
"Sudah Nai, ibu sudah beristirahat dengan tenang. Sekarang ayo kita pulang," ajak Nickolas. Dia memegang payung berwarna hitam untuk melindungi sang istri dari teriknya matahari siang ini. Naina memang sudah tidak menangis lagi tapi gurat kesedihan di wajahnya masih terlihat dengan jelas.
Diamnya Naina bahkan mengisyaratkan kesedihan yang tak terkira. Dengan tatapannya yang nampak kosong dia terus menatap ke arah batu nisan sang ibu.
Di dalam hatinya Naina mempertanyakan pada Tuhan garis kehidupan seperti apa yang dia dapat di dunia ini. Setelah semua usaha yang dia lakukan, bahkan sampai menjual harga dirinya ternyata sang Ibu tetap tak bisa diselamatkan.
Lama berpikir Naina kemudian menyalahkan dirinya sendiri, mungkinkah sang Ibu tidak bisa sembuh karena selama ini dia memberinya uang haram.
Naina nyaris terjatuh saking terpukulnya hati ini, namun Nickolas dengan cepat menahan tubuhnya.
"Kita pulang sekarang," putus Nickolas, dia melepaskan payung hitam di tangannya dan kemudian menggendong sang istri di depan.
Mommy Aresha sampai ikut menangis melihat pemandangan itu, dia pun bergerak untuk mengambil payung hitam yang ditinggalkan oleh sang anak. Daddy Rayden lantas mengelus punggung istrinya agar tetap kuat ketika melihat kesedihan anak-anaknya seperti ini.
Pada akhirnya mereka pun meninggalkan tempat pemakaman tersebut, pergi dengan membawa luka di dalam hati yang entah kapan sembuhnya.
Naina kembali menangis di dadda sang suami, sampai baju Nickolas basah dengan air matanya.
2 mobil beriringan meninggalkan area pemakaman, mereka semua menuju ke apartemen Nickolas.
Tiba di basement apartemen Nicholas pun kembali menggendong sang istri untuk naik ke unit apartemennya. Dia tidak membiarkan sang istri berjalan dengan membawa semua kesedihan itu sendiri.
Nickolas bukan hanya berjanji kepada Tuhan untuk selalu melindungi Naina, tapi dia juga sudah berjanji kepada Ibu Wilda bahwa selamanya akan selalu menjaga dan melindungi wanita ini.
Nickolas hanya mengangguk dan segera membawa sang istri ke dalam kamar lalu membaringkan Naina di atas ranjang.
Di luar sana Daddy Rayden menghentikan langkah sang istri yang hendak menuju dapur, dia menahan lengan mom Aresha hingga langkahnya terhenti. "Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, aku tidak ingin wanita itu masih menikmati hidupnya di saat anakku dan menantuku menderita seperti ini," ucap Daddy Rayden, dia berniat akan segera meringkus Gracia. Tak ingin membiarkan wanita itu masih bisa tertawa di atas penderitaan anak-anaknya.
Mom Aresha mengangguk, dia bahkan menangis lagi saat ingat terpukulnya Naina.
"Kamu temani anak-anak di sini, aku akan pergi sekarang," kata Daddy Rayden, dia memeluk istrinya lebih dulu. Mencium puncak kepala mom Aresha dengan penuh kasih sayang, juga mengelus punggungnya dengan lembut.
Mereka berdua juga tidak menyangka bahwa takdir bisa berubah secepat ini. Mereka pikir Ibu Wilda akan sembuh dan bisa berkumpul dengan lengkap disaat menyambut kebahagiaan tentang pernikahan Nikolas dan Naina.
Tapi ternyata takdir tidak pernah bisa mereka tebak.
"Sudah, jangan menangis lagi," kata Daddy Rayden, dia melerai pelukannya sendiri dan menghapus air mata yang mengalir di pipi istrinya.
"Kamu harus kuat agar bisa menguatkan anak-anak."
"Iya Dad," jawab Aresha patuh.
Mereka berpelukan sekali lagi sebelum akhirnya berpisah.