
"Duduklah yang benar, makan sarapan mu," kata Nickolas. Dia tidak terpancing dengan godaan istrinya tersebut.
Tau kenapa? karena kini Nickolas telah benar-benar mencintai Naina. Dia tidak hanya menggunakan sang istri sebagai alat untuk sembuh. Namun Nickolas pun ingin memperlakukan Naina dengan layak.
Baginya saat ini bukan waktunya untuk merengkuh tubuh sang istri di atas ranjang. Tadi malam saja Nickolas masih mendengar Naina yang mengigau memanggil ibunya.
Jadi Nick tak ingin buru-buru, toh mereka tak akan pernah pisah. Mereka akan hidup bersama selama-lamanya, menjadikan pernikahan ini pertama seumur hidup.
"Iih, sayangh dingin sekali," kata Naina kesal, bibirnya mengerucut ingin dicium. Tapi bukannya dicium, hidungnya justru ditarik.
"Ayo," ajak Nick. Dengan membawa dua gelas berisi minuman hangat dia lebih dulu mendatangi meja makan. Meletakkan gelas itu di atas meja dan menarik kursi untuk Naina duduk.
Naina pun patuh, pada akhirnya mereka duduk di kursi masing-masing. "Minum dulu sedikit, hangatkan perutmu," titah Nickolas.
Naina mengangguk dan mulai meminum sedikit demi sedikit, sampai rasa hangat itu mengaliri tenggorokannya dan perut. Rasanya memang sangat menenangkan.
"Enak," kata Naina dengan bibir tersenyum lebar.
Nickolas yang gemas mengelus puncak kepala istrinya dengan lembut.
"Terima kasih," kata Naina tiba-tiba.
"Jangan diteruskan, aku tidak ingin kamu menangis lagi," kata Nickolas.
Tapi begitu saja Naina malah menangis lagi, tapi sekarang dengan bibir yang tersenyum lebar. Dan Nickolas yang selalu menghapus air mata istrinya itu.
"Aku sedang memikirkan, kebaikan apa yang dulu pernah aku perbuat. Sampai aku seberuntung ini, memiliki seorang suami yang sangat menyayangi aku, tampan dan juga kaya raya," ucap Naina setelah tangisnya reda.
"Pasti banyak kebaikan yang sudah kamu lakukan, sampai tidak menyadarinya."
"Apa kak Nickolas juga merasa beruntung memiliki aku?"
"Tentu saja."
"Kenapa?"
"Ahhh kenapa manis sekali kata-katanya."
"Jangan banyak bicara, ayo makan."
"Setelah ini makan aku ya?"
"Nai!" suara Nickolas terdengar lebih tinggi dan bukannya takut Naina malah tertawa.
Pagi ini keduanya sarapan dengan tenang, setelahnya Naina membuka beberap jendela dan membiarkan angin sepoi-sepoi pagi itu memasuki apartemen.
Setelahnya dia duduk di sofa ruang tengah dan membuka tablet sang suami. Nickolas memerintahkan Naina untuk mengganti beberapa perabot apartemen ini. Nickolas ingin suasana apartemen ini diubah sesuai dengan keinginan sang istri.
Barang-barang lama nanti akan kembali dijual.
Naina semangat sekali, apalagi setelah sang suami mengatakan padanya untuk tidak lihat harga. Cukup pilih yang Naina suka.
"Sayangh, apa boleh jika aku lebih banyak memilih yang warna merah muda?" tanya Naina.
"Hem, boleh," balas Nick, dia sedang sibuk hendak menghidupkan musik. Agar suasana tidak terlalu sepi dan lebih segar.
Saat Naina sedang menggulir tablet tersebut malah muncul iklan pembesar payudaara. "Kak Nickolas, daddaku sudah besar belum?" celetuk wanita itu tanpa disaring lebih dulu.
Tapi sepertinya Nickolas sudah paham perangai istrinya itu, jadi dia tidak merasa terkejut sedikitpun. Bahkan menanggapinya dengan sangat santai.
"Memangnya kenapa?" tanya Nick. Sebuah lagu yang menenangkan akhirnya dia putar, menyebar di ruang tengah itu dengan lembut.
"Ada iklan pembesar payudaara, jika kurang besar aku ingin beli ini juga."
"Tidak usah, tugas untuk membesarkan daddamu adalah tugasku," balas Nick. Dia akhirnya duduk di samping sang istri.
Naina lantas membusungkan daddanya, seolah meminta sang suami untuk mulai menjalan tugas.