Secret Agreement

Secret Agreement
SA Bab 22 - Aku Bau Tidak?



Nickolas tidak ingin hilang kesempatan, tidak ingin menyia-nyiakan desiran yang sudah dia rasakan. Jadi saat itu juga dia menangkup wajah Naina dan diciumnya mesra.


Tangannya yang menangkup kemudian turun untuk melepaskan kancing baju Naina, sampai pundak sang wanita terpampang dengan sempurna. Naina memilih pasrah, dia hanya diam dan membiarkan sang suami bergerak sesuai dengan fantasinya sendiri. Naina bahkan tidak menolak saat tangan hangat Nickolas masuk ke dalam bra-nya secara langsung, sampai daddanya benar-benar berada di genggaman pria tersebut.


Sesaat inti Nickolas mulai mengeras, namun hanya dengan hitungan detik kembali layu seperti semula.


Dan hal itu membuat pikiran Nickolas jadi pecah, hingga menghilangkan hasrat dalam sekejap.


"Tidak bisa Naina, ini sulit."


"Tapi sudah ada kemajuan sayang, meski hanya sebentar aku bisa merasakannya," balas Naina, dia tak masalah meski sudah berantakan seperti ini.


"Aku akan membantumu," balas Nickolas ambigu, namun Naina bisa memahaminya dengan jelas.


"Jangan, aku malu," jawab Naina jujur.


"Jika menganggap aku sebagai suamimu jangan malu, aku akan senang jika melihat mu pelepasan," balas Nickolas, dia sungguh-sungguh dengan ucapannya tersebut. Dan Naina menangkap hal lain tentang hal ini. Mungkin Nickolas tidak ingin Naina jadi mencari pelampiassan di tempat lain, harus dengannya saja.


"Baiklah, tapi aku malu," jawab Naina akhirnya, dia setuju tapi tetap saja merasa malu.


Di atas sofa itu keduanya berbaring bersama, Mereka tidur miring dan Nickolas memeluk Naina dari belakang. Untuk pertama kalinya akhirnya Nickolas menyentuh inti tubuh sang istri, merasakan hal yang selama ini tidak pernah dia rasakan.


Ini semua hanyalah sentuhan yang sederhana, namun seperti membuat hubungan keduanya melangkah satu titik ke depan.


Naina merinttih penuh kenikmatan di hadapan suaminya dan hal itu membuat Nickolas tersenyum.


Bagi Naina ini adalah pelepasan terindah yang pernah dia dapatkan, jari-jari sang suami pun kini telah jadi candunya yang baru.


"Sudah ah ayo tidur, aku malu," ucap Naina, dia berbalik dan memeluk sang suami erat, menyembunyikan wajahnya di dadda bidang sang suami.


Dan di saat Naina merasa malu, Nickolas malah terkekeh puas. "Wajahmu sampai merah," balas Nickolas, dan Naina langsung memukul punggungnya.


"Diam!" kesal Naina, jadi sedikit membentak.


"Sstt, jangan berisik. Bagaimana jika ada yang mendengar di luar sana," ucap Nickolas, malah menakut-nakuti.


"Jangan membuatku takut," bisik Naina pula, kini mencubit punggung suaminya tersebut.


"Aw, sakit Naii."


"Salah Dokter sendiri, malah menggodaku terus."


Nickolas terkekeh lagi, "Tidurlah, selamat malam," ucap Nickolas.


"Selamat malam juga sayangkuh," balas Naina, dia mencium leher Nickolas pula, lalu kembali menyembunyikan wajahnya di pelukan sang suami.


"Benar kita tidur di sini?" tidak masalah?" tanya Naina lagi.


"Tidak, tidurlah."


"Iya," balas Naina singkat. Dia mulai memejamkan mata namun bibirnya masih setia tersenyum.


Malam ini cepat sekali berlalu, dan diantara keduanya selalu Nickolas yang bangun lebih dulu. Sekarang waktu sudah menunjukkan jam 6 pagi, matahari bahkan mulai nampak bersinar. Suara-suara para perawat dan pengunjung rumah sakit pun mulai terdengar meski samar-samar.


Tapi Nickolas tetap tidak membangunkan Naina, kini akhirnya dia menatap wajah wanita tersebut, dia tatap dengan intens. Tidak lagi menatap ke arah dadda yang sebenarnya masih terbuka.


Nick tidak sadar, saat dia menatap wajah itu bibirnya tersenyum kecil.


