
2 Minggu kemudian.
Gracia resmi ditahan selama penyelidikan dan sidang berlangsung, dikeluarkan secara tidak terhormat dari rumah sakit Medistra. Kini kabar Gracia tersebut pun sudah diketahui khalayak umum. Semua jajaran rumah sakit tentu tak menyangka Dokter Gracia bisa berlaku demikian.
Fakta tentang pernikahan Nickolas dan Naina pun telah diketahui pula meski masih simpang siur.
2 Minggu ini keadaan benar-benar pelik. Namun Nickolas dan kedua orang tuanya menutup telinga Naina rapat-rapat. Membiarkan Naina sembuh atas semua luka yang dia derita.
Hingga perlahan Naina bisa menerima semua yang terjadi di hidupnya. Mulai ikhlas melepas sang ibu pergi dan mulai sadar bahwa banyak orang-orang yang kini menyayanginya dengan tulus.
"Nai, jangan terlalu lama mandinya! Cepat keluar!" ucap Nickolas dengan suara lebih tinggi, dia bicara di depan pintu kamar mandi. Naina sudah hampir 20 menit di dalam kamar mandi itu, entah apa saja yang dilakukan oleh sang istri. Padahal ini mandi pagi, Nickolas cemas nanti Naina malah masuk angin.
"Iya Kak!" sahut Naina di dalam sana.
Tak lama kemudian pintu itu pun terbuka dan Naina keluar dengan rambutnya yang setengah basah. Ternyata Nick masih berdiri menunggu dan memegang sebuah handuk kecil. Dia langsung bergerak untuk mengeringkan rambut istrinya tersebut, membuat Naina seketika tersenyum.
"Aku bisa melakukannya sendiri Kak."
"Kenapa lama sekali?" balas Nickolas.
"Hari ini rasanya tubuh ku kotor sekali, jadi tadi aku berendam dulu dengan air hangat," jujur Naina.
"Keringkan rambutmu menggunakan hair dryer, aku akan siapkan baju ganti."
"Kak, aku bisa mengambil baju gantiku sendiri," tolak Naina pula, tapi dibalas dengan tatapan dingin sang suami.
"Tidak ingin memakainya sekalian?" tanya Naina setelah sang suami meletakkan baju itu di atas ranjang, sementara Naina sudah duduk di meja rias dan mengeringkan rambutnya.
Pertanyaan Naina itu membuat semua pergerakan Nickolas terhenti. Sudah lama sekali dia tidak melihat Laura pada sang istri, dan sekarang secara mengejutkan dia seperti kembali menemukan Lauranya. Setelah semua kesedihan yang selama ini membelenggu.
Dilihatnya Naina yang tersenyum ke arahnya, sementara kedua tangannya masih sibuk mengeringkan rambut.
"Jangan menggodaku, perhatikan rambutmu itu," kata Nickolas.
Senyum Naina seketika berubah jadi tawa kecil. Semakin lama pikiran Naina makin terbuka, tentang takdir yang harus dia jalani. Sang ibu mungkin meninggal dengan cara yang tak baik, tapi dia akan buktikan pada ibunya bahwa dia baik-baik saja. Bahwa dia akan hidup lebih baik, hidup dengan terhormat.
Nickolas lantas keluar lebih dulu untuk membuatkan Naina minuman hangat. Sementara makanan untuk sarapan sudah siap sejak tadi.
Melihat suaminya keluar, Naina buru-buru menyelesaikan semuanya. Sudah cukup sang suami selama ini selalu melayani dia, kini giliran Naina yang ingin melayani sang suami.
Setelah sedikit merias wajahnya, Naina pun keluar dan langsung menuju dapur. Memeluk pinggang sang suami dari belakang, kak Nickolasnya sedang mengaduk minuman hangat.
"Aku tidak suka minuman hangat untuk menghangatkan tubuh, aku lebih suka pelukan," kata Naina dengan manja.
Sesaat Nickolas tersenyum mendengar kata-kata sang istri, sebelum akhirnya kembali memasang wajah serius dan memutar tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. "Duduklah di meja makan."
"Ayo, karena aku ingin duduk di pangkuan kak Nickolas."