
Huh! Nickolas membuang nafasnya dengan perlahan, lupa jika di sini ada kedua orang tuanya, masih ada dokter Alisya dan juga dokter Hamka.
Mulutnya seketika terdiam saat mendengar pertanyaan ibunya tersebut. Tapi pergi begitu saja juga membuat Nickolas tidak tenang. "Ada sesuatu yang tertinggal, Dokter. Aku akan masuk lebih dulu, Dokter silahkan tunggu di ruanganku," ucap Nickolas, dia memanggil ibunya sendiri dengan sebutan Dokter, seprofesional itu Nickolas.
Huh! Kini gantian daddy Rayden yang membuang nafasnya dengan kasar, sebab merasa kecewa. Dia kita Nickolas akan mengakui semuanya. Tapi malah lagi-lagi berkilah.
"Baiklah," jawab mom Aresha singkat. Dia dan semua orang akhirnya pergi lebih dulu dari sana, meninggalkan Nickolas seorang diri.
Dan setelah semuanya pergi, Nickolas pun segera masuk kembali ke dalam kamar sang istri, mengunci pintu seperti biasanya.
Nickolas melihat Naina yang sudah memeluk ibunya, menangis, lalu berulang kali memanggil ibu.
"Bu, akhirnya ibu sadar, ayo Bu kita semangat lagi, kali ini pasti sembuh," ucap Naina, kalimat yang terdengar penuh harapan di telinga Nickolas.
Namun ucapan Naina itu tidak ditanggapi apapun oleh sang ibu, ibu Wilda hanya mampu menatapnya dengan kedua mata yang berkaca-kaca, sementara bibirnya sedikit mengulas senyum kecil. Belum mampu untuk bicara sepatah katapun, meski hanya untuk menyebut nama sang anak.
"Nai," panggil Nickolas dan sontak membuat Naina menoleh ke belakang, terkejut sebab sang suami berada di sini. Dia pikir dokter Nickolas ikut pergi bersama dengan yang lain.
"Dokter Nick, kenapa anda di sini?" tanya Naina.
Panggilan dan pertanyaan yang membuat tatapan Nickolas jadi dingin. Naina yang sadar jika dia salah langsung memperbaiki semuanya, "Maaf sayang, tapi kenapa di sini? Bagaimana dengan yang lain," tanya Naina kemudian.
"Semua orang sudah pergi," balas Nickolas singkat, dia telah berdiri di samping Naina yang duduk, dia melihat ke arah ibu Wilda dan membuat keduanya saling tatap sejenak, sebelum ibu Wilda memutuskan untuk memejamkan matanya. Bukan koma melainkan tidur, padahal selama ini dia sudah lama tak sadarkan diri, namun ketika kesadaran itu kembali rasanya jadi sangat mengantuk, ingin segera tidur.
"Bu," panggil Naina yang kembali cemas.
"Ibu hanya tidur Nai, nanti saat dia bangun ibu pasti sudah bisa memanggil namamu," jelas Nickolas.
"Benarkah?"
"Iya."
Hening sesaat, Naina menatapi ibunya dan Nickolas menatapi sang istri.
Sampai akhirnya Nickolas menarik tangan Naina agar bangkit, dia bawa sang istri untuk duduk bersama di sofa.
"Terima kasih sayang, kamu melakukan banyak hal untuk ibu," kata Naina.
"Jadi ciuman ini bukan karena kamu mencintai aku, tapi untuk terima kasih tentang ibu?" tanya Nickolas.
"Sayang kenapa sih? Sensitif sekali, harusnya aku yang seperti itu," balas Naina pula, suaminya ini sekarang gampang sekali marah, gampang sekali salah paham. Dan obatnya hanya butuh dia jadi binnal.
Jadi Naina kembali mencium dan memainkan lidahnya, barulah Naina merasakan sang suami yang memeluknya erat.
"Apa yang kamu bicarakan dengan Daddy di depan tadi? Tidak mungkin kalian hanya saling diam kan?" tanya Nickolas, mereka bicara dengan nada lirih, tak ingin menganggu tidur sang ibu.
Naina juga sudah berada di pangkuan Nickolas, jadi meski bicara dengan suara pelan masih mampu di dengar dengan jelas.
"Tuan Rayden ingin sekali kamu segera menikah," jawab Naina jujur.
"Kenapa malah membicarakan aku?"
"Awalnya bukan itu, awalnya juga bicara tentang ibu, tapi ujungnya adalah keinginannya itu."
"Aku katakan sekarang ya? Jika kita sudah menikah."
"Jangan sayang, aku yakin mereka akan kecewa jika mendengar tentang kita. Aku takut. Lalu bagaimana dengan ibu?" cemas Naina.
"Apapun pendapat mereka pernikahan kita tidak akan berubah Nai, kamu tetap istriku."
"Jangan sekarang, setidaknya setelah ibu keluar dari rumah sakit. Ya?" pinta Naina, sangat memohon tentang hal ini. Dia tak ingin kabar pernikahan ini akan tersebar di seluruh penjuru rumah sakit, lalu orang-orang akan menggunjinnya sampai sang ibu mendengar. Naina tak ingin hal itu terjadi.
Dan Nickolas coba memahaminya.
"Biar saja dirahasiakan lebih dulu, yang penting kita tetap bersama, iya kan?" rayu Naina dan Nickolas mengangguk.
Nickolas juga mencium bibir istrinya lagi, lalu menyesap leher Naina sampai membekas tanda merah. Dan Naina hanya mampu mencengkram pundak sang suami sebab tak bisa mendessah.