
Nickolas memegang setir kemudi mobilnya dengan sangat hati-hati, sebab beberapa kutek yang terpasang di kukunya masih ada yang belum kering. Sementara sang istri berulang kali berpesan bahwa kutek ini jangan sampai rusak.
Sungguh, Nick tidak merasa keberatan sedikitpun tentang hal ini. Dia justru merasa senang karena bisa membuat istrinya bahagia. Naina yang saat ini sedang berjuang mengandung buah cinta mereka.
Karena mengemudi dengan hati-hati jadi Nicholas membutuhkan waktu yang cukup lama untuk tiba di rumah sakit. Tepatnya jam 10.30 siang dia baru tiba.
Di tempat lain Aylin hari ini pulang lebih cepat dari jadwal yang ada. Sementara Kiara tetap sesuai dengan jadwalnya dan pulang di jam 4 sore.
"Aylin, jangan lupa beli pesanan kak Nai. Makanan yang sedikit pedas, terserah beli apa saja," kata Kiara.
Tadi Aylin mendatangi sang adik untuk pamit pulang lebih dulu, karena itulah sekarang mereka bertemu. "Tadi pagi saja makan saus sedikit kak Nai sudah kepedasan, sekarang malah minta makanan yang pedas," balas Aylin, bingung sendiri dengan keinginan kakak iparnya itu.
"Tidak usah banyak protes, nanti juga jangan ditanya ini benar atau tidak makanannya. Langsung saja diberikan dan katakan selamat menikmati," balas Kiara.
"Hem," jawab Aylin singkat. "Masuklah ke kelasmu, aku akan keluar. Asisten Sam pasti sebentar lagi datang," timpal Aylin pula. Asisten Sam adalah asisten pribadi sang ayah. Daddy Rayden sudah berada di perusahaan dan tidak bisa menjemput Aylin pulang, karena itulah Daddy Rayden memerintahkan sang asisten untuk menjemput anaknya.
"Jangan lupa beli makanan kak Nai."
"Iya iya!" balas Aylin ketus. Dia mulai berjalan dengan semua pesona yang Aylin pula. Nona muda dengan paras yang sangat cantik dan tatapannya yang tajam. Tak ada pria yang berani mendekatinya karena semua pesona itu. Apalagi jika ingat di belakang Aylin ada seorang ayah seperti Rayden Carter. Semua pria selalu berpikir dua kali untuk mendekati putri-putri di keluarga tersebut.
Tiba di depan gedung, Aylin sudah melihat mobil asisten sang ayah datang. Tapi saat keluar ternyata bukan asisten Sam yang keluar, melainkan kak Dean. Anak pertama dari asisten Sam.
"Kak Dean, dimana asisten Sam?" tanya Aylin.
"Asisten Sam tidak bisa datang, tuan Rayden memintaku untuk menjemput mu."
"Tunggu dulu, aku akan telepon Daddy," balas Aylin. Lihatlah, dengan orang terdekat saja Aylin selalu memberi jarak seperti ini. Dia seperti seseorang yang tak mudah untuk disentuh.
"Dad, apa Daddy meminta kak Dean untuk menjemput ku?" tanya Aylin setelah panggilan teleponnya dengan sang ayah tersambung.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang dengan kak Dean."
"Jangan lupa beli makanan sedikit pedas pesanan kak Nai."
"Iya Dad! Ya ampun!" kesal Aylin, tadi Kiara yang selalu memerintahkannya, dan sekarang Daddy juga.
"Pulanglah Nak, Daddy matikan teleponnya."
"Iya Dad."
Setelah panggilan itu terputus, Dean membukakan pintu untuk sang Nona muda. Dan tanpa kata Aylin langsung masuk di kursi belakang.
Mobil mulai melaju, Dean dan Aylin sama-sama terdiam menikmati perjalanan itu.
"Berhenti di depan Kak, aku mau beli makanan untuk kak Nai dulu," pinta Aylin.
"Ingin beli apa? Biar aku yang turun."
"Tidak usah, aku saja yang turun."
"Kita turun bersama."
"Tapi aku bisa sendiri, Kak."
"Tuan Rayden ingin aku selalu mendampingi kamu."