Secret Agreement

Secret Agreement
SA Bab 43 - Aku Tidak Marah



Mommy Aresha tau di apartemen ini Nickolas tidak sendiri. Sepatu wanita di pintu masuk berjejer dengan rapi, tas kecil berwarna merah maroon pun ada pula di ruang tengah. Dia bahkan tersenyum saat melihat di balik dinding sana ada bayang-bayang seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka.


Mommy Aresha hanya memberi umpan pada sang anak, tetap Nickolas lah sang pemegang kendali. Mom Aresha hanya tak ingin Nickolas terlalu lama bermain-main. Dia dan wanita yang sedang mengintip itu juga butuh kepastian.


Jadi dengan bibir yang tersenyum lebar itu, mommy Aresha akhirnya pamit pulang. "Panggil pelayan untuk membersihkan apartemen mu, segera letakkan semua makanan itu di lemari pendingin. Mommy akan pergi sekarang, mommy harus ke apartemen Nathan juga," ucap mom Aresha.


Nickolas tak mampu menjawab apapun, dia hanya ikut bangkit dan mengantarkan sang ibu hingga ke depan.


"Cukup Nick, tidak perlu antar mommy sampai ke depan lift, kamu belum pakai baju," ucap mommy Aresha.


"Terima kasih Mom," balas Nickolas, dia justru membahas tentang semua makanan yang dibawa oleh sang ibu.


"Hem, mandilah dan sarapan."


Nickolas mengangguk. Mereka berpisah dengan mommy Aresha yang terus tersenyum lebar. Entah alasan apa yang membuatnya sebahagia itu, pembicaraan tentang Gracia, atau tentang bayangan wanita di dalam tadi.


Setelah sang ibu tak nampak lagi, Nickolas pun menutup pintu lalu masuk. Tiba di ruang tengah dia langsung melihat Naina yang berdiri menyambutnya.


Deg! jantung Nick seketika berdenyut, seolah ketahuan baru saja membuat sebuah kesalahan.


"Maaf, tapi aku sudah mendengar semuanya," kata Naina, dia masih menggunakan gaun semalam. Datang dengan kaki telanjjang, tidak memakai sandal rumah yang tersedia di bawah ranjang.


Nickolas kembali melanjutkan langkahnya yang terjeda hingga berdiri tepat di hadapan Naina.


"Aku tidak marah kok, aku sangat memahami perasaan dokter Aresha. Aku bahkan mendukung keputusannya," kata Naina lagi. Jantungnya juga berdegup, dan makin bergemuruh ketika dia mengucapkan kalimat tersebut.


"Apa maksudmu?" tanya Nickolas pula, jarak merek kini hanya satu langkah, namun Nick maju lagi hingga membuat Naina reflek mundur. Sampai pinggangnya membentur sofa.


"Do-dokter Gracia memang wanita yang baik, wanita yang sempurna untuk Dokter. Jadi wajar saja jika dokter Aresha bicara seperti itu," kata Naina, mendadak gagap sendiri.


"Jadi maksudmu sekarang aku harus mengenal Gracia lebih dalam?"


"Di-dicoba saja dulu kan tidak ada salahnya, siapa tau dokter Gracia bisa menyembuhkan dokter," jawab Naina, coba untuk bicara serius. Berpikir secara logika dan mengesampingkan tentang hatinya yang terluka.


"Kamu tidak akan melarang ku?" tanya Nick.


Naina menggeleng perlahan di awal, sebelum akhirnya dia juga bicara ... "Tidak," jawab Naina, "Aku sama seperti dokter Aresha, tidak akan setuju jika dokter kembali pada Zendaya. Tapi jika wanita itu adalah dokter Gracia, aku akan mendukungnya," timpal Naina kemudian.


Percayalah, kini daddanya sesak sekali. Namun dia paksakan diri untuk tetap membalas tatapan sang suami, juga tersenyum seperti biasa.


Sudah berulang kali Naina katakan, dia siap dengan rasa sakit hati ini.


"Dokter memang sudah tua, jadi wajar kan jika dokter Aresha ingin dokter segera menikah," ucap Naina, dia sungguh ingin mencairkan suasana tegang ini. Tak ingin hubungan bahagia mereka jadi drama tak berkesudahan. Jika memang harus berpisah ya berpisah saja, tapi membawa kenangan yang manis.


"Jadi kamu akan mendukungku jika aku mulai mendekati Gracia?"


Naina mengangguk dan tersenyum lebar.