Secret Agreement

Secret Agreement
SA Bab 51 - Seperti Diawasi



Naina kembali ke kamar sang ibu dengan harapan yang lebih besar, pembicaraannya dengan dokter Herli cukup membuatnya merasa tenang.


Kini Naina akan berbagi tentang kisah hidupnya yang indah, tentang dokter Nickolas yang jadi penerang di hidup gelap gulitanya. Naina akan menceritakan itu semua kepada sang ibu.


Jadi dengan bibirnya tersenyum lebar Naina pun masuk ke dalam kamar itu.


Deg! "Astaga!" kaget Naina, saat dokter Nickolas sudah duduk di sofa. Entah sejak kapan sang suami berada di sana. Bahkan dokter Nickolas tidak mengirimnya pesan tentang kedatangannya ke sini. Padahal sejak tadi Naina pun memegang ponselnya.


"Dokter," ucap Naina, menyapa sekaligus kembali melanjutkan langkahnya yang terjeda.


"Kunci pintunya," titah Nick.


Naina yang sudah berjalan maju jadi mundur lagi untuk menutup pintu tersebut. "Kenapa tidak bilang jika datang ke sini?" tanya Naina, dia mana tau jika saat ini suaminya tersebut sedang merasa cemburu.


Pikir Naina semua baik-baik saja, mungkin dokter Nickolas ingin membicarakan tentang dokter Gracia. Malah pemikiran seperti itu yang ada di dalam benaknya.


"Kenapa lama sekali? biasanya kamu tidak pernah makan selama ini? Apa karena ditemani oleh dokter Herli jadi kamu mengulur waktu?" balas Nickolas saat sang istri sudah duduk di sampingnya. Dia balas pertanyaan Naina dengan banyak pertanyaan, bahkan lebih banyak. Sampai Naina bingung sendiri mau jawab yang mana dulu.


"Apa?" tanya Naina cengo.


Nickolas yang ingin marah jadi urung saat melihat wajah polos istrinya ini. Yang ada dia justru mengusap wajah Naina dengan kasar.


"Tadi tanya apa? Dokter bertanya banyak sekali, aku sampai bingung sendiri," kata Naina kemudian.


"Kita hanya berdua, Kenapa memanggil ku dokter dokter dokter terus."


"Kan ada ibu," balas Naina lirih, bahkan menunjuk sang ibu yang ada di atas ranjang sana. Dari tempat mereka duduk ranjang itu terlihat dengan sangat jelas.



Padahal di hubungan ini harusnya dia yang berjuang, tapi dia takut untuk memulai semuanya dengan serius. Nickolas tidak ingin kembali merasa dikhianati.


"Jangan terlalu dekat dengan dokter Herli, aku tidak suka melihatnya," kata Nickolas dengan suara yang lebih lembut dari beberapa saat lalu.


"Lalu kenapa tadi pergi duluan, padahal aku belum selesai makan. Dokter yang membuatku hanya berdua dengan dokter Herli," balas Naina.


"Jangan membantah ku."


"Iya iya," balas Naina pasrah, jika biasanya yang tidak pernah salah adalah wanita, kini peraturan seperti itu tidak berlaku. Kini yang tidak pernah salah adalah dokter Nickolas. Apapun ucapannya, apapun perbuatannya adalah benar.


Sesaat tak ada yang mereka bicarakan lagi, keduanya hanya saling tatap seolah bingung mau apalagi. Nickolas ingin memeluk, ingin pula mencium istrinya, tapi merasa tak enak hati dengan ibu mertua di atas ranjang sana. Sebab ibu Wilda belum tau tentang pernikahan mereka.


"Dokter mau minum?" tawar Naina kemudian, jadi kikuk sendiri juga. Sebab ini adalah pertama kalinya mereka bersama di hadapan sang ibu.


Meskipun ibu Wilda masih koma, tapi keduanya sama-sama merasa seperti diawasi.


"Tidak, aku akan pergi sekarang," pamit Nickolas.


Hening lagi sesaat, sama-sama tak ingin berpisah dengan dingin seperti ini. Belum apa-apa keduanya sudah merindukan hubungan panas mereka.


"Baiklah," jawab Naina pula, dia bahkan bangkit lebih dulu dari duduknya lalu di susul oleh dokter Nickolas.


Canggung dan hanya mampu saling tatap, akhirnya mereka berpisah. Nickolas keluar dari ruangan tersebut.