
Ketukan Nickolas yang pertama tidak mendapatkan respon apapun, jadi Gio maju dan mengetuk pintu rumah itu dengan lebih keras.
Sebuah suara yang membuat seorang pria di dalam sana langsung membuka mata dengan perasaan yang. "Sial, siapa yang bertamu di pagi buta seperti ini!" kesal Hendi. Di tertidur di sofa ruang tengah, semalam Hendi mabuk berat saat dia mendengar Naina telah menikah dengan seorang dokter. Hendi langsung berpesta, beranggapan bahwa dia pun akan ikut merasa hidup enak sang anak saat ini.
Namun pagi ini kepala Hendi begitu pusing, dia belum teringat akan Naina dan sudah dibuat kesal dengan suara ketukan pintu tersebut.
Jadi dengan kasar Hendi membuka pintu tersebut, cukup terkejut dan heran saat melihat banyak pria berbaju rapi di depan rumahnya.
"Siapa kalian?" tanya Hendi dengan suaranya yang keras, tercium aroma alkohol yang menyengat dari mulutnya.
"Aku Nickolas, suami Naina," ucap Nick dengan lantang.
Sungguh, Hendi sangat terkejut. Sepersekian detik dia sampai tidak bisa memikirkan apapun tapi lambat laun dia tersenyum ketika mengetahui sang menantu datang ke rumah ini.
"Oh jadi kamu suaminya Naina, masuklah," ucapnya, lalu mundur dan mempersilahkan Nickolas Unyuk masuk. Rumah itu begitu berantakan, bahkan banyak baju berserak di sofa ruang tamu. Hendi segera membersihkannya dan mempersilahkan Nickolas untuk duduk.
"Dimana Naina? Kamu datang seorang diri?" tanya Hendi, dia tidak penasaran bagaimana Nickolas bisa tau tentang rumah ini, jelas Naina yang sudah menceritakan semuanya.
"Naina tidak ikut, semalam dia bahkan tidak tahu jika anda menelpon," kata Nickolas dengan nada bicaranya yang terdengar formal.
"Kenapa dia tidak ikut? Dasar anak tidak tahu diri. Tapi tidak apa-apa, karena kamu sudah di sini lebih baik segera beri aku uang. Sekarang aku adalah mertuamu," balas Hendi, seenak hatinya dia bicara seperti itu. Kedua matanya makin kalap saat melihat penampilan Nickolas bak bangsawan. Bukan hanya tampan, tapi semua yang melekat pada pria itu adalah barang-barang yang mewah di mata Hendi.
"Sayangnya aku datang ke sini bukan untuk memberi uang, aku hanya ingin melihat keadaan anda."
"Apa maksud mu? Jika kamu tidak memberiku uang, maka aku akan langsung menemui Naina!" balas Hendi, entah kenapa dia begitu tak suka mendengar jawaban menantunya tersebut. Dialah yang berkuasa di sini, sebab menantu harus berbakti pada mertuanya. Sudah kewajiban Nickolas untuk memberi dia uang.
"Aku tidak akan memberikan uang sepeserpun untuk Anda, aku juga tidak akan membiarkan anda menemui Naina dalam keadaan seperti ini. Jika anda ingin hidup lebih baik, aku akan bersedia membantu," balas Nick panjang lebar.
"Jangan bicara omong kosong! Aku tidak mengerti apa ucapanmu!"
Nick juga tak akan mempertemukan ayah Hendi dengan Naina jika pria itu masih terus berambisi dengan uang.
"Hais! Apa tujuanmu datang ke sini! Jangan membual yang tidak penting! Beri aku uang dan pergilah!" usir Hendi, sumpah dia jadi merasa kesal sendiri.
Nickolas lantas bangkit dari duduknya, dia juga tidak berniat untuk berlama-lama di sini.
"Aku pamit," ucap Nickolas.
"Sialan!" maki Hendi, dia hendak menyentuh Nickolas dan mengambil uang dari pria itu, tapi dua anak buah Nick langsung menahan tubuhnya.
"Kurang ajar! lepaskan aku!" kesal Hendi.
Nickolas sudah pergi lebih dulu, dia dan Gio meninggalkan dua anak mereka di sana.
"Lepas! Kenapa kalian masih disini! pergi!" usir Hendi.
"Kami akan tetap di sini mengawasi Anda," jawab seorang penjaga.
"Hari ini ayo kita rapikan rumah ini," ucap penjaga yang lain.
Sialan! Maki Hendi di dalam hati. Bukannya mendapatkan uang, dia malah mendapatkan kesialan seperti ini.
Dasar menantu tidak berguna! Geram Hendi. Dia hendak memukul salah satu penjaga tersebut, namun gerakannya malah terbaca dan sang penjaga menendang perutnya.
Bugh! Hendi jatuh dan merasakan sakit. "Itu tidak seberapa, istri anda ibu Wilda mengalami sakit sampai akhir hidupnya," ucap penjaga tersebut.
"Sekarang bangkitlah, tuan Nickolas tidak akan pernah memberi anda uang. Yang bisa membantu hidup Anda adalah diri anda sendiri," timpalnya kemudian.