Secret Agreement

Secret Agreement
SA Bab 63 - Sudah Gemetar



"Bagaimana jika datang ke ruanganku?" tanya Nickolas dengan suara yang terdengar merayu. Nickolas juga membelai lembut wajah sang istri, ingin menunjukkan bahwa rindunya bukan main-main. Dia ingin mereka bersama.


Dan Naina tidak langsung menjawab, dia menoleh ke arah sang ibu yang baru saja tertidur. Biasanya ibu akan tidur selama 2 jam dan dia pikir-pikir waktu sebanyak itu bisa digunakan untuk menghabiskan waktu bersama sang suami.


Beberapa hari ini dokter Nickolas sibuk sekali untuk menangani sang ibu, Naina belum sedikitpun melayani sebagai seorang istri.


"Mau tidak?" tanya Nick lagi dan akhirnya Naina mengangguk.


"Kita pergi bersama saja, anggap lah aku yang memanggil mu ke sana."


"Jangan, sayang pergilah dulu, 5 menit setelahnya aku akan menyusul."


"Kenapa tidak bersama saja?"


"Mana ada wali pasien yang datang ke ruangan direktur utama, itu aneh sekali. Jika ke ruang praktek masih terlihat normal," balas Naina.


Nickolas terdiam, lalu menarik hidung istrinya dengan gemas. Tak ingin berdebat jadi dia setujui saja ...


"Baiklah, jangan terlalu lama," putus Nickolas pula.


Tanpa mengulur waktu lagi Nickolas pun keluar lebih dulu dari ruangan tersebut.


Berjalan dengan langkah lebar menuju ruang kerjanya di gedung sebelah. Saking ingin cepat sampai, Nickolas sampai tidak peduli dengan siapa yang dia temui, Nickolas bahkan mengabaikan beberapa sapaan yang dia terima oleh sebagai perawat.


Tatapan dan langkahnya hanya lurus ke depan.


"Kenapa dokter Nickolas buru-buru seperti itu?" gumam Gracia yang baru saja keluar dari ruang prakteknya. Di ujung sana dia lihat jelas dokter Nickolas yang jalan dengan tergesa.


Beberapa hari lalu dia sudah menanggung malu sebab gagal makan siang bersama dengan dokter Aresha dan Tuan Rayden, jadi kini dia ingin mengembalikan harga dirinya dengan kembali mendekati dokter Nickolas.


Deg! jantungnya berdenyut.


"Naina, mau kemana dia?" gumam Gracia. Semua orang sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing, jadi hanya Gracia yang mengamati seperti seorang penguntit.


Gracia reflek mengikuti Naina di belakang, dia bahkan menjaga jarak aman agar Naina tidak menyadari keberadaannya.


Tiap langkah yang Gracia ambil, selalu mampu membuat jantungnya berdegup kencang. Apalagi saat melihat Naina menuju gedung management rumah sakit ini, gedung di mana ruangan dokter Nickolas sebagai direktur utama di Rumah Sakit Medistra berada.


Kemarin-kemarin dia selalu ragu atas hubungan kedua orang tersebut, selalu menepis seolah semuanya tidak mungkin. Tapi sekarang semuanya terlihat jelas di depan mata.


Naina yang selalu menunduk tiap kali bertemu dengan orang yang dia temui, namun diam-diam wanita lugu itu justru masuk ke ruangan dokter Nickolas dengan begitu leluasa.


Gracia tidak melihat Naina yang mengetuk pintu ruangan tersebut, Dia justru melihat sebuah tangan yang menyambut kedatangan Naina. Tangan yang sangat Gracia yakini sebagai tangan milik calon suaminya.


Deg! melihat fakta itu kedua mata Gracia sontak mendelik, seolah hendak copot, menatap dengan tidak percaya.


"Astaga, ya Tuhan, tidak mungkin," gumamnya dengan suara yang sudah gemetar.


Sementara di dalam ruangan sana, Nickolas bukan hanya menyambut sang istri dengan pelukan di depan pintu, namun juga langsung mencium bibirnya setelah pintu terkunci.


"Ah pelan-pelan Dokh," ucap Naina lirih.


"Dok?"


"Kakh," balas Naina yang suaranya mulai terengah. Kualahan menghadapi ciuman sang suami.