, yang dengan mudahnya menggoda semua pria.
Naina sontak tertegun di tempatnya berdiri, urung untuk maju dan memeluk sang suami.