"Nai," panggil Nickolas dengan suara pelan. Kini bibirnya mengulum senyum, karena mendadak jadi lucu sendiri ssat membayangkan Naina yang gelagapan dengan keadaan mereka sekarang.


Di dalam sini mereka masih memeluk dengan penampilan yang acak-acakan, sementara di luar sana orang sudah mulai lalu lalang.


Membayangkan Naina yang akan kebingungan, Nickolas sudah ingin tertawa.


"Nai," panggil Nickolas sekali lagi, dia menggoda Naina dengan mengelus dadanya. Bukannya langsung bangun Naina malah melenguh dan mendessah. Emh ahg, katanya dan membuat Nickolas jadi terkekeh sungguhan.


Karena tawa itulah akhirnya Naina mulai mengerjabkan mata, lalu terbangun dari tidurnya.


"Dokter," panggil Naina lirih, dia kucek matanya sedikit agar pandangan ini Jadi lebih jelas.


"Bangun Nai, ini sudah hampir setengah tujuh."


"Iyah," jawab Naina dengan santainya, dia masih belum sadar Di mana posisi mereka sekarang, masih berada di ruang praktek dokter Nickolas.


"Apa kamu masih mengantuk? Ingin tidur lagi? Hem?"


"Tidak Kok, ini sudah mau bangun," jawab Naina lalu mengusap dan Nickolas lah yang menutup mulutnya. Saat Naina hendak merubah posisi tidurnya, saat itu juga dia baru sadar jika sekarang masih tidur di Safa.


"Astaga, kita dimana Dok?!" tanya Naina cemas, dia menyilangkan tangannya di depan dada dan mencoba untuk bangun.


"Di ruang praktek ku, Honey. Masa kamu lupa?" balas Nickolas , dia bangun juga hingga mereka sama-sama duduk di sana.


"Jangan menggodaku sekarang, aku tau panggilan Honey itu hanya untuk meledekku," kesal Naina, bibirnya mengerucut. Sementara Nickolas jadi sering tertawa karena Naina.


"Pengait bra mu terlepas, biar aku pasang," kata Nickolas kemudian, dia santai sekali seolah ini semua bukan masalah.


Nickolas juga membantu Naina untuk kembali memakai bajunya. Mereka pergi ke kamar mandi bersama-sama untuk mencuci wajah dan gosok gigi. Ada sikat gigi baru yang tersedia di sana dan Naina gunakan.


Setelahnya Nickolas juga yang mengeringkan wajah Naina menggunakan handuk.


"Keluar saja seperti biasa, jika ada yang bertanya katakan aku yang memanggil mu," jawab Nickolas.


"Ini masih sangat pagi, memangnya ada dokter yang bertemu dengan pasiennya sepagi ini?" tanya Naina, menuntut penjelasan.


"Ada, sejak kita bersama."


"Dokteeer," rengek Naina.


Nickolas yang sedang duduk di kursi kerjanya malah terkekeh, melihat Naina yang sejak tadi berdiri di samping jendela dan mengintip keadaan di luar sana. Benar dugaannya tadi, bahwa Naina akan kelabakan seperti ini.


Dan itu lucu.


"Kalau begitu tunggu jam 9, biar orang-orang percaya," Jawab Nickolas kemudian, terus memberi solusi.


"Tapi aku lapar," rengek Naina lagi.


"Aku akan memesan makanan, saat makanan itu tiba nanti bersembunyi lah di bawah meja ini," terang Nickolas pula, seraya menepuk meja kerjanya.


"Setuju," jawab Naina, akhirnya dia menjauh dari jendela tersebut, tidak lagi mengintip.


Bukannya duduk di sofa Naina lebih pilih untuk duduk di pangkuan suaminya. "Aku bau tidak?" tanya Naina, mereka tidak bisa mandi di sini. Karena tidak ada perlengkapan untuk mandi.


Ditanya seperti itu Nickolas langsung menciumi tubuh sang istri, leher pundak dan bahkan mengangkat tangan Naina lalu mencium ketiaknya, "Aw, geliii," pekik Naina tanpa sadar. Lalu buru-buru menutup mulut saat sadar jika sudah membuat keributan.


"Dokter sih!" bisik Naina kesal, tapi lagi-lagi Nickolas malah terkekeh.


Meraka berdua sontak terdiam saat mendengar suara pintu ruangan ini ditekuk.


Tok tok tok!