
Tepat di saat matahari tenggelam, Naina telah tiba lagi di rumah sakit. Dia membawa sebuah paper bag ditangannya. Dia peluk erat paper bag itu dan berjalan cepat menuju kamar sang ibu.
Ketika masuk ke dalam sana, Naina kini tidak disambut dengan senyuman. Melainkan wajah yang terlihat cemas dari ibu Wilda.
Kabar tentang Nickolas yang seorang direktur utama rumah sakit saja sudah membuatnya tercengang, dan tadi Naina mengatakan bahwa anaknya tersebut akan membelikannya satu set perhiasan.
Diantara rasa percaya dan tidak, kini ibu Wilda melihat anaknya datang dengan sebuah paper bag di tangannya. Naina juga tersenyum lebar sekali.
"Bu," sapa Naina, dia buru-buru mencuci tangannya di westafel, lalu menghampiri sang ibu dan duduk di tepi ranjang.
"Lihat yang aku bawa, ini adalah hadiah untuk ibu," kata Naina, dia membuka paper bag yang dibawanya, mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berwarna hitam. Kotak itu langsung dia buka tepat di hadapan sang ibu. Kalung, anting, cincin dan gelang yang dihiasi berlian. Berkelip indah sampai membuat ibu Wilda berkaca-kaca, masih saja tak menyangka ini semua ada di hadapannya.
"Da-darimana kamu mendapatkan uang untuk membeli ini Nai?" tanya ibu Wilda, sampai terbata bicaranya.
"Bu, sekarang kita tidak hanya berdua. Ada kak Nickolas," jawab Naina.
"Apa Nickolas tau jika kamu membeli ini semua?"
"Tentu saja tau, ini kak Nickolas yang belikan. Sebelum aku pergi tadi, kak Nickolas sudah menghubungi pihak toko perhiasan. Saat aku datang aku hanya tinggal memilih yang aku suka," jelas Naina apa adanya, sebelum dia membeli perhiasan ini Naina memang lebih dulu menghubungi sang suami.
Sungguh, jika tanpa izin Nickolas dia pun tak akan berani mengeluarkan uang dalam jumlah yang besar. 1 set perhiasan ini harganya tak main-main, nyaris menyentuh angka 1 miliar.
Tapi Nickolas bukannya melarang, malah meminta maaf sebab tak bisa menemani. Lalu berjanji kelak mereka akan pergi berdua untuk beli perhiasan khusus untuk Naina.
Memiliki Nickolas di dalam hidupnya, adalah sebuah keberuntungan yang tak terkira bagi Naina.
"Ibu tidak percaya padaku? Ingin ku panggil kak Nickolas ke sini?" tanya Naina lagi, dia benar-benar ingin menunjukkan pada sang ibu bahwa kini mereka telah bahagia.
Mereka tak butuh pria badjingan yang telah membuang mereka, kini mereka bisa hidup dengan baik. Hanya tentang hal ini yang dia ingin ibunya mengerti.
Naina yang tak ingin mereka sedih-sedih terus pun mulai memasangkannya perhiasan itu pada sang ibu. Mulai dari cincin yang begitu indah.
"Ya Tuhan, ini indah sekali Nai. Ibu seperti tidak pantas memakainya," kata ibu Wilda.
"Kata siapa tidak pantas, ibu sangat cantik saat memakai perhiasan ini," balas Naina.
"Sudah, pakai cincin saja, yang lainnya di simpan," kata ibu Wilda lagi saat Naina hendak mengambil gelang di dalam kotak perhiasan tersebut.
"Baik, Bu," jawab Naina, dia tersenyum lebar. Senang saat melihat ibunya bisa tersenyum seperti ini. Apapun akan Naina lakukan demi kebahagiaan sang ibu.
Sang ibu yang tetap bersamanya disaat kedaaan paling sulit, tidak pergi dan lepas tanggung jawab begitu saja seperti pria badjingan itu. Sekarang giliran Naina yang tak akan pernah meninggalkan ibunya. Bahkan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakan sang ibu pula.
*
*
Malam pun bergulir.
Pagi ini saat perawat Ami memeriksa keadaan ibu Wilda dia langsung melihat ke arah cincin di jari manisnya.
"Cincin ibu indah sekali," kata perawat Ami. Ibu Wilda pun tersenyum saat mendapatkan pujian tersebut.
"Itu cincin KW kak, aku yang belikan," sahut Naina buru-buru. Dia tak sadar bahwa ucapannya itu membuat senyum sang ibu jadi hilang.
Diantara rasa bahagia mereka, nyatanya tetap saja ada rasa yang mengganjal di dalam hati. Sebab pernikahan ini masih disembunyikan dan membuat ibu Wilda mulai berpikir banyak hal.